Haji, Bersatu dalam Kalimat Tauhid

Haji, Bersatu dalam Kalimat Tauhid

Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Jutaan kaum muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci, menggemakan kalimat tauhid, mempersembahkan ibadah haji yang agung ke hadapan Allah Taala. Pada hari itu, tidak ada kebanggaan selain mendapatkan gelar sebagai tamu-tamu Allah Taala.

Nabi saw bersabda,

وَفْدُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثَلاَثَةٌ الْغَازِي وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ

“Tamu Allah ada tiga, (yakni) mujahid, haji, dan peserta umrah” (HR An-Nasa’i).

Ibadah Sarat Hikmah

Pelaksanaan haji memiliki banyak hikmah yang penting.

Pertama, haji adalah ibadah yang menunjukkan ketaatan dan pengorbanan. Hanya mereka yang kuat tekadnya yang mau berkorban untuk berhaji. Sebaliknya, mereka yang lemah keyakinan tidak akan pernah mau melakukan ibadah haji sekalipun punya kelapangan rezeki dan sehat raganya, padahal dalam hadis qudsi, Allah Swt. mengancam siapa saja yang mampu, tetapi menunda-nunda berhaji dengan ancaman yang keras.

إِنَّ عَبْدًا أَصْحَحْتُ جِسْمَهُ وَأَوْسَعْتُ عَلَيْهِ فِى الْمَعِيشَةِ تَأْتِى عَلَيْهِ خَمْسَةُ أَعْوَامٍ لَمْ يَفِدْ إِلَىَّ لَمَحْرُومٌ

“Sungguh seorang hamba yang telah Aku sehatkan badannya, Aku lapangkan penghidupannya, lalu berlalu masa lima tahun, sedangkan ia tidak mendatangi-Ku (menunaikan ibadah haji, red.), ia adalah orang yang benar-benar terhalang.” (HR Al-Baihaqi).

Kedua, ibadah haji adalah simbol tauhid. Di dalamnya ada penegasan pengesaan Allah Swt. dan penafian sekutu bagi-Nya. Selama ibadah haji, para jemaah senantiasa mengumandangkan kalimat talbiah yang berisi seruan tauhid. Kalimat talbiah juga berisi pengakuan bahwa seluruh kekuasaan adalah milik-Nya semata. Tidak ada pemilik yang hakiki selain Allah Taala. (Lihat Ibnu Qayyim, Mukhtashar Tahzib Sunan, 2/335-339).

«لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ»

“Aku menjawab panggilan-Mu, ya Allah. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sungguh segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Seluruh jemaah haji tidak henti-hentinya memohon segala kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah. Mereka pun memohon ampunan atas segala dosa. Mereka mengetahui bahwa momen berhaji adalah saat Allah mengabulkan setiap permintaan dan mengampuni setiap kesalahan hamba-Nya.

«الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ»

“Orang yang berperang di jalan Allah, yang berhaji, dan yang umrah, adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa, pasti Allah mengabulkan mereka. Jika mereka meminta, niscaya Allah memberi mereka.” (HR Ibnu Majah).

Ketiga, berhaji juga menapaktilasi jejak bersejarah dan spiritual, mulai dari Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as., hingga Rasulullah saw.. Kaum muslim berkumpul di sekitar Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim as. dan putranya, Ismail as.. Mereka berdoa di Hijir Ismail dan Maqam Ibrahim, kemudian melaksanakan sai dari Shafa ke Marwah, sekaligus mereguk kesegaran air dari Sumur Zamzam yang historis dan berkah.

Kemudian, saat menginjakkan kaki di Masjid Nabawi, tidak ada satu pun jemaah haji yang tidak membayangkan sosok Baginda Nabi saw. bersama keluarga dan para sahabat. Merekalah yang bahu-membahu memperjuangkan tegaknya agama Allah dan senantiasa membela kemuliaan Rasul-Nya.

Dengan tapak tilas itu, sudah seharusnya bangkitlah kekuatan ruhiah seorang muslim. Muncullah semangat ibadah, perjuangan, dan pengorbanannya.

Keempat, ibadah haji juga mengajari kaum muslim untuk mengendalikan amarah dan permusuhan; sebaliknya, mengembangkan sikap ramah serta tolong-menolong kepada sesama. Di tengah cuaca panas terik, lelah, dan berdesak-desakkan, para tamu Allah diminta untuk mengendalikan akhlak.

Allah Swt. berfirman,

«الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي اْلأَلْبَابِ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Siapa saja yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berbuat rafats, fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Apa saja yang kalian kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah. Sungguh bekal terbaik adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (TQS Al-Baqarah [2]: 197).

Para ulama menjelaskan bahwa rafats adalah hubungan badan, fasik adalah mencaci-maki, sedangkan jidal adalah berdebat hingga memancing kemarahan. Ketiganya merupakan perkara yang terlarang dalam ibadah haji. Yang dituntut justru sebaliknya, yakni senantiasa melakukan amal kebaikan.

Kelima, ibadah haji adalah tempat sekaligus momen meleburnya jutaan muslim dari segenap penjuru dunia. Tidak memandang suku bangsa, bahasa, warna kulit, maupun strata, mereka berkumpul di Padang Arafah, di Mina, lalu melaksanakan tawaf dan sai, dsb. secara bersama-sama. Inilah sebagian kegemilangan ajaran Islam yang mampu mengikat manusia dalam satu buhul (ikatan), yakni akidah Islam.

Menuju Persatuan Hakiki

Jadi pertanyaan, mengapa ibadah haji seolah tidak memberikan dampak persatuan yang hakiki dan berkelanjutan? Mengapa nikmat persatuan itu hilang usai ibadah haji dan umat tetap dalam keadaan porak-poranda?

Tentu patut disayangkan, ibadah haji yang mengumpulkan dan melebur jutaan orang dalam satu tempat dan satu waktu, ternyata belum mampu mengantarkan mereka menuju persatuan yang hakiki. Hal ini terus terjadi setiap tahun. Persatuan umat saat berhaji baru sebatas menciptakan ikatan spiritual tanpa sistem (rabithah ar-ruhiyah bi la nizham). Sama persis dengan ibadah salat berjemaah atau salat Jumat. Umat berkumpul di satu tempat dan satu waktu, kemudian bubar begitu saja. Tidak lagi ada ikatan di antara mereka.

Semestinya, ibadah haji menjadi konferensi akbar untuk membangun kesadaran umat bahwa mereka kini telah tercerai-berai. Tidak lagi menjadi umat yang satu. Banyak permasalahan umat yang harus diselesaikan secara bersama.

Ironisnya, banyak kaum muslim yang mementingkan ego kebangsaan masing-masing. Mereka tidak peduli pada kondisi saudaranya. Bahkan yang lebih ironis, beberapa negara muslim, seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab malah memberikan dukungan kepada pemerintah Komunis Cina yang melakukan kezaliman terhadap umat Muslim Uyghur.

Jelas, kaum muslim harus membangun kembali persatuan hakiki di antara mereka. Sebagaimana dahulu diawali oleh kaum Muhajirin dan Anshar yang bersatu dalam ikatan akidah Islam.

Allah Swt. berfirman,

«إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Kaum mukmin itu sesungguhnya bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) kedua saudara kalian itu dan takutlah terhadap Allah supaya kalian mendapat rahmat.” (TQS Al-Hujurat [49]: 10).

Ikatan akidah yang melahirkan ukhuah islamiah ini bukan saja tercipta di Madinah, Negara Islam pertama di dunia, melainkan terus menjalar ke setiap wilayah, di mana pun Islam tersebar melalui dakwah dan fatah (penaklukan).

Setiap bangsa yang memeluk Islam kemudian mengganti ikatan kesukuan dan kebangsaan mereka dengan ukhuah islamiah. Mereka menyambut saudara seiman mereka sekalipun berbeda suku bangsa, juga sekalipun para pendatang itu yang menaklukkan negeri mereka. Bangsa Spanyol di Andalusia dan Cordoba, Persia, Syams, suku Barbar di Afrika, semua bersatu dalam ikatan akidah dan ukhuah islamiah bersama kaum muslim yang berasal dari jazirah Arab.

Sayangnya, hari ini kaum muslim berada di titik terlemah karena berpecah belah, tidak sanggup membela diri dan memberikan perlindungan kepada sesama muslim. Mereka malah membiarkan saudara seiman sekarat di tengah penderitaan, padahal wajib untuk memberikan pertolongan kepada mereka dan menyelesaikan pertikaian yang ada serta menghentikan kezaliman (lihat QS Al-Anfal [8]: 72).

Bersatu di Bawah Kalimat Tauhid

Walhasil, mari kita rekatkan kembali ikatan ukhuah islamiah kita. Satukan hati kita. Campakkan ego kebangsaan dan kelompok yang telah membuat kita tercerai-berai yang telah membuat musuh terus-menerus menguasai kita.

Mari kita jadikan kalimat tauhid sebagai pemersatu kita. Sungguh, kita adalah umat yang satu. Bertuhankan satu, Allah Taala. Berhukum satu, Al-Qur’an. Dengan persatuan di bawah kalimat tauhid inilah, Allah Swt. akan menolong dan memuliakan kita.

Allah Swt. berfirman,

«وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai. Ingatlah oleh kalian nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan. Lalu Allah mempersatukan hati kalian, kemudian kalian, karena nikmat Allah itu, menjadi orang-orang yang bersaudara. Kalian pun pernah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” (TQS Ali Imran [3]: 103). [MNews/Gz]

Sumber artikel: Buletin Dakwah Kaffah Edisi 100 dengan sedikit penyesuaian.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *