Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Pada era Dinasti Umayyah, perluasan wilayah Islam sampai ke wilayah Transoxiana di timur laut ( Asia Tengah) dan wilayah Sindh di tenggara. Namun, perluasan Islam pada wilayah ini baru kuat dan mapan sejak permulaan masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik (86-96 H). Sebelumnya Dinasti Umayyah lebih fokus untuk memperkuat wilayah Persia yang telah dikuasai dan ditaklukan Khulafaurrasyidin.
Pada masa kekhalifahan yang dipimpin Al-Walid bin Abdul Malik telah terjadi perluasan besar-besaran wilayah kekuasaan negara Islam setelah penaklukan yang dilakukan era Khulafaurrasyidin. Hasilnya, rampunglah penaklukan Afrika Utara dan Andalusia. Kemudian pasukan yang dipimpin Qutaibah bin Muslim Al-Bahili terus merambah wilayah Transoxiana di Asia tengah. Sementara itu, pasukan yang dipimpin Muhammad bin Al Qasim Ats-Tsaqofi berusaha menaklukan wilayah Sindh (Pakistan sekarang).
Para Jenderal yang Tangguh dalam Jihad
Kebijakan luar negeri Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik dengan menampilkan operasi penaklukan terbesar pada era Bani Umayyah, bahkan dalam sejarah Islam secara keseluruhan setelah penaklukan di masa Khulafaurrasyidin. Pada masanya muncul sejumlah jenderal terkemuka yang masyhur dengan ketangguhan dan keberanian berkorban di jalan Allah. Mereka sangat bersemangat melakukan berbagai penaklukan, baik di wilayah barat maupun timur.
Di wilayah timur, Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqofi di Irak membentangkan kedua sayapnya ke sebelah tenggara hingga mencapai kawasan Sindh. Ia mengirim Muhammad bin Al-Qasim Ats-Tsaqofi dan berhasil menaklukkan daerah ini. Sedangkan, ke arah timur, tepatnya di kawasan Transoxiana (Asia Tengah), ia mengirim Qutaibah bin Muslim yang berhasil menaklukan daerah luas dan memasukkannnya ke dalam wilayah kekuasaan Khilafah Islam.
Adapun di wilayah barat, ada dua jenderal yang ternama Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad. Keduanya terkenal sebagai penakluk Andalusia (Spanyol dan Portugis). Di samping itu, adik sang khalifah yang bernama Maslamah bin Abdul Malik beserta putra-putranya melakukan serbuan dan tekanan terhadap Byzantium. Ia juga berhasil menguasai banyak benteng di daerah- daerah perbatasan.
Transoxiana, Wilayah yang Kondusif untuk Ditaklukkan
Dinamakan Transoxiana karena merupakan daerah seberang Sungai Oxus/ Amu Darya. Terletak di timur laut perbatasan Negara Persia kuno, sebagian besar kawasan ini tercakup dalam Uzbekistan sekarang. Penduduknya berasal dari bangsa Turki yang bermigrasi dari timur sejak abad ke-6 M. Banyak raja-raja kecil yang berkuasa di daerah ini sehingga kondisi sosialnya mudah terjadi konflik dan perpecahan politik di masyarakatnya.

Penduduk Transoxiana ini, meskipun persatuan di antara mereka tidak kuat, tetapi mereka adalah orang-orang ahli perang. Mereka merasa terancam dengan serbuan pasukan muslim. Sebagian kerajaan bersekutu dengan kerajaan lain untuk menghadapi pasukan muslim, sebagian yang lain mengambil strategi berdamai dengan kewajiban membayar jizyah.
Qutaibah Menggelorakan Semangat Jihad Pasukan
Qutaibah bin Muslim bin Amr Al-Bahili mengibarkan panji penaklukan di negeri Transoxiana pada waktu yang sangat tepat. Di masa kepemimpinan Al-Walid bin Abdul Malik kondisi negara sudah stabil, kuat, dan tenang. Sementara itu, kondisi sosial politik wilayah Transoxiana tidak stabil sehingga memudahkan pasukan muslim untuk menguasainya. Terwujudlah kemenangan demi kemenangan di Transoxiana.
Pasukan muslim yang dipimpin Qutaibah adalah orang-orang Khurasan. Qutaibah bin Muslim menyemangati mereka dengan pidatonya yang mengingatkan mereka pada Islam dan menggelorakan ruh jihad pada pasukannya. Ia menyampaikan firman Allah dalam QS Ash-Shaff ayat 9, At-Taubah ayat 120-121 hingga QS Ali-Imran ayat 169.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”
Dengan pidato singkat ini, Qutaibah ingin mengingatkan kaum muslim tentang agama mereka dan tanggung jawab mereka terhadap Islam. Juga, agar mereka menyiapkan diri untuk mengemban tugas mulia di jalan Allah. Menempuh jalan para pendahulu mereka, yaitu jihad demi menolong agama Allah agar mereka memperoleh kemuliaan di dunia serta kebahagiaan surga di akhirat.
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (QS Ash-Shaff : 9). [MNews/Ruh]
Sumber : Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah. Pustaka Al-Kautsar
Foto ilustrasi: RCTI+
