[Kabar] Pelajar Dikeroyok Teman Sendiri, Pemerhati: Potret Buram Pendidikan

[Kabar] Pelajar Dikeroyok Teman Sendiri, Pemerhati: Potret Buram Pendidikan

Muslimah News, NASIONAL — Kasus perundungan dan kekerasan antarpelajar kembali menjadi sorotan publik. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan seorang pelajar dikeroyok dan dirundung oleh sejumlah pelajar lain di kawasan Baranangsiang, Kota Bogor, Rabu (3-6-2026).

Korban tampak dipaksa melakukan push-up sebelum mengalami berbagai bentuk kekerasan fisik, mulai dari dipukul, ditendang, dipukul menggunakan ranting pohon, hingga diinjak-injak oleh para pelaku.

Potret Buram

Kepada MNews, Sabtu (13-6-2026), praktisi dan pemerhati pendidikan Citra Amalia, M.Pd. menyatakan, peristiwa ini menunjukkan potret buram pendidikan yang gagal membentuk akhlak generasi. “Perundungan di kalangan pelajar terus berkembang menjadi tindakan kekerasan yang sangat memprihatinkan. Teman sebaya yang seharusnya menjadi tempat saling mendukung justru berubah menjadi pelaku yang menyakiti dan merendahkan sesamanya,” ujarnya prihatin.

Lebih ironis lagi, ujarnya, tindakan tersebut direkam dan disebarluaskan, seolah menjadi tontonan yang dianggap biasa. “Ini menunjukkan menurunnya empati, lemahnya kontrol diri, serta makin terkikisnya penghormatan terhadap sesama manusia,” sesalnya.

Selain itu, jelasnya, makin maraknya kasus perundungan juga menjadi bukti bahwa pendidikan hari ini masih belum mampu menyelesaikan persoalan mendasar dalam pembentukan karakter generasi. “Berbagai program pencegahan yang dicanangkan dan telah dilakukan sering kali hanya berfokus pada penanganan setelah kejadian terjadi, seperti mediasi, konseling, atau pemberian sanksi kepada pelaku. Sementara itu, akar persoalan yang sesungguhnya yaitu sistem pendidikan sekuler belum tersentuh secara tuntas,” paparnya.

Citra mengkritisi sistem pendidikan sekuler saat ini yang lebih banyak menitikberatkan pada pencapaian akademik dibandingkan pembentukan kepribadian yang berlandaskan nilai-nilai agama. “Ini dapat kita lihat dari berbagai bentuk program, tes dan capaian yang diharapkan yang hanya makin menambah tekanan pada pelajar. Akibatnya, tidak sedikit pelajar yang memiliki kemampuan intelektual, tetapi miskin empati dan akhlak dalam berinteraksi dengan orang lain,” imbuhnya.

Menjaga Kehormatan

Padahal, ungkapnya, dalam Islam, setiap muslim diperintahkan untuk menjaga kehormatan dan hak saudaranya. “Islam mengharamkan segala bentuk kezaliman, penghinaan, maupun tindakan yang menyakiti orang lain,” ucapnya mengutip sabda Rasulullah ﷺ riwayat Bukhari dan Muslim, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya dizalimi.”

Hadis ini, terangnya, menggambarkan bahwa hubungan sesama muslim harus dibangun di atas kasih sayang, kepedulian, dan perlindungan, bukan permusuhan dan kekerasan. “Karena itu, segala bentuk perundungan maupun pengeroyokan jelas bertentangan dengan ajaran Islam,”

Ia menyampaikan, Islam pun menanamkan kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Taala sesuai firman-Nya dalam QS Al-Zalzalah: 7—8, “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

Ayat ini, papar Citra, mengajarkan bahwa tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari pengawasan Allah Taala, termasuk tindakan merundung, menghina, maupun menyakiti orang lain. “Kesadaran inilah yang menjadi benteng utama bagi seorang muslim untuk mengendalikan dirinya dari berbagai perbuatan zalim,” cetusnya.

Kewajiban Negara

Dalam Islam, tuturnya, pembentukan generasi tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga atau sekolah. “Negara juga memiliki kewajiban untuk menghadirkan sistem pendidikan yang berorientasi pada pembinaan akidah dan akhlak, serta menciptakan lingkungan sosial yang mendukung tumbuhnya kepribadian Islam,” jelasnya.

Negara, imbuhnya, tidak cukup hanya bertindak setelah terjadi kasus kekerasan, tetapi harus memastikan seluruh kebijakan pendidikan mampu melahirkan generasi yang bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap sesama.

Karena itu, Citra menegaskan, kasus pengeroyokan dan perundungan pelajar di Bogor ini hendaknya menjadi peringatan bagi seluruh pihak bahwa persoalan kekerasan remaja tidak dapat diselesaikan dengan solusi parsial semata. “Diperlukan perubahan mendasar dalam sistem pendidikan dan kehidupan yang mampu membentuk generasi berkepribadian Islam,” ujarnya.

Dalam hal ini, ungkapnya, Islam menawarkan solusi menyeluruh melalui pendidikan berbasis akidah serta penerapan nilai-nilai Islam secara kafah dalam kehidupan di bawah naungan Daulah Islam. “Dengan demikian, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, empati yang tinggi, serta jauh dari perilaku zalim terhadap sesama. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *