Keberhasilan Bani Umayyah pada Era Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik

Keberhasilan Bani Umayyah pada Era Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Setelah Abdul Malik bin Marwan wafat, maka kaum muslim membaiat Al-Walid bin Abdul Malik menjadi khalifah. Sebagai putra sulungnya, Abdul Malik telah mendidik Al-Walid agar siap menjadi pemimpin yang berakhlak mulia. Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, selain perhatiannya yang besar terhadap penghafal Al-Qur’an, ia juga terkenal dalam melakukan berbagai reformasi sosial, pembangunan, dan ekonomi yang luar biasa di dalam negeri.

Mencintai Al-Qur’an

Khalifah Al-Walid sangat mencintai Al-Qur’an, banyak membacanya dan memotivasi masyarakat untuk menghafalnya dengan memberi mereka hadiah. Ibrahim bin Abu Ablah mengisahkan tentang Al-Walid bin  Abdul Malik memberinya beberapa potong perak untuk dibagi-bagikan kepada para penghafal Al-Qur’an di Baitulmaqdis.

Ath-Thabari meriwayatkan bahwa seorang laki-laki dari Bani Makhzum meminta kepada khalifah Al-Walid untuk membayarkan utangnya kepada seseorang. Al-Walid berkata, “Tentu jika engkau memang layak mendapatkannya.”

Lelaki itu berkata, “Wahai Amirulmukminin, bagaimana mungkin aku tidak berhak mendapatkannya dengan persaudaraanku denganmu?” Al-Walid bertanya, “Apakah engkau menghafal Al-Qur’an?”

“Tidak,” jawab lelaki itu. Al-Walid berkata, “Kalau begitu, mendekatlah kepadaku.” Lelaki itu pun mendekatinya, lalu Al-Walid melepas serbannya dengan sebilah kayu yang digenggamnya. Ia lalu mengetuknya beberapa kali dengan kayu itu dan berkata kepada lelaki itu, “Bawalah semua ini dan jangan lepas sebelum Al-Qur’an dihafal.”

Melihat itu, Utsman bin Yazid bin Khalid segera berdiri dan berkata, “Wahai Amirulmukminin, sungguh aku punya utang yang harus kubayar.” “Apakah engkau menghafal Al-Qur’an?” tanya Al-Walid. “Ya,” jawab Utsman bin Yazid.

Khalifah Al-Walid memintanya untuk membaca sepuluh ayat dari surah Al-Anfal dan sepuluh ayat surah Bara’ah (At-Taubah). Setelah Utsman bin Yazid membacanya, Al-Walid berkata, “Ya, kami akan membayar utangmu dan menyambung silaturahim denganmu karena itu.”

Membangun Sarana dan Infrastruktur bagi Rakyat

Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik merenovasi Masjid Nabawi dan memperluasnya dari semua sisi, serta memasukkan beberapa kamar istri-istri Nabi ke dalam area masjid. Ia tidak segan-segan mengucurkan dana besar untuk menjadikan Masjid Nabawi tampak jauh lebih indah dan mengagumkan.

Pelaksanaan proyek ini ia percayakan kepada saudara sepupunya yang juga walikota Madinah, Umar bin Abdul Aziz, yang kemudian menugaskan Shalih bin Kaisan untuk mengawal pembangunan Masjid Nabawi ini. Khalifah Al-Walid mengirimkan aneka marmer dan mozaik, serta menyediakan delapan puluh ahli bangunan dari negeri Syam dan Mesir.

Al-Walid menjadikan pembangunan Masjid Nabawi ini sebagai salah satu simbol kebesaran arsitektur Islam. Ia sengaja menghiasnya sebaik-baiknya hingga tampak megah dan memperlihatkan keagungan Islam. Pembangunannya menghabiskan dana yang cukup besar sampai-sampai mengundang kritik masyarakat.

Kepada mereka, khalifah Al-Walid berkata, “Wahai penduduk negeri Syam, kalian memiliki empat hal untuk kalian banggakan. Nah, aku ingin membuatkan untuk kalian yang kelima.”

Pembangunan Masjid Damaskus ini menghabiskan seluruh masa pemerintahan Al-Walid, bahkan masih menyisakan beberapa bagian yang belum selesai, yang pada akhirnya dirampungkan Sulaiman bin Abdul Malik, adiknya.

Selain perhatian besar terhadap pembangunan masjid, Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik juga memperhatikan perbaikan jalan raya, terutama rute menuju negeri Hijaz guna mempermudah perjalanan jemaah haji menuju Baitul Haram. Untuk itu khalifah mengirim surat kepada Umar bin Abdul Aziz agar ia mempermudah pelayanan, menggali sumur-sumur, membuat kran-kran dan sejenisnya, menyediakan para petugasnya, serta memberikan minum kepada para jemaah haji darinya.

Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik juga sangat memperhatikan santunan bagi orang-orang cacat. Kepada mereka khalifah berkata, “ Kalian jangan meminta-minta!”.

Khalifah juga menyediakan seorang pelayan yang digaji oleh negara bagi setiap orang cacat. Begitu pula terhadap orang buta, khalifah menyediakan pemandu bagi mereka.

Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik juga membangun rumah sakit pertama dalam sejarah Islam. Penyandang cacat dan kaum duafa pun diberikan tempat tinggal. Mereka ditempatkan di sebuah panti yang para pengurusnya digaji dan diberi fasilitas oleh negara.

Era Al-Walid bin Abdul Malik merupakan masa kemakmuran dan kemajuan gemilang. Rakyatnya menikmati kehidupan dengan kemakmuran, ketenangan, stabilitas keamanan dan ekonomi, serta pembangunan dan peradaban dalam negeri. [MNews/Ruh]

Sumber : Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah. Pustaka Al-Kautsar.

Foto sampul: Klikmu

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *