Muslimah News, NASIONAL — Viral video delapan siswa SMK mengeroyok satpam sekolah setelah ditegur karena merokok pada pertengahan Mei lalu. Setelah dilakukan penulusuran, satpam tersebut merupakan satpam dari SMK 1 Polewali Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Kepala sekolah menyebut para siswa tersebut memang kerap masuk ruang BK dan cukup sulit dibina.
Kasus ini menambah panjang angka kekerasan yang melibatkan pelajar. Dari data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) pada 2025 ada 601–641 kasus kekerasan di lingkungan satuan pendidikan. Kasus tersebut meliputi perundungan, kekerasan fisik, hingga kekerasan seksual yang melibatkan pelajar, baik sebagai korban maupun pelaku.
Praktisi dan pemerhati pendidikan Citra Amalia, M.Pd. menilai, pengeroyokan tersebut mencerminkan rapuhnya adab generasi. ”Teguran yang semestinya diterima sebagai bentuk kepedulian justru dibalas dengan tindakan anarki, yaitu pengeroyokan. Ini menandakan lemahnya penghormatan terhadap aturan, rendahnya kontrol diri, dan rapuhnya adab generasi saat ini,” tuturnya kepada MNews, Senin (26-5-2026).
Rapuhnya adab ini, menurutnya, dikarenakan berbagai upaya pembinaan yang dilakukan sering kali hanya berfokus pada penanganan permukaan, seperti pemanggilan orang tua, konseling sementara, atau hukuman administratif. ”Pendekatan tersebut belum menyentuh akar persoalan yang sebenarnya. Sistem pendidikan sekuler hari ini lebih menekankan pencapaian akademik dibanding pembentukan kepribadian dan ketakwaan. Tidak heran, banyak remaja tumbuh tanpa landasan moral yang kuat dan tidak memahami batasan halal-haram dalam berperilaku,” kritiknya.
Pendidikan Islam
Citra lalu membandingkannya dengan pendidikan Islam. “Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses membentuk kepribadian Islam yang menjadikan akidah sebagai dasar berpikir dan bertindak. Pelajar dididik untuk memahami bahwa setiap perbuatan pasti akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Taala,” jelasnya.
Ia menyampaikan firman Allah dalam QS Al-Isra: 36 sebagai landasannya, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Selain itu, ucapnya, Islam juga memerintahkan penghormatan kepada orang lain, termasuk kepada guru, orang tua, dan pihak yang menjaga keamanan serta ketertiban. Ia mengutip sabda Rasulullah saw. riwayat Tirmidzi, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.”
”Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya adab dan penghormatan dalam kehidupan sosial. Maka, ketika nilai-nilai Islam diterapkan secara menyeluruh, akan lahir generasi yang tidak akan mudah melampiaskan emosi dengan kekerasan, tetapi mampu mengendalikan diri dan menyelesaikan masalah dengan cara yang benar dan sesuai koridor syariat,” yakinnya.
Menurut Citra, negara memiliki tanggung jawab besar dalam membina generasi. “Negara wajib menghadirkan sistem pendidikan, lingkungan sosial, dan media yang mendukung terbentuknya akhlak mulia. Negara tidak cukup hanya memberikan sanksi setelah kejadian, tetapi harus memastikan seluruh kebijakan mengarah pada pembentukan generasi yang beriman dan bertakwa,” urainya.
Ia mengajak semua pihak agar kasus pengeroyokan satpam oleh pelajar ini menjadi peringatan, di samping sebagai bukti nyata bahwa kerusakan generasi tidak bisa diselesaikan dengan solusi parsial semata.
“Diperlukan perubahan mendasar dalam sistem pendidikan dan kehidupan agar generasi tumbuh dengan keimanan, akhlak, dan kontrol diri yang kuat. Islam menawarkan solusi menyeluruh melalui pendidikan berbasis akidah serta penerapan nilai-nilai Islam secara kafah dalam bingkai Daulah Islam. Dengan itulah akan lahir generasi yang berilmu, beradab, dan jauh dari perilaku kekerasan,” pungkasnya. [MNews/IA]
