Isu SARA, ketakadilan hukum, ketimpangan ekonomi, dan problem kesejahteraan merupakan isu sensitif dan mudah memicu perpecahan dan konflik. Pernahkah kita menyadari bahwa Islam memiliki seperangkat aturan untuk menyelesaikan semua masalah tadi?
Penulis: Chusnatul Jannah
Muslimah News, OPINI — Kepala BPIP Yudian Wahyudi menjelaskan klarifikasinya perihal “Salam Pancasila” yang sempat membuat gaduh publik. Kegaduhan itu bermula saat ia memperkenalkan dan menggaungkan penggunaan “Salam Pancasila” sebagai salam kebangsaan.
Ia menjelaskan “Salam Pancasila” merupakan bentuk jalan tengah kebangsaan yang terbebas dari dampak teologis. Menurutnya, “Salam Pancasila” tidak dimaksudkan sebagai pengganti salam keagamaan.
Bagi Yudian, “Salam Pancasila” adalah titik temu rakyat tanpa melihat latar belakang apa pun. Pelafalannya di ranah publik ditujukan agar bangsa Indonesia tetap bersatu, tidak pecah, dan mendapatkan pahala di sisi Allah Swt.. Pertanyaannya, apa sesungguhnya yang membuat bangsa ini berpecah belah?
Permasalahan Indonesia
Isu yang menganggap bahwa “Salam Pancasila” akan mengganti salam keagamaan sebenarnya bermula dari pernyataan Kepala BPIP sendiri yang pernah menyebut agama musuh terbesar Pancasila. Seolah-olah agama adalah sumber masalah bagi perekatan bangsa sehingga ada kesan bahwa agama tidak mampu mewujudkan kedamaian dan kerukunan antarumat beragama di negeri ini.
Isu kerukunan antarumat beragama selalu berkelindan dengan isu keberagaman dan intoleransi. Pihak yang sering kali tersudutkan dengan isu keberagaman dan intoleransi adalah Islam dan pemeluknya.
Padahal, jika kita cermati, banyak hal yang menjadi sebab perpecahan di negeri ini. Pertama, ketakadilan hukum. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah mengatakan perpecahan sebuah bangsa bisa terjadi karena adanya ketakadilan. Ia menyebut hampir seluruh konflik yang terjadi di Indonesia berawal dari ketakadilan.
Sebagai contoh, perlakuan hukum yang tidak sama pada pelanggar UU. Ada yang sama-sama menista agama, tapi perlakuannya berbeda. Yang satu diproses dengan cepat dan kilat, satunya lagi diproses secara lambat. Meski sama-sama diproses hukum, namun pihak aparat menanggapinya dengan respons yang berbeda. Bahkan, di antara mereka belum diproses hukum meski sudah banyak yang melaporkan.
Kedua, ketakadilan ekonomi dan kesejahteraan. Banyak permasalahan ekonomi yang menjadi PR besar bagi penguasa. Data BPS pada 2021 menyebutkan angka kemiskinan mencapai 27,54 juta penduduk. Ketimpangan ekonomi ini juga menimbulkan perpecahan.
Gerakan Aceh Merdeka atau Papua Merdeka, misalnya. Gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia bermula dari kesejahteraan yang tidak merata. Pendapatan yang timpang antara pribumi dengan para kapitalis bisa berpotensi memunculkan konflik. Di satu sisi, masyarakat harus banting tulang memenuhi kebutuhan hidup. Pada saat yang sama, pemerintah bermurah hati memberi karpet merah bagi kapitalis mengelola kekayaan alam milik rakyat.
Ketiga, kehadiran para buzzer. Tidak dapat kita mungkiri, kehadiran penggaung (buzzer) turut mewarnai perjalanan politik Indonesia. Sayangnya, warna yang paling mencolok adalah ancaman disintegrasi dan kerukunan antarumat beragama, terutama dari para buzzer pendukung pemerintah.
Mereka acapkali menyerang akun-akun media sosial yang mengkritik pemerintah, entah dengan hujatan, ujaran kebencian, memutarbalik fakta, ataupun dengan memblokirnya. Seakan masyarakat tidak boleh mengkritik kinerja pemerintah dan harus legawa dengan setiap kebijakan penguasa.
Mereka juga kerap menghajar lawan politik atau rakyat secara membabi buta lantara tokoh penguasa yang didukungnya dikritik. Tidak ayal, sikap fanatisme buzzer pendukung pemerintah dinilai destruktif dan meresahkan.
