[Politisi Transformatif] Mengenali Potensi: Memahami Hakikat Diri (Bagian 6/7)

[Politisi Transformatif] Mengenali Potensi: Memahami Hakikat Diri (Bagian 6/7)

Penulis: MR Kurnia, dkk.

Sambungan dari “Mengenali Potensi” Bagian 5/7.

Muslimah News, TELAAH KITAB — Agar jawaban yang diberikan atas tiga pertanyaan sebelumnya memuaskan akal, sekaligus dapat menenteramkan jiwa yang berarti sesuai dengan fitrah manusia, maka jawaban itu harus pasti benar. Jawaban yang pasti benar hanya mungkin didapat apabila bersumber dari sesuatu yang pasti benar juga. Itulah Al-Qur’an yang autentik merupakan wahyu Allah Swt. sehingga semua yang dikatakan Al-Qur’an pasti benar.

Sementara itu, pemikiran spekulatif tidak berdasar. Nilainya bisa benar dan bisa salah. Namun, apabila terdapat sumber yang pasti benar, pemikiran spekulatif tentang hakikat hidup di dunia pasti salah adanya. Dengan demikian, bagi seorang muslim, jawaban yang benar tentu saja adalah yang bersumber dari wahyu, yakni Al-Qur’an dan sunah. Namun, bagaimana meyakini bahwa Al-Qur’an itu betul-betul merupakan wahyu Allah? Apa buktinya?

Secara faktual, Al-Qur’an adalah kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad ﷺ. Oleh karenanya, secara rasional hanya ada tiga kemungkinan asal Al-Qur’an, yakni (1) karangan bangsa Arab, (2) karangan Nabi Muhammad ﷺ, dan (3) berasal dari Allah Taala.

Kemungkinan pertama bahwa Al-Qur’an adalah karangan bangsa Arab tidak bisa diterima. Sebabnya, bangsa Arab tidak pernah mampu memenuhi tantangan untuk membuat kitab yang serupa Al-Qur’an.

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal dengan Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS Al-Baqarah: 23).

Kemungkinan kedua bahwa Al-Qur’an adalah karangan Nabi Muhammad ﷺ juga tidak bisa diterima. Mengapa? Ada dua sebab. Pertama, Nabi Muhammad ﷺ termasuk orang Arab. Kalau seluruh orang Arab tidak mampu memenuhi tantangan untuk membuat satu surat pun yang semisal dengan Al-Qur’an, apalagi Nabi Muhammad yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis) tentu lebih tidak bisa lagi. Andai saja Nabi Muhammad bisa membuat Al-Qur’an, apalagi orang-orang Arab lainnya yang lebih pandai dari Nabi Muhammad. Tentu mereka lebih bisa membuat Al-Qur’an.

Kedua, gaya bahasa dalam tutur kata beliau sebagaimana yang terekam dalam hadis-hadis qauliyah ternyata berbeda dengan gaya bahasa Al-Qur’an. Sekalipun seseorang barangkali bisa berbicara dalam dua gaya bahasa, tetapi mengeluarkan ungkapan dalam intensitas yang tinggi sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah ﷺ adalah suatu hal yang mustahil terjadi.

Kalau pun ada yang berupaya keras melakukannya, kemiripan di antara dua gaya bahasa yang ia ungkapkan akan kerap kali terjadi. Sedangkan gaya bahasa Al-Qur’an jelas berbeda dari gaya bahasa hadis. Ini jelas menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukanlah perkataan (kalam) Nabi Muhammad ﷺ sendiri.

Fakta bahwa Al-Qur’an bukan buatan Muhammad ﷺ dibuktikan juga dengan adanya fakta-fakta ilmiah yang terkandung dalam sebagian ayat-ayat Al-Qur’an. Fakta-fakta yang sedemikian canggih dan rumit itu baru terbukti pada masa modern kini. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak mungkin karangan Nabi Muhammad ﷺ yang ummi. Dengan kata lain, Al-Qur’an hanya dari sisi Allah, bukan dari yang lainnya.

Di antara fakta-fakta ilmiah itu antara lain tentang atmosfer bumi, serta pergiliran siang dan malam secara cepat.

“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedangkan mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.” (QS Al-Anbiya: 32).

Para ilmuwan sekarang menjelaskan kepada kita bahwa “atap yang terpelihara” (saqfan mahfuzhan) dalam ayat di atas adalah lapisan atmosfer, yaitu udara yang berlapis-lapis di atas bumi. Seandainya atmosfer tidak ada, niscaya jutaan meteor yang setiap hari terbakar di angkasa akan jatuh mengenai kita dan membakar segala sesuatu di bumi.

Allah Swt. telah menjadikan atmosfer sebagai atap kokoh yang melindungi bumi beserta segenap makhluk hidup di dalamnya. Tentang pergiliran siang dan malam secara cepat, Allah Swt. berfirman, “Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat.” (QS Al-A’raf: 54).

Maksud ayat di atas bahwa siang dan malam, masing-masing saling mengikuti secara cepat dengan tidak terputus. Ayat tersebut mengandung suatu isyarat tentang rotasi bumi yang menyebabkan datangnya siang dan malam.

“Dia menutupkan malam kepada siang dan menutupkan siang kepada malam.” (QS Az-Zumar: 5).

“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam.” (QS Fathir: 13).

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar menurut garis edarnya.” (QS Al-Anbiya: 33).

Kosmonot Rusia Yuri Gagarin, ketika terbang ke angkasa mengatakan bahwa ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri pergiliran gelap dan cahaya yang cepat di permukaan bumi karena adanya rotasi bumi.

Inilah beberapa contoh ayat Al-Qur’an yang membuktikan pula bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah Swt. semata, bukan buatan manusia, termasuk Muhammad ﷺ. Pada zaman Nabi Muhammad ﷺ ilmu pengetahuan yang mengungkapkan hakikat ayat-ayat itu tidak dikenal. Ilmu pengetahuan seperti ini hanya diketahui oleh manusia modern saat ini.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya, “Katakanlah, ‘Al-Qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia langit dan bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS Al-Furqân: 6).

Apabila kemungkinan pertama dan kedua tidak terbukti, pasti kemungkinan ketiga yang benar, yaitu bahwa Al-Qur’an berasal dari sisi Allah Taala. Al-Qur’an adalah ucapan (kalam) Allah Taala.

Patut dicatat di sini bahwa seorang tokoh sastrawan Quraisy yang bernama Walid bin Mughirah pernah mengatakan, “Aku adalah orang yang paling tahu tentang syair Arab. Tidak ada yang lebih pandai tentang hal itu, kecuali aku. Sungguh, apa yang dibaca Muhammad itu bukanlah ucapan manusia. Dia itu tinggi. Tidak ada yang lebih tinggi darinya.” [MNews/RY-YG]

Sumber: MR Kurnia, dkk, Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif.

Bersambung ke “Mengenali Potensi” Bagian 7/7.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *