Muslimah News, FOKUS —Generasi hari ini lahir di tengah krisis berkelanjutan, baik krisis ekonomi, kemiskinan, kesenjangan, korupsi, sosial, dan berbagai krisis lainnya yang terjadi di seluruh dunia. Seiring perkembangan dunia digital dan vitalitas yang ada dalam diri pemuda mendorong mereka untuk melakukan perubahan.
Sebagai contohnya, pemerintahan Bulgaria runtuh pada Kamis 11 Desember 2025 lalu setelah Perdana Menteri Rosen Zhelyazkov mengumumkan pengunduran diri di Parlemen menyusul gelombang demonstrasi besar-besaran yang dimotori generasi muda. Korupsi yang mengakar di negeri itu serta para elit politiknya yang hanya mementingkan diri sendiri tidak merasakan kesulitan yang dihadapi rakyat jelata, menjadi pemicu utama aksi.
Sebelumnya generasi muda juga menjadi motor aksi demonstrasi di berbagai negara seperti Bangladesh, Nepal, Kenya, Madagaskar, Indonesia, dan lainnya. Generasi muda dikenal kritis dan berani menyuarakan ketidakadilan, kemiskinan, penguasa yang korup, serta masalah sosial lainnya. Pola pergerakan mereka bersifat cepat dan luas yang mereka sebut sebagai gerakan glocal, aktivisme lokal yang dilakukan secara offline yang diperluas melalui media sosial sehingga menjangkau skala global seiring posisi mereka sebagai digital natives.
Tidak Netral
Saat generasi muda memperluas pergerakan perubahan melalui ruang digital, perlu disadari bahwa media sosial sebagai salah satu wujud dan penggerak utama digitalisasi ternyata tidaklah netral. Media sosial dimanfaatkan oleh kapitalisme untuk mengukuhkan ideologinya. Kapitalisme memang memberikan ruang penyaluran kemarahan rakyat termasuk generasi muda melalui media sosial. Tidak heran, pergerakan offline bisa tersebar luas di media sosial.
Meski demikian, pada saat yang sama kapitalisme membatasi hingga memblokir akun-akun yang menawarkan ideologi Islam sebagai solusi atas semua keresahan yang dirasakan generasi, termasuk tawaran solusi untuk mengatasi kezaliman rezim serta perubahan sistem. Kapitalisme mengendalikan kemarahan publik agar tidak berkembang menjadi kesadaran ideologis yang mengancam keberlangsungan ideologi kapitalisme.
Kapitalisme mengarahkan narasi meruntuhkan rezim yang disuarakan generasi muda direduksi menjadi persoalan individu pemimpin semata, seperti pemimpin yang korup, otoriter, tidak peduli rakyat, atau tidak kompeten. Solusi pun dibatasi secara sempit pada mekanisme pergantian elite melalui pemilu, reshuffle kabinet, atau rotasi kekuasaan di antara kelompok yang masih berada dalam sistem yang sama, yakni kapitalisme.
Dengan arahan kapitalisme seperti ini arah perubahan melawan ketidakadilan yang dilakukan generasi muda menjadi gerakan yang rapuh tidak sampai kepada perubahan sistem. Kerapuhan ini bukan karena ketidaktulusan generasi melakukan perubahan namun karena hilangnya fondasi ideologi Islam yang seharusnya menuntun, mengarahkan, dan menguatkan perjuangan mereka seiring keruntuhan peradaban Islam. Pada titik inilah urgensi membina generasi dengan ideologi Islam agar memiliki arah yang jelas dalam melakukan perubahan.
Anak Adalah Amanah Bagi Orang Tua
Untuk membina generasi dengan ideologi Islam tidak bisa dilepaskan dari peran dan tanggung jawab orang tua. Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa corak anak tergantung dari pendidikan yang dilakukan oleh orang tuanya, sebagaimana sabda beliau, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Muslim).
Setiap anak dilahirkan dalam fitrah keislaman, sentuhan orang tuanyalah yang akan menentukan corak anak. Sentuhan ini jika dikaitkan dengan model pengasuhan dan pendidikan yang senantiasa terhubung dengan Allah (idrak silah billah) akan sangat dipengaruhi oleh kesadaran politik orang tuanya. Kesadaran politik dalam makna mengatur seluruh urusan manusia dengan Islam yang dimiliki orang tua akan membawa mereka pada upaya totalitas pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya.
Harus ada kesadaran bahwa orang tua adalah penanggung jawab utama tertanamnya visi politik Islam pada diri anak. Orang tua juga penanggungjawab dalam mengawal terwujudnya kematangan politik anak dalam proses pendidikan yang mereka jalankan. Pola pendidikan seperti itu tidak hanya membuat anak terbiasa dalam ketaatan untuk menjalankan syariat, tetapi juga siap melakukan perubahan dengan menegakkan peradaban Islam dan memimpin umat. Inilah amanah besar yang harus dipikul orang tua termasuk ibu.
Peran Ibu Ideologis
Sebagai ibu generasi (ummu ajyal) peran ideal seorang ibu dalam Islam tidak dipahami sekadar urusan domestik, melainkan sebagai pilar peradaban yang menentukan arah kehidupan umat. Ibu memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk generasi yang berkualitas yang juga memiliki pemahaman ideologis.
Ibu ideologis adalah ibu yang memahami Islam secara kafah, yakni memahami Islam sebagai sebuah ideologi yang memiliki seperangkat aturan menyeluruh dan sempurna tentang kehidupan yang lahir dari akidah Islam. Dengan pemahaman itu ia akan mampu mendidik anak-anaknya dengan ideologi Islam. la mampu merumuskan desain pembinaan dan pendidikan yang terencana, terstruktur, dan terbaik bagi anak-anaknya, sehingga tidak meninggalkan generasi lemah, sebab Allah Swt. melarang hambaNya meninggalkan generasi lemah. “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah…” (QS An-Nisa’ [4]: 9).
Di tengah gempuran peradaban kapitalisme yang rusak dan merusak, ibu ideologis dituntut untuk terus belajar, serta membina dan mengembangkan diri dengan tsaqafah Islam agar mampu menyikapi setiap peristiwa yang terjadi dengan sudut pandang Islam. Terlebih pada era baru kapitalisme, peran orang tua seolah-olah bersaing dengan platform digital yang membersamai generasi.
Era digital meniscayakan perubahan sosial yang begitu cepat, namun tidak pernah mengarah pada perbaikan yang mendasar. Oleh sebab itu, seorang ibu harus melek fakta kerusakan dan menguasai digitalisasi agar mampu mengarahkan generasi sehingga tidak terbawa arus yang merusak.
Dengan terus belajar tsaqafah Islam dan melek fakta kerusakan, ibu akan mampu memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Dengan itu akan lahir generasi yang memiliki misi sebagai hamba Allah yang taat (’abdullah), sebagai pemimpin yang mampu memakmurkan bumi dengan nilai-nilai Islam (khalifatullah fil ‘ardh), dan sebagai anggota masyarakat yang memberi manfaat bagi umat (khairu ummah).
Sejarah telah mencatat bahwa kebangkitan umat selalu berawal dari rahim para ibu yang sadar akan misi hidup dalam sistem Islam dan berjuang mencetak generasi penakluk yang menjadikan surga sebagai tujuan tertinggi.
Kita bisa merefleksi kisah ibunda Imam Syafi’i yang membesarkannya dalam keterbatasan ekonomi. Namun, dengan visi keilmuan dan ketakwaan yang tinggi, beliau mampu mencetak seorang mujtahid Islam. Juga kisah ibunda Muhammad al-Fatih yang mendidiknya dengan kesabaran dan ketabahan, sehingga lahir seorang sultan berusia 23 tahun yang berhasil membebaskan Konstantinopel. Padahal, sebelumnya kaum muslim sudah berusaha membebaskannya selama 800 tahun, tetapi belum berhasil. Sedangkan, ibunda Shalahuddin al-Ayyubi menanamkan kecintaan Shalahuddin pada jihad sejak kecil sehingga ia tumbuh menjadi pemimpin yang menggentarkan daratan Eropa.
Demikianlah gambaran para ibu ideologis yang berhasil mengarahkan dan mendidik generasi sebagai pemimpin dan pembebas yang memiliki semangat tinggi untuk mengamalkan dan memperjuangkan Islam. Hal itu karena spirit para ibu adalah firman Allah Swt. “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan [25]: 74).
Menjadi Bagian dari Jemaah Dakwah Ideologis
Peran Ibu tidak cukup hanya dengan mendidik anak secara individual, tetapi juga harus dibarengi dengan upaya mengubah sistem sekuler kapitalisme yang rusak menjadi sistem Islam (Khilafah).
Cita-cita besar untuk mewujudkan Khilafah tidak mungkin diwujudkan oleh perorangan. Oleh karena itu, Allah Swt. membebankan tujuan besar ini kepada jemaah. Allah Swt. berfirman, ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan (Islam), menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104).
Upaya menegakkan Khilafah hanya bisa dicapai dengan dakwah secara kolektif (dakwah berjemaah), serta terlibat aktif dalam dakwah melanjutkan kehidupan Islam. Caranya dengan bersama-sama mengkaji Islam kafah secara intensif, memahami hukum-hukumnya, serta menjadikannya sebagai panduan hidup dan panduan politik. Pada saat yang sama, para ibu yang sudah paham akan mengajak ibu lain yang belum paham agar bersama-sama berdakwah dalam jemaah, karena dakwah merupakan kewajiban dari Allah Swt.
Dengan pemikiran dan tsaqafah Islamnya yang sistemis dan menyeluruh, jemaah dakwah ideologis ini akan mudah membaca kebusukan sekularisme, kecacatan kapitalisme, kerusakan demokrasi, termasuk bahaya dan kerusakan hegemoni digital yang lahir dari platform digital produk kapitalisme.
Kapasitas jemaah dakwah seperti ini membuat mudah diterima oleh umat dengan penerimaan penuh kesadaran karena membuat mereka semakin tersadarkan dan tercerahkan dengan ideologi Islam. Jemaah ini tidak kenal lelah menyuarakan Islam, mengartikulasikan keresahan umat, berdiri di depan kezaliman, hingga menyingkap tabir penjajahan, termasuk menyingkap keburukan hegemoni digital.
Bersama Memikul Dakwah
Para ibu ideologis juga harus serius dalam upaya merangkul putra-putrinya agar bersama-sama bergabung ke dalam jemaah dakwah. Hal ini diiringi dengan aktivitas mengajak mereka berpikir benar dan mendalam, serta peka dan peduli terhadap problematik umat.
Ini akan menjadi kekuatan jemaah yang aktivitasnya terorganisir tanpa menyimpang sedikit pun dari Islam. Jemaah akan memberikan ruang diskusi pada generasi untuk membangun kesadaran terhadap realitas yang buruk, tujuan yang akan diwujudkan, serta jalan untuk mewujudkan tujuan tersebut. Kesadaran seperti inilah yang tidak akan menyia-nyiakan kepedulian serta potensi generasi muda.
Mereka tidak akan tunduk pada AS yang sedang sakit. Mereka menganggap hanya Islam yang unggul hingga tidak ada yang bisa melampauinya. Mereka menganggap politik sebagai aktivitas untuk mengurus umat dengan syariat Islam, baik secara domestik maupun internasional. Think globally act locally menjadi prinsip mereka. Merekalah yang dapat menyelamatkan seluruh dunia dari jurang kapitalisme.
Melemahnya kapitalisme di berbagai penjuru dunia mengindikasikan kerapuhannya. Kemampuan generasi muda untuk menumbangkan rezim kufur di negerinya masing-masing patut dibarengi dengan kesadaran akan solusi yang benar serta jalan yang harus ditempuh untuk menggapai solusi hakiki. Inilah harapan menuju kebangkitan Islam melalui tatanan dunia baru Khilafah ’ala min haj an-nubuwwah.
Demikianlah gambaran para ibu dan generasi yang disatukan dalam jemaah dakwah Islam ideologis. Mereka memiliki kesamaan visi untuk mengagungkan agama Allah dan perjuangan membelanya. Allah Swt. berfirman, “Allah mempersatukan hati mereka (kaum mukmin). Walaupun kalian membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kalian tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi, Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS Al-Anfal [8]: 63).
Sungguh, kontraksi peradaban akan terus bergulir. Jemaah dakwah Islam ideologis akan senantiasa hadir bersama umat mewakili kekuatan Islam yang mampu mengimbangi pertarungan gagasan dengan ideologi lain.
Jemaah dakwah itu juga akan terus mengambil peran sebagai pendukung umat yang terus memungkinkan perjuangan umat menggema di seluruh dunia. Mereka dipandu oleh akidah dan syariat Islam, bersatu menyongsong tegaknya peradaban Islam. Allah Taala berfirman, ”Dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman.” (QS Ar-Rum [30]: 4). [MNews/IA-NA]
#DuaGenerasiSatuAmanah
#GenerasiPeloporPerubahan
#GenerasiPenerusRisalahIslam