Namun, pemerintah tampaknya tidak terlalu memperhatikan perilaku para buzzer pendukungnya di ruang publik. Malah lebih terkesan mendiamkan ketimbang menertibkan dan menindak tegas para penggaung yang berpotensi memecah belah anak bangsa. Sikap diam ini seolah menyiratkan kecurigaan publik, apakah kehadiran buzzer memang sengaja dimaksudkan untuk membungkam suara rakyat dalam mengoreksi kebijakan penguasa?
Keempat, narasi radikalisme menyerang kelompok agama tertentu. Dalam hal ini, agama yang sering menjadi korban stigma radikalisme adalah Islam. Narasi ini juga dipakai untuk mendiskreditkan ajaran Islam. Seiring dengan stigma tersebut, ada upaya menggiring opini dengan memonsterisasi syariat Islam. Misalnya, jika memaksakan diri menerapkan syariat Islam, Indonesia akan terancam, NKRI bisa hilang, dan persatuan bangsa akan sulit terwujud.
Padahal, sumber masalah persatuan dan kesatuan negeri ini sebenarnya adalah penerapan ideologi kapitalisme sekuler. Namun, penguasa menutupinya dengan menarasikan radikalisme sebagai sumber perpecahan bangsa. Seolah masalah di negeri ini hanya satu, yakni radikalisme.
Islam Menyatukan Keberagaman
Isu SARA, ketakadilan hukum, ketimpangan ekonomi, dan problem kesejahteraan merupakan isu sensitif dan mudah memicu perpecahan dan konflik. Pernahkah kita menyadari bahwa Islam memiliki seperangkat aturan untuk menyelesaikan semua masalah tadi? Islam pernah menyatukan berbagai suku, ras, agama, dan golongan dalam satu kepemimpinan sistem bernama Khilafah.
Rasulullah saw. memberikan contoh terbaik tentang keberagaman. Contoh paling nyata adalah saat beliau saw. berhasil mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar dengan ikatan persaudaraan Islam. Beliau membebaskan Makkah dari kemusyrikan, serta menyatukan seluruh jazirah Arab dengan Islam.
Para Khalifah juga mengikuti keteladanan beliau dalam menyatukan keberagaman. Mereka melakukan pembebasan dan penaklukan ke berbagai negeri untuk mengemban misi dakwah Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Islam melindungi dan menjaga umat nonmuslim yang hidup di bawah sistem Islam.
Di negara Khilafah, penduduknya heterogen. Umat nonmuslim tidak dipaksa memeluk Islam. Mereka diperlakukan sama sebagaimana kaum muslim. Jadi, keliru dan aneh bila masih ada yang menganggap Islam itu antikeragaman dan memecah belah.
Will Durant dalam The Story of Civilization mengatakan, “Agama Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri- negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir, bahkan hingga Maroko dan Spanyol. Islam pun telah memiliki cita-cita mereka, menguasai akhlaknya, membentuk kehidupannya, dan membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka yang meringankan urusan kehidupan maupun kesusahan mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka sehingga jumlah orang yang memeluknya dan berpegang teguh padanya pada saat ini [1926] sekitar 350 juta jiwa. Agama Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hatinya walaupun ada perbedaan pendapat maupun latar belakang politik di antara mereka.”
Di antara rahasia Islam berhasil merekat dan mempersatukan bangsa ialah pertama, perintah berbuat makruf kepada sesama manusia.
Kedua, kedua misi dakwah dan jihad dalam rangka menyebarluaskan ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin. Ketika sebuah negeri ditaklukkan, tidak ada dikotomi antara pihak penakluk dengan yang ditaklukkan. Dalam fakta sejarah, kaum nonmuslim merasa aman dan tenteram hidup di bawah perlindungan sistem Khilafah;
Ketiga, Islam memerintahkan agar berlaku baik kepada nonmuslim dengan sebaik-baiknya. Dalam riwayat Imam Abu Dawud, Rasulullah saw. bersabda, “Ketahuilah, bahwa siapa yang menzalimi seorang mu’ahad (nonmuslim yang berkomitmen untuk hidup damai dengan umat muslim), merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa rida dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat.”
Keempat, tidak ada paksaan memeluk Islam. Pada praktiknya, kaum nonmuslim sendirilah yang berbondong-bondong masuk Islam. Mereka masuk Islam atas dasar kerelaan dan kesadaran diri. Mereka takjub dengan perlakuan Islam dan mampu membuat ketenangan dan kenyamanan dalam hidup bermasyarakat.
Khatimah
Inilah di antara nikmat Islam yang Rasul bawa dalam misi rahmatan lil alamin. Islam merajut persaudaraan yang semula bermusuhan dan menjalin kasih sayang yang semula saling membenci. Islam mengajak pada komitmen bersatu dan bersaudara.
Allah Swt. berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai; dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran: 103) Wallahualam. [MNews/Gz]
