Muslimah News, INTERNASIONAL — Menyikapi perang Amerika Serikat (AS) dan Iran yang belum usai, aktivis dakwah asal Pakistan Muhannad Mujtaba menilai, Iran tidak perlu mengalahkan AS secara militer. “Iran hanya perlu bertahan hidup,” ungkapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Jumat (17-4-2026).
Pasalnya, ia mengatakan, kondisi AS di bawah Trump jauh lebih lemah dibandingkan saat AS menginvasi Afganistan dan Irak. “Sekarang AS menghadapi defisit tahunan sebesar dua triliun dolar, utang nasional yang tidak teratasi sekitar 38,38 triliun dolar, dan tentara yang kehabisan amunisi dalam beberapa minggu. Bahkan setelah pertempuran udara terbatas. Bush memiliki sesuatu yang kukuh untuk dipijak, sementara Trump hanya punya omong kosong dan ‘terompet besar’ dalam perang baru di Timur Tengah dengan Iran ini,” ulasnya.
Amerika di bawah Trump, ucapnya, betapa pun lantangnya mereka menggambarkan diri mereka sendiri, sama sekali tidak seperti ketika AS berperang melawan Afghanistan dan Irak, negara-negara dengan populasi masing-masing 25 juta jiwa dan dengan dukungan penuh dari sekutu AS. “Sementara Iran membentang seluas 1,5 juta km², memiliki populasi 93 juta jiwa, dan tidak satu pun negara sekutu AS yang signifikan mendukungnya,” bandingnya.
Belajar dari Sejarah
Ia menerangkan, Iran bisa belajar dari sejarah saat sebuah negara menghadapi musuh yang tampak lebih unggul. “AS memenangkan kontes strategisnya melawan Inggris yang saat itu merupakan negara adidaya dalam Perang 1812,” ucapnya mencontohkan.
Ia melanjutkan, dalam perang Korea pada 1953, AS menjatuhkan lebih banyak bom di Semenanjung Korea daripada yang digunakan di seluruh teater Pasifik dalam PD II. “Tidak meninggalkan satu pun bangunan yang berdiri di Pyongyang, dan dilaporkan menghancurkan 90% infrastruktur perkotaan Korea Utara. Namun, tekad Korea untuk melawan tetap tidak tergoyahkan. AS terpaksa menegosiasikan gencatan senjata yang hingga hari ini tetap menjadi satu-satunya perjanjian yang mendefinisikan hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan,” urainya.
Demikian juga, kata Muhannad, apa yang terjadi di Vietnam, Afganistan, Gaza, Irak, dan Somalia, mereka semua menolak untuk menerima kekalahan.
Dikalahkan secara Politik
Muhannad meyakini bahwa AS hanya bisa dikalahkan melalui pertempuran politik. ”AS harus dikalahkan secara politik dan bidak pertama yang harus diambil di papan catur ini adalah kerangka negara-bangsa,” tegasnya.
Menurutnya, jika struktur negara-bangsa, jaringan pangkalan AS, dan instrumen tatanan internasional seperti petrodolar, NPT (Nuclear Non-Proliferation Treaty), FATF (Financial Antion Task Force), IMF (International Monetary Fund), SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication), CTBT (Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty), FMCT (Fissile Material Cut-off Treaty), ABM Treaty (Anti-Ballistic Missile Treaty), tetap dipertahankan, maka pengorbanan rakyat Iran akan sia-sia.
”Kawasan ini tidak membutuhkan AS untuk menjaga keamanan wilayah. Kawasan ini membutuhkan keamanan dari dominasi AS. Barat kolonial menciptakan negara-negara mikro Teluk yang rapuh secara khusus untuk menjarah dan merampok sumber daya umat Islam. Angkatan bersenjata Pakistan sudah hadir di kawasan ini. Sudah saatnya untuk membalikkan seluruh arsitektur kolonial, baik itu pembagian Sykes-Picot, pembagian Garis Durand, atau pembantaian Radcliffe terhadap tanah-tanah Islam,” ulasnya.
Terakhir ia menegaskan, hanya Khilafah satu-satu jalan ke depan untuk membebaskan negeri-negeri Islam. ”Segala cara lain (selain Khilafah) hanya akan memungkinkan AS untuk membalas dendam melalui cara yang berbeda,” pungkasnya. [MNews/IA]
