Marak Duta Pemuda, Akankah Membawa Perubahan yang Dinantikan?

Marak Duta Pemuda, Akankah Membawa Perubahan yang Dinantikan?

Penulis: Novita Sari Gunawan

Muslimah News, OPINI — “Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” (Bung Karno).

Kutipan ini tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Menggambarkan realitas kekuatan pemuda yang berpotensi dan mampu membuat perubahan nyata. Akhirnya, kutipan tersebut sering menjadi motivasi dan inspirasi dalam menggerakkan jiwa-jiwa para pemuda untuk mengubah peradaban menjadi lebih baik.

—

Banyak agenda atau program yang dikhususkan untuk pemuda di negeri ini. Teranyar, marak Duta Pemuda yang diselenggarakan di seluruh provinsi, salah satunya oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Makassar yang mencari Duta Pemuda Kota Makassar. 

Seleksi Duta Pemuda dilakukan sejak Juli lalu dan tahapannya masih berjalan. Kabid Pemberdayaan Pemuda Dispora Makassar Muhammad Dasysyara Dahyar mengatakan bahwa panitia telah melakukan beberapa rangkaian seleksi. (Tribun News Makassar).

Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud menyambut baik Pemilihan Duta Pemuda Balikpapan 2022 yang digelar di Plaza Balikpapan, Ahad (09/10/2022) malam. “Saya menyambut baik diselenggarakannya pemilihan Duta Pemuda Kota Balikpapan ini,” ujarnya dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Balikpapan Ratih Kusuma. (inibalikpapan[dot]com).

Dianti Sari Hendralia yang merupakan Duta Pemuda Perwakilan Jawa Barat asal Kabupaten Subang jadi pemateri pada kegiatan perdana Pasundan Institute Goes to School. Mengambil tema “Remaja Sadar Hukum” dan bertempat di SMAN 1 Serangpanjang pada Kamis 13/10/2022, kegiatan ini dihadiri oleh ratusan pelajar. (Jabar Ekspres).

Relevan dengan Permasalahan Bangsa?

Fenomena problematik bangsa ini sejak dahulu hingga kini terlihat ruwet dan susah apabila dicari ujung pangkalnya. Mulai dari kasus korupsi yang merajalela, penegakan hukum yang diskriminatif, kriminalisasi ajaran agama dan para ulama, hingga problematik ekonomi yang dihantui stagflasi dan resesi ekonomi 2023.

Walhasil, perhelatan pemilihan Duta Pemuda ini diharapkan bisa menciptakan pemuda yang bisa mendorong kemajuan bangsa atau menjadi agen perubahan. Juga menjadi critical thinker yang mampu melihat problematik utama bangsa ini, kemudian memberikan kontribusi, partisipasi, dan solusi.

Pemuda dengan kemampuan kepemimpinannya selayaknya pula turut terlibat menjadi pendobrak dan pemimpin untuk menyelesaikan berbagai problem bangsa. Pertanyaannya, apa relevansi dari pemilihan Duta Pemuda oleh Kemenpora ini dengan harapan di atas?

Jika kita mengikuti tolok ukur jangka pendek dengan pencapaian indeks pembangunan pemuda (IPB), nyatanya masih rendah. Hal ini terlihat dari beberapa indikator, di antaranya tentang pendidikan pemuda di Indonesia yang masih sangat rendah, serta kesehatan dan kesejahteraannya yang rendah.

Selain itu, kondisi ekonomi saat ini tengah menurun yang memungkinkan terjadinya penurunan kesehatan dan kesejahteraan. Indeks lainnya adalah rendahnya partisipasi dan lapangan kerja.

Dengan demikian, pemilihan Duta Pemuda yang digadang-gadang sejak 2017 ini menjadi tidak relevan dengan perubahan atas segala keruwetan problematik bangsa ini. Lebih jauh lagi, keberadaan Duta Pemuda juga disinyalir sebagai bentuk propaganda penguasa dalam menangkal radikalisme dan intoleransi beragama, yang sebenarnya tidak memiliki landasan kuat.

