Muslimin Palestina Kukuh Menjaga Identitas dan Ketersambungan Perjuangan Islam

Muslimin Palestina Kukuh Menjaga Identitas dan Ketersambungan Perjuangan Islam

Muslimah News, FOKUS — Saat ini muslimin di Palestina terus berusaha dimusnahkan dari muka bumi, baik melalui serangan militer maupun nonmiliter. Salah satu serangan nonmiliter adalah melalui perubahan kurikulum pendidikan.

Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melakukan revisi pada kurikulum buku pelajaran geografi. Para siswa dan orang tua menemukan dalam buku yang sudah direvisi terjadi penghapusan kata “Palestina” dari peta dan teks buku geografi. Istilah Palestina diganti dengan penyebutan spesifik wilayah, yaitu “Tepi Barat” (West Bank) dan “Jalur Gaza”.

Hal ini menimbulkan gelombang protes di kamp-kamp pengungsian Palestina di Lebanon selama dua pekan terakhir. Muslimin Palestina menilai kebijakan UNRWA tersebut merupakan serangan langsung terhadap identitas Palestina. Para orang tua dan guru khawatir penghapusan identitas Palestina dari pendidikan akan memutus ikatan generasi muda dengan sejarah dan perjuangan bangsanya.

Kebijakan UNRWA tidak hanya mencakup penghapusan nama Palestina, tetapi juga pelarangan penggunaan peta Palestina dan penghilangan seluruh referensi mengenai perjuangan nasional Palestina dari kurikulum sekolah. UNRWA juga melarang penggunaan atau penampilan simbol-simbol nasional seperti kafiyeh dan peta Palestina. Bahkan, badan PBB ini menjatuhkan sanksi terhadap staf dan guru atas setiap aktivitas atau ekspresi yang dinilai memiliki dimensi nasional.

Atas hal ini, Komite Aksi Publik Hamas di Lebanon menyatakan bahwa UNRWA menjalankan kampanye sistematis untuk menargetkan identitas nasional Palestina. Hamas menilai kebijakan tersebut bukan sekadar administratif, tetapi bagian dari upaya terstruktur untuk menghapus kesadaran nasional Palestina dan mengaburkan perjuangan rakyat Palestina dari benak generasi muda pengungsi.

Hamas menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut secara langsung menyasar inti perjuangan dan identitas nasional Palestina. Mereka menilai kebijakan ini sejalan dengan kepentingan pendudukan Zion*s yang selama beberapa dekade berusaha menghapus narasi perjuangan Palestina serta mencabut konten historis dan nasionalnya dari ruang publik dan pendidikan. Hamas menyebutnya sebagai “serangan peradaban, budaya, dan politik” terhadap rakyat Palestina dan perjuangan mereka yang sah.

Ini bukan kali pertama muslimin Palestina melakukan aksi protes terhadap UNRWA. Sebelumnya telah terjadi sejumlah insiden hingga warga melakukan aksi protes sebagai bentuk penolakan terhadap upaya peminggiran dimensi nasional Palestina dalam proses pendidikan. Warga Palestina juga menilai UNRWA tunduk pada tekanan politik internasional yang sejatinya bertentangan dengan mandat PBB yang menekankan perlindungan hak-hak pengungsi Palestina serta pelestarian memori nasional dan narasi sejarah mereka sebagai korban pendudukan dan pengusiran paksa.

Upaya mengubah kurikulum Palestina telah terjadi sejak lama. Dua tahun lalu sebuah komite wali murid di salah satu sekolah di Yerusalem melakukan kajian perbandingan antara kurikulum Palestina yang asli dengan kurikulum yang telah diubah dan diwajibkan oleh Zion*s. Hasilnya, Zion*s berusaha mengubah mata pelajaran yang membentuk identitas, karakter, dan kesadaran, seperti Pendidikan Agama Islam, Bahasa Arab, Sejarah, dan Pendidikan Kewarganegaraan. Perubahan tersebut jumlahnya puluhan, mencakup seluruh jenjang pendidikan, dan makin mendalam dari tahun ke tahun.

Kurikulum Pendidikan Palestina, Kurikulum Perjuangan

Zion*s dan AS telah berusaha melenyapkan muslimin Palestina dengan genosida dan berbagai serangan brutal hingga melampaui batas kemanusiaan selama beberapa dekade. Namun, mereka tidak kunjung bisa menaklukkan Palestina. Gelombang perjuangan muslimin Palestina, utamanya Gaza, tidak pernah surut. Meski sudah tidak terhitung jumlah mujahidin yang syahid, mujahidin baru siap menggantikan posisi pendahulunya. Ini merupakan ketersambungan perjuangan yang telah terbangun dari generasi ke generasi.

Di Indonesia maupun belahan bumi lainnya deras pembahasan tentang perbedaan karakter generasi tua dan muda. Dampaknya, muncul perbedaan pandangan hidup di antara keduanya yang memicu konflik antargenerasi. Namun, Gaza tidak mengalami hal ini. Di sana, ruh perjuangan terus terwariskan dari generasi tua ke generasi muda. Semua generasi di Gaza adalah pejuang, baik kakek-nenek, orang tua, pemuda, maupun anak-anak. Laki-laki maupun perempuan adalah pejuang.

Salah satu contoh konkret atas hal ini adalah keluarga Saleh al-Jaraafi, jurnalis dari Gaza yang syahid tahun lalu pada usia 28 tahun. Kedua orang tuanya adalah hafiz Al-Qur’an dan merupakan ulama dalam bidang tersebut. Sebuah video menggambarkan kedua orang tuanya menguji para pemuda yang ujian hafalan. Sedangkan, dua adik perempuannya yang juga hafiz Al-Qur’an sedang mengajukan hafalan pada saat itu. Adapun kakak laki-lakinya menjadi tahanan Zion*s selama bertahun-tahun hingga baru bebas setelah Saleh wafat. Keluarga Saleh adalah miniatur keluarga-keluarga di Gaza.

Video-video tentang keluarga Abu Ubaidah yang dirilis setelah syahidnya sang jubir Hamas juga menunjukkan hal serupa. Semua anggota keluarga adalah penghafal Al-Qur’an, ibu berperan sentral mendidik anak-anak dengan Al-Qur’an dan ilmu Islam lainnya. Ayah tidak hanya bekerja menafkahi keluarga, tetapi juga berjuang untuk Islam dan menanamkan ilmu agama pada anak-anak.

Ilmu Al-Qur’an adalah ilmu yang diwariskan secara turun-temurun sebagaimana Rasulullah saw. juga mewariskannya pada umat Islam. Kedekatan Al-Qur’an tergambar dalam jawaban Abu Ubaidah ketika ditanya Ibrahim, sang putra, tentang sebab dirinya masih mengkhatamkan Al-Qur’an setiap 1—3 hari sekali, padahal jihad telah sangat menyibukkannya. Ia menjawab, “Duhai anakku, bagaimana ini semua bisa menang dan sukses tanpa Al-Qur’an?”

Tidak hanya ilmu Al-Qur’an, ilmu tentang agama Islam—dari akidah hingga syariat—juga intens diajarkan pada anak-anak Gaza. Meski kondisi pengungsian jauh dari kata layak, dengan sarana dan prasarana seadanya, anak-anak tetap memperoleh pendidikan yang terfokus pada Al-Qur’an dan ilmu agama.

Media Qudsn mengabarkan bahwa muslimin Palestina menolak kurikulum buatan UNESCO. Ini merupakan salah satu hal yang paling dibenci Zion*s. Mereka menyadari, selama kurikulum pendidikan Gaza masih murni Islam dan tidak diinfiltrasi oleh Barat, api perjuangan Gaza akan terus menyala.

Hasilnya sungguh luar biasa. Meski dalam kondisi sulit, Palestina mampu mencetak para penghafal Al-Qur’an. Pada Kamis (25-12-2025) muslimin di Kamp Pengungsi Al-Shati, Kota Gaza melaksanakan wisuda terhadap 500 penghafal Al-Qur’an. Tidak hanya belajar agama, muslimin Palestina juga belajar sains, kedokteran, sejarah, dan ilmu lainnya. Pada Sabtu (3-1-2026), Gaza merayakan wisuda 230 dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar dan Universitas Islam Gaza.

Sulit dibayangkan, di bawah bombardir bom dan kondisi wilayah yang porak-poranda, juga keterbatasan akses makanan, pakaian, dan alat untuk belajar, mereka tetap semangat belajar dan berhasil lulus. Pada saat yang sama, girah Islam tetap membuncah di dada mereka sehingga melahirkan para pejuang yang tidak kenal kata menyerah. Inilah kekuatan pendidikan berasas akidah Islam. Inilah rahasia muslimin Gaza tetap berdiri tegak melawan pendudukan selama berpuluh-puluh tahun. Mereka tidak tumbang, meski dunia menggencet dan penguasa negeri-negeri muslim tidak acuh.

Sayang, saat Gaza bersikukuh mempertahankan Islam, justru negeri-negeri muslim melepaskan Islam dari sistem pendidikannya. Ini tampak dari derasnya arus moderasi di dunia Islam. Toleransi ala kapitalisme, pluralisme, sekularisme, bahkan sinkretisme terus disampaikan pada anak didik sehingga mengubah identitas keislamannya.

Terbaru, Arab Saudi telah menghapus nama Palestina dari peta buku teks sekolah. Lembaga pemikir pro Zion*s  yang berbasis di Israel dan Inggris, IMPACT-se menyebut kurikulum Saudi terbaru menunjukkan perubahan signifikan pada buku teks dari tahun ajaran sebelumnya, bahkan dalam terminologi. Salah satunya adalah gambar dari buku teks Studi Sosial dan Nasional 2023—2024 yang menggambarkan peta Arab Saudi dan negara-negara sekitarnya, tetapi wilayah Palestina dibiarkan tanpa nama. 

Indonesia juga menjadi sasaran ajaran pro Yahudi. Rabbi Yahudi bernama Yehuda Kaploun telah ditunjuk oleh Trump untuk mengubah buku ajar Indonesia agar tidak anti-Yahudi.

Akibat dari melepaskan ideologi Islam, Indonesia dan dunia Islam kehilangan kepemimpinan atas rakyatnya dan bangsa lain. Umat Islam tercerai berai, negeri mereka terjajah, pemerintahannya disetir, SDA mereka dirampok oleh negara-negara Barat, dan rakyat mereka tertindas, bahkan mengalami genosida. Sungguh kehinaan meliputi dunia Islam karena meninggalkan pemikiran Islam.

Semua ini berkebalikan dengan kondisi umat Islam ketika mengemban pemikiran Islam ideologis dalam wujud Khilafah Islamiah. Di bawah naungan Khilafah, umat Islam menjadi negara yang kuat, sejahtera, dan memimpin negeri-negeri lain. Kemuliaan meliputi setiap jengkal wilayahnya hingga banyak bangsa yang ingin menjadi bagian darinya. Inilah kebangkitan yang sesungguhnya.

Kekuatan Pemikiran Islam, Kunci Kemenangan Umat

Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya. Agar manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain. Ini karena pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat persepsi (mafahim) terhadap segala sesuatu. Di samping itu, manusia selalu mengatur tingkah lakunya dalam kehidupan ini sesuai dengan mafahim-nya terhadap kehidupan. (Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhamul Islam, hlm. 7).

Pemikiran yang benar tentang ideologi Islam akan mewujudkan pemahaman yang benar pada sebuah bangsa. Akidah Islam menjadi kaidah berpikir (qaidah fikriyah) dan kepemimpinan berpikir (qiyadah fikriyah) sehingga mampu menghalau dan mengalahkan pemikiran asing yang bertentangan dengan Islam. Islam tidak hanya diposisikan sebagai ajaran spiritual, tetapi juga politik, yaitu sebagai ideologi.

Kekuatan pemikiran inilah yang harusnya ada di tengah umat Islam di Indonesia maupun dunia, agar umat Islam meraih kepemimpinan dan terlepas dari penjajahan Barat. Kepemimpinan Islam dalam kancah kehidupan akan mewujud berupa sistem Islam (Khilafah) yang berposisi sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (perisai/pelindung) rakyat dari berbagai serangan yang dilancarkan orang-orang kafir.

Khilafah akan menegakkan kewajiban jihad, baik untuk melindungi wilayah umat Islam (defensif) maupun untuk menyebarkan cahaya Islam (ofensif). Dengan penegakan jihad, seluruh negeri muslim yang terjajah, termasuk Palestina, akan dibebaskan dengan kekuatan militer yang menggentarkan sebagaimana perintah Allah Taala dalam QS Al-Anfal ayat 60,

وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ

“Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain mereka.”

Umat Islam harus senantiasa ingat peringatan Allah Ta’ala dalam QS Al-Baqarah ayat 120 tentang kebencian dan makar orang-orang Yahudi dan Nasrani pada mereka,

وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْۗ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau mengikuti millah (jalan hidup) mereka.”

Juga firman-Nya dalam QS Ali Imran ayat 54,

وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَࣖ

“Mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya dan Allah pun membalas tipu daya (mereka). Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Khilafah akan menanamkan pemikiran Islam ideologis pada generasi penerus melalui sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam dan kurikulumnya bersumber dari Islam (Al-Qur’an dan Sunah). Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam Masyru’ ad-Dustur Pasal 170,

يَجِبُ أَنْ يَكُوْنَ اْلأَسَاسُ الَّذِيْ يُقُوْمُ عَلَيْهِ مَنْهَجُ التَّعْلِيْمِ هُوَ الْعَقِيْدَة اْلإِسْلاَمِيَّةُ، فَتُوْضَعُ مَوَادُ الدِّرَاسَةِ وَطُرُقُ التَّدْرِيْسِ جَمِيْعُهَا عَلَى الْوَجْهِ الَّذِيْ لاَ يَحْدُثُ أَيُ خُرُوْجٍ فِي التَّعْلِيْمِ عَنْ هَذَا اْلأَسَاسِ .

“Asas yang melandasi kurikulum pendidikan harus akidah Islam. Seluruh mata pelajaran dan metode pengajaran dibuat sedemikian rupa sehingga dalam pendidikan tidak terjadi penyimpangan sedikit pun dari asas tersebut.”

Sistem pendidikan Islam akan menanamkan akidah yang kukuh, keterikatan pada syariat, sikap bersegera menyambut seruan dakwah dan jihad, serta menancapkan kekuatan ruhiyah (idrak sillah billah/kesadaran akan hubungan dengan Allah) pada tiap generasi umat Islam. Dengan demikian, terjadi ketersambungan risalah Islam dan ruh perjuangan antargenerasi.

Gambaran ketersambungan perjuangan itu di antaranya adalah penaklukan Konstantinopel yang dikabarkan pada masa Rasulullah saw. saat beliau saw. ditanya, “Manakah dari dua kota yang akan ditaklukkan lebih dahulu, apakah Konstantinopel atau Roma?” Rasulullah saw. menjawab, “Kota Heraklius yang akan ditaklukkan lebih dahulu.” Maksudnya adalah kota Konstantinopel.” (HR Ahmad, 2/176).

Kabar gembira ini disambut para sahabat dengan gencar melakukan jihad dipimpin Rasulullah dan khulafa penerus beliau saw. Kemudian dilanjutkan upaya dakwah dan jihad yang dipimpin oleh khulafa Bani Umayah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah hingga cahaya Islam menyapa benua Eropa. Puncaknya adalah penaklukan Konstantinopel oleh pasukan Muhammad Al-Fatih pada masa Khilafah Utsmaniyah.

Oleh karenanya, diperlukan aktivitas dakwah mengemban ideologi Islam untuk mewujudkan Khilafah. Dakwah ini haruslah bersifat fikriyah (pemikiran) dan siyasiyah (politis) agar mampu membersihkan pemikiran umat Islam dari ide-ide kufur agar menjadi pemikiran yang islami sehingga terwujud kebangkitan hakiki. Wallahualam bisaawab. [MNews/RR-NA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *