Muslimah News, INTERNASIONAL — Iran melancarkan serangan udara besar-besaran di Irak utara pada Rabu (28/09/2022) yang mengorbankan warga sipil.
Hal ini dilaporkan Arab News, Kamis (29/09/2022) dengan memperlihatkan foto seorang gadis Kurdi berlumuran darah ketika sekolahnya di wilayah Kurdistan, Irak utara, diserang pesawat tidak berawak dan rudal Iran.
Sementara itu, sebuah klip yang dipost seorang wartawan menunjukkan anak-anak di sekolah Kurdi yang dilanda teror, dikawal ke tempat yang aman, kemudian berlindung di lereng bukit dekat Kota Koya.
Para analis menggambarkan peristiwa ini sebagai tindakan agresi yang tidak dapat ditoleransi yang bertujuan mengalihkan perhatian internasional dari aksi protes yang sedang berlangsung dan mengguncang Republik Islam Iran.
Pada hari itu, Iran’s Islamic Revolutionary Guard Corps(IRGC) meluncurkan beberapa rudal balistik Fateh 360 yang baru saja diuji coba Iran untuk pertama kalinya pada awal September. Juga drone bunuh diri Shahed 136 yang baru-baru ini digunakan oleh Rusia dalam perang Ukraina.
Iran menyerang dengan sasaran seluruh wilayah Kurdistan di Irak yang berbatasan. Target yang diklaim adalah markas besar kelompok pembangkang Kurdi Iran. Sedikitnya 14 orang dilaporkan tewas dan 58 terluka, termasuk perempuan dan anak-anak.
Buah Buruk Nasionalisme
Pengamat isu perempuan, anak, generasi dr. Arum Harjanti menyatakan keprihatinannya, khususnya terhadap derita anak-anak Kurdi.
“Sungguh mengenaskan nasib anak-anak Kurdi yang menjadi sasaran rudal Iran. Ini adalah buah buruk nasionalisme,” tuturnya kepada MNews, Sabtu (22/10/2022).
Anak-anak tidak berdosa ini, ujarnya, harus meregang nyawa akibat perseteruan antara Iran dengan orang-orang Kurdi yang merupakan kelompok minoritas karena kaum Kurdi dianggap sebagai ancaman oleh Iran.
“Konflik yang sudah berjalan panjang ini mengalami peningkatan pascakematian Mahsa Amini, gadis Kurdi Iran, yang diduga tewas akibat penganiayaan polisi moral Iran lantaran tidak mengenakan busana sebagaimana yang ditentukan Pemerintah Iran,” jelasnya.
Ia menyampaikan, Iran menyalahkan pembangkang bersenjata Kurdi Iran yang diduga kuat terlibat dalam kerusuhan yang sedang berlangsung di negara itu, khususnya dengan adanya protes besar Mahsa Amini di wilayah barat laut, tempat 10 juta warga Kurdi tinggal.
“Akibatnya, berbagai serangan telah dilancarkan kepada komunitas Kurdi, termasuk serangan drone yang menghantam sebuah sekolah,” ulasnya.
Arum menganalisis, konflik yang terjadi adalah contoh nyata betapa kejam implikasi nasionalisme. “Perbedaan etnis mengakibatkan munculnya kekhawatiran akan adanya ancaman sehingga membuahkan kebencian. Kebencian mendorong terjadinya konflik, bahkan serangan itu memakan korban anak-anak tidak bersalah. Nyawa anak menjadi sangat murah dalam konflik yang terjadi,” kecamnya.
Sungguh, ia menegaskan, nasionalisme telah memakan korban nyawa manusia, bahkan anak-anak tidak berdosa.“Kepentingan negara menjadi jauh lebih utama dibandingkan nyawa anak-anak yang bahkan belum memahami arti kehidupan, apalagi konflik antar etnis. Nasionalisme ibarat pembunuh berdarah dingin yang siap mencabut nyawa siapa saja yang berbeda bangsa, bahkan meski ia anak-anak di bawah umur,” cetusnya.
Berbahaya
Arum menunjukkan, tampak nyatalah, nasionalisme seperti ini—dalam Islam disebut dengan ashabiyah—adalah satu hal yang sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup manusia, sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam riwayat Ahmad dan Muslim (dengan redaksi hadis berbeda),
ﻭﻣﻦ ﻗﺘﻞ ﺗﺤﺖ ﺭاﻳﺔ ﻋﻤﻴﺔ، ﻳﻐﻀﺐ ﻟﻠﻌﺼﺒﻴﺔ، ﺃﻭ ﻳﻘﺎﺗﻞ ﻟﻠﻌﺼﺒﻴﺔ، ﺃﻭ ﻳﺪﻋﻮ ﺇﻟﻰ اﻟﻌﺼﺒﻴﺔ، ﻓﻘﺘﻠﺔ ﺟﺎﻫﻠﻴﺔ
“Barang siapa mati di bawah bendera kebutaan, marah karena ashabiyah, berperang karena ashabiyah atau mengajak kepada ashabiyah, maka seperti kematian masa jahiliah.”
Bahkan, Arum mengingatkan, Allah Swt. pun memerintahkan untuk tetap berlaku adil saat muncul kebencian terhadap suatu kaum, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Ma’idah ayat 8.
“Jadi, seharusnya perbedaan etnis tidaklah menjadi alasan untuk munculnya kebencian. Apalagi Allah Swt.-lah yang menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Hujurat ayat 13,” ungkapnya.
Ikatan Islam
Ia menerangkan, perbedaan bangsa dan suku bukanlah alasan untuk saling membunuh. “Apalagi, jika sama-sama muslim, meski berbeda bangsa dan suku, mereka bahkan ibarat satu tubuh. Islam menyatukan berbagai bangsa dan suku dalam satu ikatan persaudaraan di bawah naungan akidah Islam, mereka semua sama di mata Allah, dan yang memuliakannya adalah ketakwaannya,” urainya.
Dengan demikian, lanjutnya, jika persatuan atas akidah ini terbentuk, niscaya tidak ada lagi anak-anak yang menjadi korban. “Anak-anak akan terlindungi dan hidup aman di bawah naungan Islam,” tutupnya mengakhiri penjelasan. [MNews/Ruh]
Foto sampul: Arab News