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), misalnya, mengapresiasi langkah Kemenpora dalam menangkal “ormas radikal” melalui Duta Pemuda. Hal ini disampaikan Sekretaris Utama BPIP Karjono Atmoharsono saat menghadiri Jambore Pemuda Indonesia (JPI) 2020 Kemenpora secara virtual yang diikuti 500 Duta Pemuda perwakilan 34 Provinsi di Indonesia. (bpip[dot]go[dot]id).

Ini bermula dari kekhawatiran rezim negeri ini terhadap critical thinking yang lahir dari rakyat, intelektual, ulama, dan mayoritas masyarakat Indonesia tentang abuse of power dan kezaliman penguasa. Begitu pula praktik oligopoli yang tampak jelas dilakukan penguasa dan kroninya demi memperkaya diri dan mengabaikan kewajiban mereka terhadap rakyatnya. Hal itulah yang malah di-counter dengan adanya isu radikalisme dan intoleransi beragama.

Problem Utama Bangsa

Apabila kita mencari tahu problem utama negeri ini, sejatinya adalah akibat diterapkannya sistem pemerintahan demokrasi kapitalisme dan sistem ekonomi kapitalisme oleh oligarki dan penguasa. Syariat Islam yang notabene merupakan wahyu Allah Taala justru ditinggalkan sebagai aturan bernegara yang akhirnya menyebabkan problem yang tidak kunjung usai.

Apabila problem ini tidak diselesaikan, bagaimana mungkin Duta Pemuda bisa mewujudkan Indonesia Emas 2045? Kalau sistem yang diterapkan masih demokrasi yang berlandaskan sekularisme, para pemuda hanya akan menjadi duta-duta atas semua kemajuan yang—seolah—direkayasa.

Mindset yang Benar

Kita tentu ingin para pemuda bisa menjadi agen perubahan bagi kemajuan suatu bangsa. Kita pun mengharapkan lahirnya para critical thinker yang bisa menghasilkan berbagai inovasi dan memunculkan para pemimpin untuk mengubah kondisi menjadi lebih baik. Hanya saja, semua ini bisa terwujud tatkala para pemuda paham tentang mindset yang benar, yakni Islam sebagai ideologi yang harus diterapkan dalam kehidupan.

Ideologi Islam akan menjadi daya dorong dan dobrak yang kuat. Dengan demikian, para pemuda akan terus termotivasi dan melakukan segala aksi untuk mewujudkan peran sebagai agen perubahan tersebut.

Tidak hanya itu, negara juga harus memfasilitasi agar para pemuda bisa meraih prestasi tinggi, yakni dengan memberikan daya dukung yang memadai, baik aspek pendidikan, ekonomi, kesejahteraan, kemandirian, dan kedaulatan bangsa. Juga menciptakan lapangan kerja atau usaha kemandirian sehingga segala perubahan bisa terwujud sempurna.

Khatimah

Peran negara yang terpenting adalah menerapkan sistem sahih (Islam) agar cita-cita para pemuda untuk menjadi pewaris agen perubahan bangsa bisa terealisasi. Mirisnya, saat ini justru terjadi bias dan ketidaksinambungan semangat para pemuda dengan visi misi dan sistem yang diterapkan di negeri ini.

Apabila ditanya, barangkali para pemuda belum tergambar dan memiliki peta jalan yang jelas dan relevan, misalnya untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Berbeda dengan mindset Islam, duta pemuda Islam akan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia untuk menciptakan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Inilah visi yang terwariskan dan terjaga sejak masa Rasulullah saw. hingga generasi runtuhnya Khilafah pada 1924 silam. Generasi cemerlang itu akan hadir kembali seiring diterapkannya sistem Islam kafah, insyaallah. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *