Penulis: Ahmad Mahmud
Muslimah News, FIKRUL ISLAM – Jemaah atau gerakan Islam harus mau berhadapan dengan berbagai pemikiran yang salah dan pemahaman yang campur aduk. Jemaah atau gerakan Islam juga harus menyerang berbagai tradisi dan kebiasaan yang menyimpang dari Islam dalam realitasnya. Lebih dari itu, jemaah atau gerakan Islam juga harus mau berhadapan dengan penguasa dan menyingkapkan persekongkolan mereka; menjelaskan pemikiran Islam dan hukum-hukumnya; serta mengajak umat untuk mengadopsi berbagai pemikiran dan hukum Islam tersebut, serta beraktivitas bersama-sama menegakkan Islam dalam kehidupan mereka.
Sebagaimana kita ketahui, Rasulullah saw. telah berjuang, sedangkan beliau tidak bersenjata, tidak punya kekuatan. Beliau tidak pernah pilih kasih, tidak mau berjalan bersama dan menerima kompromi dengan orang-orang kafir, menolak segala rayuan dan janji-janji, menolak segala ancaman, senantiasa bersabar, dan tidak pernah menyimpang dari perintah Tuhannya. Al-Qur’an telah menceritakan kepada kita semua hal ini. Oleh karena itu, hendaknya perkara ini menjadi petunjuk bagi jemaah atau gerakan Islam di dalam menjalankan aktivitasnya.
Allah telah menurunkan perintahnya kepada Rasulullah saw.,
فَٱصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْمُشْرِكِينَ
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS Al-Hijr: 94)
Di dalam ayat tersebut, sesungguhnya terdapat isyarat dalalah bahwa sebelum turunnya ayat tersebut, Rasulullah saw. belum berdakwah secara terang-terangan, tetapi melakukannya secara rahasia dan sembunyi-sembunyi. Itulah yang dilakukan oleh beliau sebelum periode terang-terangan.
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al-Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummulqura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya.” (QS Asy-Syura: 7)
Ayat di atas mengandung perintah kepada Rasulullah saw. untuk melakukan aktivitas dakwah di luar Makkah. Penyebutan Al-Qur’an tentang kaum Muhajirin dan Ansar merupakan dalil adanya hijrah dan pertolongan.
Dengan demikian, Al-Qur’an adalah petunjuk utama, selain itu, kitab-kitab hadis banyak sekali menceritakan berbagai berita tentang umat Islam pada masa Makkah. Imam Al Bukhari, misalnya, telah menyebutkannya di dalam bab, “Apa yang ditemui Nabi saw. dan para sahabat dari orang-orang musyrik di Makkah.”
Imam Al-Bukhari menyebut hadis Khabbab bin al-Arats. Di dalamnya disebutkan bahwa Al-Arats datang kepada Rasulullah saw. untuk meminta beliau berdoa agar Allah menolong umat Islam. Disebutkan juga doa Rasulullah atas para tokoh Quraisy serta gangguan yang paling keras yang diterima Rasulullah saw. dari kaumnya ketika pergi ke Thaif. Demikian juga di dalam sejumlah kitab sirah yang lain.
Dengan demikian, kita tidaklah berada di hadapan suatu perbuatan yang dituntut untuk dilaksanakan oleh kita, sedangkan kita tidak memiliki nas-nasnya.
Perlu diketahui di sini bahwa para penulis sirah adalah para imam yang terpercaya, orang-orang yang adil, dan terkenal. Di antara mereka adalah sebagai berikut:
- Ibnu Ishaq (85H-152H). Ia menulis buku Al-Maghazi. Buku ini dikomentari oleh Az-Zuhri dengan pernyataan, “Siapa saja yang ingin mempelajari peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. hendaklah membaca buku Ibnu Ishaq.” Tentang Ibnu Ishaq, Asy-Syafi’i juga berkomentar, “Siapa saja yang ingin mendalami peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah saw., maka dia harus menjadi bagian dari keluarga Ibnu Ishaq.” Imam Al-Bukhari juga menyebut Ibnu Ishaq dalam Tarikh-nya.
- Ibnu Sa’ad (168H-230H). Ia menulis Ath-Thabaqat. Tentang Ibnu Sa’ad, Al-Khatib al-Baghdhadi berkomentar, “Muhammad Ibnu Sa’ad, menurut kami, adalah orang yang adil dan pembicaraannya menunjukkan kejujurannya. Sesungguhnya, ia meneliti sebagian besar periwayatan yang ditulisnya.” Ibnu Khillikan juga menyatakan, “Ia adalah orang yang jujur dan terpercaya.” Ibnu Hajar juga berkomentar tentang Ibnu Sa’ad demikian, “Ia adalah salah seorang penghafal (hafiz) yang hebat dan terpercaya serta peneliti.“
- Ath-Thabari (224H-310H). Ia menulis buku, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk, yang menggunakan metode sanad. Tentang Ath-Thabari, Al-Khatib al-Baghdadi berkomentar, “Ia mengetahui banyak sunah hadis dan jalur periwayatan sanadnya; mengetahui mana yang sahih dan mana yang dhaif, serta mengetahui sejarah manusia dan berbagai beritanya.” Umumnya, pembicaraan tentang Ath-Thabari menyebutkan bahwa ia telah menulis buku sejarahnya dengan metode para ahli hadis. Ia juga menulis buku Hadis yang berjudul, Tahdzib al-Atsar wa Tafshil ats-Tsabit ‘an ar-Rasulullah saw. min al-Akhbar. Tentang buku ini Ibnu ‘Asakir berkomentar demikian, “Sesungguhnya buku ini adalah salah satu buku yang mencengangkan. Ia membicarakan sejumlah hadis dari Rasulullah saw..“
- Ibnu Katsir dan Adz-Dzahabi. Keduanya memiliki pengaruh yang besar dalam bidang hadis. [MNews/Rgl]
Sumber: Ahmad Mahmud, Dakwah Islam
Foto sampul: iStock
