Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.
Muslimah News, OPINI — Mengutip dari United Nation Department of Economic and Social Affairs, 1,6 miliar orang di seluruh dunia hidup dengan kondisi tempat tinggal yang tidak memadai dan sekitar 15 juta orang diusir paksa setiap tahunnya. Tentu tunawisma merupakan masalah umum yang dihadapi banyak negara di seluruh dunia. Namun, di beberapa negara ini, jumlah tunawisma menyentuh angka mengkhawatirkan. (Sindonews, 18/2/2022).
Terbanyak di Dunia
Lima negara di dunia dengan jumlah gelandangan terbanyak adalah
- Filipina
Seperlima masyarakat Filipina hidup di bawah garis kemiskinan. Mengutip Homeless World Cup, ada sekitar 4,5 juta tunawisma di Filipina dan 3 juta di antaranya berada di Ibu Kota Manila. Lalu, 250.000 anak Filipina juga hidup di jalanan. Banyaknya jumlah tunawisma ini bisa terjadi karena pendapatan yang tidak mencukupi, kekerasan dalam rumah tangga, atau kehilangan tempat tinggal karena bencana alam.
- India
Mengutip Worldometer, India menempati posisi kedua sebagai negara berjumlah penduduk terbanyak di dunia, yakni mencapai 1.400.307.355 jiwa. Namun, banyaknya populasi manusia ini juga dibarengi dengan membludaknya jumlah tunawisma yang menjamur di negeri Bollywood itu. Pada 2003, diketahui ada 23 juta gelandangan di India, sementara di Mumbai 25.000 orang tidur di jalanan. Mengutip Homeless World Cup, terjadi penggusuran 53.700 rumah demi upaya “mempercantik kota” dari permukiman bebas kumuh di tahun 2017.
- Amerika Serikat
Menjadi salah satu negara paling maju ternyata tidak membuat Amerika Serikat lepas dari masalah sosial seperti gelandangan. Di New York, sebanyak 80.000 pria, wanita, dan anak-anak tidak memiliki tempat tinggal. Di Los Angeles, jumlah tunawisma mencapai 27.000 orang. Sementara dari BBC, 7% tunawisma di Amerika adalah mahasiswa yang terlantar di gedung atau mobil. Hal ini bisa terjadi karena kurang rasa inisiatif dari pemerintah akan bantuan perumahan bagi masyarakatnya yang tidak memiliki tempat bermukim yang layak.
- Rusia
Berdasarkan Federasi Rusia Tahun 2010, tercatat ada sekitar 64.000 tunawisma. Jika diperkirakan lagi, 3,5% dari populasi masyarakat Rusia adalah orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal. Dari 144,5 juta penduduk Rusia, 13,3% hidup di bawah garis kemiskinan. Para tunawisma ini kehilangan dokumen hukum seperti paspor dan izin tinggal, yang membuat mereka tidak bisa menggunakan layanan sosial pemerintah. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang masih tersisa dari Perang Dunia II.
- Indonesia
Ada sekitar tiga juta tunawisma di Indonesia, dengan 28.000 berada di Jakarta. Sebanyak 77.500 gepeng (gelandangan dan pengemis) tersebar di banyak kota besar di seluruh Indonesia pada tahun 2019. Biasanya angka ini akan bertambah pada saat-saat tertentu seperti Ramadan atau awal pandemi Covid-19. Banyak dari para gelandangan itu berkeliling mengharapkan bantuan dari masyarakat. Kebanyakan dari mereka kehilangan rumah karena bencana alam.
Gelandangan Vs. Orang Terkaya di Dunia
Terkhusus Indonesia, sungguh data di atas tidak ubahnya ironi yang sangat menyakitkan. Ketika di satu sisi negara-negara maju mencoba menjajah ekonomi Indonesia atas nama investasi yang ditadah oleh lingkaran oligarki, ternyata di balik itu semua terdapat kesenjangan sosial yang begitu tinggi.
Memang, awal 2022 lalu BPS mengumumkan bahwa pada September 2021 jumlah penduduk miskin Indonesia, baik di perkotaan maupun perdesaan menurun. Meski demikian untuk perdesaan, ternyata indeks keparahan kemiskinan di perdesaan justru meningkat, yakni dari 0,57 pada Maret 2021 menjadi 0,59 pada September 2021. Kondisi ini memperlihatkan kesenjangan masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan melebar. (Tempo, 19/1/2022).
Namun, ironi ini tentu makin menyakiti masyarakat luas, ketika Forbes merilis daftar 50 orang terkaya Indonesia di 2021. Hartono bersaudara masih menduduki posisi puncak orang terkaya Indonesia. (Liputan6, 15/12/2021).
Tercatat total kekayaan bersih dua bersaudara ini mencapai 42,6 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 611,4 triliun. Kekayaan mereka meningkat 3,8 miliar dollar AS atau Rp 54,5 triliun berkat kenaikan saham BCA. Hartono bersaudara ini dikenal sebagai pemilik Grup Djarum, di antaranya ada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). Mereka juga pemilik merk elektronik populer Polytron dan real estat utama di Jakarta. (Kompas, 15/12/2021).
Bagaimana mungkin hal ini layak dibanggakan? Dibandingkan saja sungguh memalukan. Lantas, apakah penguasa masih pantas bermimpi hendak membangun ibukota baru dengan biaya fantastis ketika ternyata kemiskinan masih menghantui masyarakat luas? Bukankah itu justru menghambur-hamburkan APBN?
101 Tahun Tanpa Khilafah
Jelas sekali, jumlah gelandangan pasti berkorelasi positif dengan kemiskinan. Namun, yang tidak kalah memilukan adalah adanya jurang kesenjangan sosial yang begitu lebar antara si kaya dan si miskin. Jika sudah begini, apa masih bisa kita yakini bahwa kemiskinan seperti ini sekadar bersifat individual? Bukankah model kemiskinan ini sudah menjangkit berbagai lini, yang sejatinya lebih tepat kita nyatakan sebagai kemiskinan sistemis?
Percayalah, bahwa penerapan ideologi kapitalisme adalah biang kerok lahirnya jurang kesenjangan itu. Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, bukanlah isapan jempol belaka. Kondisi ini adalah realitas pahit yang harus kita sadari, sehingga kita mampu bertindak bahwa kita butuh sistem yang baru, dan kita harus mengenal kebutuhan tersebut dengan baik. Bukan lagi kapitalisme yang menyengsarakan, melainkan Islam yang menyejahterakan.
Saat ini, sudah 101 tahun kaum muslimin hidup tanpa Khilafah, sejak keruntuhannya pada bulan Rajab 1342 H di tangan antek Inggris, Mustafa Kemal. Padahal pada masa tegaknya, Khilafah berhasil menunaikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin. Kesejahteraan di bawah naungan pemberlakuan sistem Islam oleh Khilafah, adalah realitas yang pernah tercatat oleh tinta emas sejarah.
Oleh karena itu, sangat penting untuk melihat dengan jelas tentang perkara yang sebenarnya terjadi sehingga umat Islam dapat memahami bagian yang paling menyakitkan dalam sejarah mereka, bahkan hingga kini menjadi problematik utama bagi dunia Islam.
Sayangnya agenda imperialisme Barat senantiasa berupaya menutupi kejayaan Khilafah, hingga generasi muda banyak yang tidak mengenal induk kaum muslimin tersebut. Padahal bukti-bukti kerusakan akibat penerapan kapitalisme sudah bermunculan di mana-mana. Oleh karena itu, hal ini membutuhkan kesadaran dan usaha lebih besar untuk mengenal Khilafah, dalil wajibnya, sekaligus metode penegakkannya.
Metode Mengubah Masyarakat
Mendirikan Negara Islam atau Khilafah Islam merupakan kewajiban syariah dengan metode yang diambil dari sunnah Nabi saw. Dalam mendirikan Negara Islam. Metode tersebut tercermin dalam tiga tahapan: (1) pengaderan (at-tatsqîf); (2) interaksi dengan umat (at-tafâ’ul), termasuk di dalamnya adalah pencarian dukungan dan pertolongan (thalab an-nushrah); (3) penerimaan kekuasaan dari pemilik kekuasaan (istilâm al-hukmi). Sunah Nabi saw menunjukkan atas tiga tahapan tersebut dalam mendirikan Negara Islam di Madinah.
Mendirikan Negara Islam yang tahan lama dan berkelanjutan, membutuhkan adanya perubahan yang mengakar dalam masyarakat. Masyarakat itu akan menjadi masyarakat Islam saat pemikiran (al-afkâr) dan perasaan (al-masyâ’ir) mayoritas kaum Muslim bersifat islami serta di tengah-tengah mereka diterapkan sistem (an-nizhâm) Islam.
Aktivitas mendirikan Negara Islam yang sesuai dengan metode Nabi saw. Menuntut adanya pembentukan opini umum (ar-ra’yu al-‘âm) tentang pemerintahan Islam. Hal ini berawal dari kesadaran umum (ar-wa’yu al-‘âm) mengenai penting dan wajibnya mendirikan pemerintahan Islam yang disertai an-nushrah (dukungan dan pertolongan).
Semua ini aktivitas rasional menuju perubahan masyarakat. Sementara itu, aktivitas mendirikan Negara Islam juga bersumber dari dalil syariah, sehingga dapat memberikan kekuatan pada seluruh aktivitas rasional menuju perubahan yang hakiki.
Khatimah
Gelandangan, kemiskinan, dan kesenjangan sosial hanyalah sekelumit ekses penerapan akidah sekuler di bawah naungan sistem kapitalisme. Masih banyak wujud kerusakan lainnya. Ini menunjukkan ketidakmampuan kapitalisme menjadi ideologi penjaga dunia sebagaimana yang selama ini pengusungnya agung-agungkan.
Tegaknya kapitalisme tidak dilandasi akidah yang sahih. Pantaslah penerapannya juga menghasilkan bentuk-bentuk solusi yang tambal sulam, jauh dari perubahan hakiki. Ini tentu berbeda jauh dengan Islam, yang tidak ada sedikit pun keraguan padanya yang kesahihan aturannya dijamin oleh Allah Swt. hingga hari akhir, dan penerapannya di dunia membuahkan rahmatan lil ‘alamiin. [MNews]
