Pelajaran dari Perjanjian Hudaibiyah

Pelajaran dari Perjanjian Hudaibiyah

Penulis: Ustazah Dra. Iffah Ainur Rochmah

Muslimah News, KOLOM – Perjanjian Hudaibiyah merupakan peristiwa sejarah dan penting bagi umat Islam sebelum pembukaan Kota Makkah. Ada beberapa catatan penting dalam peristiwa ini.

Pertama, Perjanjian Hudaibiyah merupakan peristiwa yang tidak mudah dipahami oleh para sahabat untuk bisa menerima keputusan Rasulullah ﷺ yang telah menyepakati perjanjian ini.

Hal tersebut tampak dari pertanyaan Umar bin Khaththab yang diajukan kepada Rasulullah ﷺ, ”Wahai Rasulullah, bukankah Anda ini Rasulullah?” ”Benar,” jawab Rasul. Umar berkata, ”Bukankah kami ini orang-orang Islam?” “Benar,” jawab Rasul. Umar berkata, ”Bukankah mereka itu orang-orang musyrik?” ”Benar,” jawab Rasul. Umar berkata, ”Jika demikian, maka atas dasar apa kami memberikan penghinaan terhadap agama kami?” Rasulullah ﷺbersabda, ”Aku hanyalah hamba Allah, aku sekali-kali tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia sekali-kali tidak akan mempersulitku.” (HR Bukhari dan Muslim).

Lalu Umar berkata, ”Aku akan senantiasa bersedekah, berpuasa, mendirikan salat, dan membebaskan diri dari apa yang telah aku perbuat. Saat ini, aku merasa takut dengan perkataanku yang telah aku katakan sehingga yang aku harapkan sekarang hanyalah kebaikan.”

Kedua, Rasulullah ﷺ mampu meyakinkan para delegasi dari kafir Quraisy dalam setiap tahap perundingan. Hal itu tecermin dari semua delegasi yang sangat yakin dengan ucapan Rasulullah ﷺ bahwa tujuan kedatangan beliau ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, bukan untuk berperang.

Ketiga, Rasulullah ﷺ sangat mengenali karakter dari pemuka Quraisy yang menjadi delegasi kaumnya untuk bernegosiasi dengan Rasulullah ﷺ. Ini tampak saat kafir Quraisy mengutus Mukriz bin Hafsh bin Al-Akhif kepada Rasulullah ﷺ. Ketika Rasulullah melihat Mukriz, beliau bersabda, ”Ini seorang pengkhianat.”

Begitu pula saat kafir Quraisy mengutus Al-Hulais bin ‘Alqamah. Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya, beliau bersabda, “Sungguh orang ini termasuk di antara orang-orang yang rajin ibadah dan senantiasa mengagungkan Allah.”

Pun demikian saat kafir Quraisy mengutus Suhail bin Amru kepada Rasulullah ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ melihat Suhail, beliau berkata, “Kaum kafir Quraisy ingin berdamai ketika mereka mengutus orang ini.” Ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ benar-benar menguasai karakteristik dan sifat-sifat tiap pemimpin di antara para pemimpin musuh.

Dari tiga poin di atas, ada pembelajaran yang sangat besar. Pertama, kadang-kadang kebijakan seorang kepala negara (khalifah) dengan ijtihadnya, dengan tabanni-nya (penggaliannya) terhadap sebuah hukum syarak yang diijtihadkan oleh dirinya sendiri atau diambil dari mujtahid yang lain, kalau itu berupa kebijakan politik level tinggi, tidak mudah untuk dimengerti, dan mungkin tidak semuanya akan setuju.

Namun, sepanjang itu adalah pelaksanaan dari hukum syarak, maka seorang pemimpin harus kukuh dengan pendiriannya, meski tidak dimaksudkan untuk menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang anti masukan.

Kedua, diplomasi yang ditunjukkan oleh Rasulullah ﷺ mampu meyakinkan musuh, bukan dengan cara menipu atau memanipulasi. Rasulullah ﷺ menggunakan strategi yang membuat para delegasi musuh yang menghadap Rasulullah ﷺ mampu melihat apa yang dilakukan oleh beliau dan pengikutnya benar-benar seperti yang diucapkan, sangat meyakinkan.

Ketiga, saat Rasulullah ﷺ mampu mengenali karakteristik para pemuka delegasi Quraisy, ini adalah teladan ketika ingin menaklukkan sebuah kaum. Yang dikatakan pemimpin, pasti akan diikuti. Karenanya, penting untuk mengetahui informasi yang utuh terkait sosok dan karakter para pemukanya.

Keempat, sebagai pengemban dakwah wajib “merebut” hati dan pikiran para tokoh masyarakat dari berbagai level agar mereka bisa memahami risalah Islam sebagai mabda dan sebagai solusi terhadap problem dunia hari ini. Para tokoh juga harus memahami bahwa saat syariat Islam belum tegak, maka problem hidup dan matinya umat Islam (qadhiyah mashiriyah) adalah bagaimana menegakkan kembali sistem Islam.

Maka, kita wajib memastikan pemikiran para tokoh tersebut, mana yang masih menjadi penentang bagi risalah Islam sebagai pola hidup yang unik yang sangat berbeda dengan pola hidup yang lain. Ini penting karena kebanyakan tokoh masih menganggap Islam itu agama yang hanya berbicara urusan akhirat. Penting ditanamkan dalam pemikiran umat bahwa yang dimusuhi itu pemikirannya dan cara pandangnya sehingga memengaruhi perilakunya, bukan memusuhi orangnya.

Ini pelajaran dari Perjanjian Hudaibiyah untuk diplomasi internasional, tetapi kita juga bisa mengambil pelajaran bagaimana menaklukkan hati dan pikiran tokoh umat yang hari ini masih banyak didominasi oleh ketidakpahamannya terhadap Islam sebagai agama politik. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *