Penulis: Chairunnisa Rahmawati, S.Pd.
Muslimah News, KOLOM KELUARGA — Fenomena “dera care” atau kekerasan fisik di day care (tempat penitipan anak) hari ini menjadi ironi yang menyakitkan. Tempat yang diharapkan menjadi ruang aman bagi anak-anak, malah berubah menjadi tempat penyiksaan fisik maupun psikis. Anak-anak yang lemah, belum mampu membela diri, justru menjadi korban sistem pengasuhan yang kehilangan ruh kasih sayang.
Dalam kasus dugaan kekerasan di Day Care Little Aresha, terungkap fakta bahwa sebanyak 11 pengasuh mengaku melakukan kekerasan atas perintah langsung ketua yayasan tersebut, meski tanpa aturan tertulis dan hanya melalui instruksi lisan. Praktik ini ditengarai sudah berlangsung lama dan diwariskan antarpengasuh, bahkan diketahui pihak pimpinan.
Hasil visum pada para korban menunjukkan adanya luka di pergelangan tangan akibat pengikatan. Kekerasan disebut terjadi sejak pagi; dan anak-anak diikat serta hanya dilepas saat makan atau mandi. Polisi telah menetapkan 13 tersangka, motif sementara diduga karena alasan ekonomi, yakni menampung banyak anak tanpa memperhatikan rasio pengasuh yang ideal.
Tentu saja persoalan ini tidak bisa disimplifikasi sebatas tindakan segelintir oknum pengasuh yang berperilaku buruk. Ia merupakan tanda dari masalah yang jauh lebih mendasar, yakni kerusakan sistemis. Aturan, nilai, dan mekanisme pengawasan yang seharusnya menjaga kebaikan, justru lemah atau bahkan gagal berfungsi sehingga membuka ruang bagi terjadinya penyimpangan dan tindak kriminal.
Sistem Kapitalisme Menggerus Peran Pengasuhan
Kehidupan masyarakat saat ini tidak lagi menimbang unsur manusiawinya al-insan, melainkan lebih memperturutkan ambisi keserakahan terhadap harta. Dalam kasus Day Care Little Aresha, terlihat jelas bahwa akar persoalan bukan sekadar pada individu pengasuh, melainkan pada sistem yang membentuk cara hidup masyarakat.
Dalam sistem kapitalisme, standar keberhasilan hidup diukur berdasarkan materi dan keuntungan. Akibatnya, laki-laki dan perempuan sama-sama didorong—bahkan dipaksa—untuk bekerja keras demi memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Kondisi ini membuat peran pengasuhan dalam keluarga melemah. Orang tua tidak lagi memiliki cukup waktu dan energi untuk mendidik dan merawat anak secara langsung. Akhirnya, pengasuhan diserahkan kepada pihak ketiga, seperti day care, bukan karena itu pilihan terbaik, melainkan karena keadaan yang memaksa.
Di sisi lain, lembaga day care dalam sistem sekarang cenderung dijalankan dengan logika bisnis. Fokus utamanya bukan pada amanah menjaga dan mendidik anak, melainkan pada efisiensi dan keuntungan. Selama masih menghasilkan, kualitas pengasuhan diabaikan, rasio pengasuh dan anak bisa tidak ideal, pengawasan longgar, bahkan metode yang salah tetap dibiarkan. Ketika orientasi keuntungan lebih dominan daripada tanggung jawab moral, maka sangat mudah muncul kelalaian, kekerasan, hingga perlakuan tidak manusiawi terhadap anak-anak.
Inilah gambaran nyata akibat dari sistem kapitalisme. Aktivitas ekonomi dipisahkan dari nilai kemanusiaan. Yang diuntungkan adalah pemilik modal atau pengelola, sedangkan pihak yang paling lemah (dalam hal ini anak-anak) menjadi rentan dan berpotensi menjadi korban.
Benarlah apa yang disampaikan Syekh Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya, Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam (Sistem Ekonomi Islam), bahwasanya kapitalisme bukan hanya mengatur ekonomi, tetapi juga mengubah struktur sosial dan keluarga. Ia mendorong perempuan keluar dari peran pengasuhan, melemahkan fungsi keluarga, dan mengubah pengasuhan menjadi komoditas. Dari sinilah muncul berbagai problem, termasuk kelalaian dan kekerasan dalam lembaga pengasuhan anak.
Pertama, perempuan didorong keluar dari peran utamanya.
Syekh Abdul Qadim Zallum menjelaskan bahwa dalam kapitalisme, perempuan diposisikan sebagai bagian dari tenaga produksi. Akibatnya, ia didorong masuk ke dunia kerja sebagaimana laki-laki, bukan berdasarkan kebutuhan syar’i, tetapi tuntutan ekonomi. Padahal dalam Islam, peran utama perempuan adalah sebagai ummun wa rabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga) yang memiliki tugas besar dalam membentuk generasi.
Kedua, fungsi keluarga melemah.
Ketika kedua orang tua sibuk bekerja, fungsi keluarga sebagai tempat pendidikan pertama anak menjadi rusak. Anak tidak lagi mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan pembinaan langsung dari orang tuanya. Ini bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan akibat dari sistem yang menuntut produktivitas materi di atas peran pengasuhan.
Ketiga, pengasuhan berubah menjadi komoditas.
Dalam kerangka kapitalisme, hampir semua kebutuhan manusia bisa dikomersialkan, termasuk pengasuhan anak. Muncullah day care sebagai “industri jasa”. Yang dikejar bukan lagi amanah mendidik anak, melainkan efisiensi biaya dan keuntungan. Di sinilah potensi penyimpangan sangat besar karena nilai moral tidak menjadi standar utama.
Keempat, hilangnya standar tanggung jawab syar’i.
Syekh Abdul Qadim Zallum juga menegaskan bahwa dalam Islam, pengasuhan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Namun dalam kapitalisme, standar ini hilang, digantikan oleh kontrak kerja dan keuntungan. Akibatnya, selama tidak melanggar hukum formal (bahkan terkadang tetap terjadi meski melanggar), aspek kemanusiaan bisa diabaikan.
Pengasuhan Bukan Sekadar Tugas, tetapi Amanah Syar’i
Merawat, mendidik, dan membimbing anak bukan hanya aktivitas rutin atau kewajiban sosial, melainkan tanggung jawab yang Allah tetapkan dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Dalam Islam, anak bukan “milik bebas” orang tua, tetapi titipan dari Allah Taala. Oleh karenanya, pengasuhan tidak boleh dilakukan semaunya, melainkan harus mengikuti aturan syariat. Amanah berarti ada tuntutan untuk menjaga, membina, dan mengarahkan anak agar tumbuh dalam keimanan, adab yang baik, dan ketaatan.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya…” (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa orang tua adalah pemimpin bagi anak-anaknya, bukan sekadar pengasuh fisik yang sering kali dipandang sebatas memenuhi aspek lahiriah: makan, pakaian, dan pendidikan formal.
Sesungguhnya, ada amanah syar’i pengasuhan yang harus ditunaikan orang tua dengan baik, seperti menanamkan akidah sejak dini, membentuk kepribadian Islam, mengajarkan halal-haram, sampai menjaga anak dari pengaruh yang merusak. Artinya, fokus utamanya adalah membentuk iman dan takwa anak, bukan sekadar kecerdasan atau kesuksesan dunia.
Sebagai amanah syar’i, pengasuhan memiliki nilai ibadah. Ketika dilakukan secara benar, ia menjadi sumber pahala besar. Sebaliknya, kelalaian dalam mendidik anak bisa menjadi sebab dosa. Alhasil, menyerahkan pengasuhan tanpa memastikan keamanan dan kelayakan adalah bentuk kelalaian terhadap amanah.
Allah Swt. juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS At-Tahrim: 6). Ayat ini menegaskan bahwa menjaga keluarga, termasuk anak, adalah kewajiban utama yang tidak boleh diabaikan.
Juga firman-Nya, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu.” (QS Al-Isra: 31). Larangan ini tidak hanya bermakna pembunuhan fisik, tetapi juga mencakup segala bentuk perlakuan yang merusak jiwa dan masa depan anak, termasuk kekerasan dan penelantaran.
Dalam Naungan Islam, Anak Terjaga dengan Sempurna
Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna telah menghadirkan perlindungan anak secara utuh (tidak parsial), tetapi menyentuh seluruh aspek kehidupan, seperti aspek ruhiyyah (spiritual), fikriyyah (pemikiran), nafsiah (pola jiwa), hingga fisik dan sosial. Penjagaan ini tidak hanya dibebankan pada orang tua, tetapi juga ditopang sistem kehidupan yang menyeluruh. Anak akan dijaga dengan sepenuh hati dan secara benar, bukan dikelola agar bisa memberikan keuntungan secara ekonomi sebagaimana asuhan kapitalisme.
Oleh sebab itu, dalam Islam, penjagaan anak sudah dimulai bahkan sejak ia belum hadir ke dunia. Di sinilah Islam menempatkan sosok manusia terbaik yang akan mampu mengemban amanah ini dengan menghadirkan seorang perempuan salihah. Dengan keimanan dan ketakwaannya, perempuan akan mampu menghadirkan bentuk penjagaan terbaik untuk anak-anaknya.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nizhamul Ijtima’i menempatkan tugas pengasuhan ada pada perempuan sebagai seorang ibu. Peran sebagai ummun wa rabbatul bait bukan bentuk pembatasan, melainkan kemuliaan karena berkaitan langsung dengan pembentukan generasi. Tugas ini tidak akan bisa diemban dengan baik oleh seorang ibu tanpa adanya jaminan penjagaan terbaik yang dilakukan negara. Negara wajib menjamin kebutuhan pokok rakyat serta memenuhi kebutuhan dasar (pangan, sandang, papan) sehingga keluarga tidak tertekan secara ekonomi.
Dalam Islam, nafkah adalah kewajiban laki-laki. Negara akan memastikan sistem ekonomi berjalan adil sehingga ayah mampu menjalankan kewajibannya. Akan tetapi, Islam tidak membiarkan kewajiban ini berjalan tanpa sistem pendukung. Negara akan hadir agar kewajiban ini realistis untuk ditunaikan, bukan sekadar tuntutan ideal. Misalnya, membuka lapangan yang luas, mengelola sumber daya alam (tambang, energi, dan air) untuk kesejahteraan rakyatnya, hingga menyediakan layanan publik yang terjangkau/bebas biaya (pendidikan, kesehatan, keamanan).
Negara juga bertanggung jawab memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, terutama bagi yang tidak mampu, diwujudkan melalui baitulmal. Negara wajib menciptakan kondisi ekonomi yang memungkinkan rakyat hidup layak sehingga kaum ibu bisa fokus menjaga dan mengurusi anaknya dengan baik.
Untuk memastikan setiap ayah dan ibu memahami apa yang menjadi amanahnya, negara dalam naungan Islam akan menghadirkan pendidikan berbasis akidah. Individu dibentuk dengan keimanan sehingga muncul rasa takut kepada Allah dalam setiap tindakan, termasuk dalam mengasuh anak.
Khatimah
Dalam naungan Islam, fenomena “dera care” tidak akan ada karena pengasuhan kembali ke tangan keluarga yang penuh kasih. Negara akan hadir sebagai pelindung, bukan sekadar regulator. Kalaupun terdapat kasus kekerasan terhadap anak, negara akan memberikan sanksi tegas kepada pelaku.
Ketika “day care” berubah menjadi “dera care”, ini bukan sekadar kegagalan individu, tetapi kegagalan sistem yang mengabaikan fitrah manusia dan nilai pengasuhan. Kapitalisme telah menjadikan anak sebagai beban yang harus dikelola, bukan amanah yang harus dijaga. Sebaliknya, Islam memuliakan anak sebagai generasi yang harus dibina dengan penuh kasih dalam sistem yang menyeluruh.
Walhasil, solusi sejati bukan sekadar memperbaiki day care, melainkan mengganti sistem kehidupan dari sistem kapitalisme menuju sistem Islam yang akan menjaga anak, keluarga, dan masa depan umat secara hakiki. Wallahualam. [MNews/GZ]
