Muslimah News, FOKUS — Generasi muda adalah tulang punggung peradaban. Pada setiap masa, kaum muda menjadi aktor utama terjadinya perubahan masyarakat. Wajah politik dunia 2025 adalah salah satu bukti nyata peran generasi muda yang menginginkan perubahan. Di sejumlah negara, generasi muda pada era digital ini ambil bagian mengkritisi rezim di negara mereka masing-masing.
Di Indonesia sendiri, Agustus 2025 ibarat titik balik gerak langkah generasi muda. Demo besar-besaran yang terjadi di depan Gedung DPR RI pada 25 Agustus 2025 merupakan buntut dari menyebarnya informasi terkait kenaikan tunjangan DPR yang menimbulkan kekecewaan bagi masyarakat. Padahal, banyak masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan dan belum mendapatkan perhatian dari pemerintah. Publik pun kian bergejolak akibat tersebarnya pernyataan sejumlah anggota DPR RI yang melukai masyarakat.
Gejolak publik tersebut didominasi kaum muda. Sistem yang tegak saat ini memang telah melahirkan banyak kezaliman sehingga membuat masyarakat, terutama generasi muda, bersuara menolak kezaliman dan menyerukan perubahan. Namun, kita juga harus berpikir lebih mendalam, bagaimana mengarahkan sikap kritis generasi muda agar menghasilkan perubahan yang benar?
Tantangan Generasi Muda pada Era Digital
Pada era serba digital, partisipasi politik tidak hanya berbentuk aksi turun langsung ke jalan. Ajakan dan sebaran informasi di media sosial turut berdampak besar memengaruhi keputusan politik. Pada aksi demo besar generasi muda Indonesia, unggahan serentak terkait aksi demo itu ramai di media sosial dan memenuhi lini masa sepanjang pekan terakhir Agustus 2025.
Generasi muda memang terkait erat dengan medsos. Sebanyak 35% generasi muda menggunakan media dengan berbagai platform lebih dari 6 jam per hari. Jelas, media digital berdampak nyata pada ketergantungan generasi muda terhadap teknologi.
Tanpa edukasi dan literasi digital yang memadai, generasi muda dapat kesulitan membedakan informasi sehingga dapat menyebabkan penyebaran informasi yang salah (hoaks). Padahal, tidak semua informasi itu bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan mereka.
Imbas screen time berlebihan dapat memicu gangguan kesehatan fisik dan mental, penurunan kemampuan sosial dan komunikasi, penurunan produktivitas dan fokus, bahkan membuat generasi muda rentan terpapar konten yang berbahaya sehingga memengaruhi perkembangan mental dan emosional mereka. Belum lagi potensi cyberbullying yang dapat menyebabkan depresi dan penurunan kepercayaan diri pada generasi muda.
Namun, miris, di balik teknologi digital itu terdapat kepentingan dan strategi bisnis para kapitalis besar. Ini tampak dari meningkatnya data pengguna media sosial. Jumlah pengguna harian aktif keluarga aplikasi Meta (Facebook, Instagram, Messenger, dan WhatsApp) mencapai 3,35 miliar pada Desember 2024, naik 5% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini jelas potensi ekonomi yang menjanjikan profit bisnis yang sangat menggiurkan.
Para kapitalis tidak peduli dengan kerusakan generasi muda akibat dari bisnis raksasa mereka. Mereka justru makin gencar dengan bisnisnya dan memberi ruang yang luas bagi penyebaran ide-ide sekuler kapitalistik. Ini adalah arus yang berbahaya karena sekularisasi berlindung di bawah payung ekonomi digital.
Kita patut khawatir, bonus demografi yang terletak pada pundak generasi muda di negeri ini akan berubah menjadi bencana demografi, karena sekularisasi telah terjadi dengan sangat privat pada masing-masing layar gawai kaum muda. Tidak sedikit konten digital yang mengikis nilai-nilai Islam hingga akhirnya kaum muda kian jauh dari agamanya.
Generasi Muda, Motor Perubahan
Demo besar Agustus 2025 menunjukkan peran para pemuda sebagai aktor perubahan masyarakat, bahkan menjadi motornya. Mereka memiliki potensi besar menjadi motor perubahan.
Perubahan tersebut tidak boleh pragmatis dan parsial, melainkan harus total dan fundamental. Suatu perubahan tidak bisa sekadar berbekal semangat yang pada titik tertentu akan hilang dan padam. Agar terukur dan terarah, perubahan total itu harus menggunakan ideologi sahih, yakni Islam.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menggambarkan konsep perubahan sahih ini di dalam kitabnya Mafahim Hizbut Tahrir. Beliau menyatakan, perbaikan individu tidak mungkin menghasilkan perbaikan masyarakat, dan individu tersebut tidak mungkin berada dalam keadaan baik terus-menerus. Perbaikan individu akan tercapai dengan jalan memperbaiki masyarakatnya. Jika masyarakatnya telah diperbaiki, dengan sendirinya individu akan dapat diperbaiki pula.
Di dalam kitab yang sama, beliau juga menggambarkan bahwa masyarakat itu seperti halnya air yang berada dalam sebuah tempayan besar. Jika di sekelilingnya diletakkan sesuatu yang membekukan, air itu akan membeku lalu mengeras menjadi es. Begitu pula masyarakat, jika di tengah-tengah masyarakat tegak berbagai ideologi yang rusak, mereka akan dikungkung kerusakan dan akan terus merosot, serta terbelakang.
Sebaliknya, jika di tengah-tengah masyarakat terdapat ideologi yang sahih, ideologi itu akan menghangatkan masyarakat, kemudian membara, hingga akhirnya mampu mengubah, menggerakkan serta mendorong terjadinya perubahan masyarakat. Inilah arti pentingnya, bahwa perubahan di tengah masyarakat harus dilandasi ideologi.
Masyarakat bukanlah sekadar kumpulan individu, melainkan entitas tempat bersatunya pemikiran, perasaan, dan peraturan hidup. Oleh karena itu, perubahan ideologis adalah satu-satunya perubahan yang sahih bagi suatu masyarakat. Perubahan ini akan terwujud melalui proses dakwah yang ditujukan untuk meluruskan pemikiran, perasaan, dan peraturan hidup.
Butuh Pembinaan Islam Kafah
Tantangan sekularisasi digital yang mengakibatkan krisis identitas dan keimanan pada generasi muda harus diatasi dengan membangun fondasi identitas muslim yang kuat dalam diri mereka melalui pembinaan Islam kafah. Pembinaan ini diarahkan untuk mewujudkan generasi muslim yang sadar dan siap melakukan perubahan ideologis, yakni dengan menjadikan mereka bagian dari jemaah dakwah yang mengemban dakwah Islam di tengah masyarakat.
Mereka dibina di dalam jemaah dakwah dari aspek akidah dan tsaqafah Islam sebagai bekal untuk melakukan pergolakan pemikiran (shira’ul fikri) serta membongkar strategi busuk (kasyful khuththath) para penjajah. Mereka juga berperan untuk memutus kepercayaan masyarakat terhadap penguasa zalim agen penjajah (dharbul ‘alaqat), karena penguasa zalim adalah penjaga ideologi kufur.
Untuk itu, hendaklah generasi muda sadar dengan konsep perubahan hakiki sekaligus berperan aktif dalam perjuangan menuju perubahan tersebut. Mereka sadar sepenuhnya untuk memosisikan gawai sebagai madaniyah (hasil perkembangan iptek) yang hukum asalnya mubah (boleh), tetapi mereka juga paham bahwa dunia digital tengah di hegemoni oleh Barat kapitalis. Gawai harus menjadi pendukung dakwah, bukan instrumen yang melenakan dan melalaikan dari kewajiban dakwah.
Pemahaman tentang madaniyah ini penting karena madaniyah akan berjalan menurut ideologi yang melahirkan dan memeliharanya. Ketika ideologi itu adalah ideologi sekuler kapitalisme, madaniyah akan menjadi alat penghancur generasi. Bahkan, generasi muda menjadi korban kapitalisasi di dunia digital.
Dengan demikian, pembinaan Islam ideologis bagi generasi muda adalah sebuah kebutuhan, bukan pilihan. Peran mereka sebagai hamba Allah di muka bumi adalah menjadi pelopor perubahan menuju peradaban Islam.
Meneladan Metode Pembinaan Rasulullah Saw. terhadap Generasi Muslim
Rasulullah Muhammad saw. membina para sahabat dengan menanamkan akidah Islam dan membentuk kepribadian Islam sebagai perpaduan pola pikir islami dan pola sikap islami. Rasulullah menyampaikan Islam sebagai qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir). Hasilnya, para sahabat tidak sekadar masuk Islam, tapi juga menjadi pengemban, pembela, dan pejuangnya.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan di dalam kitabnya Ad-Daulah al-Islamiyyah, bahwa setelah membina para sahabat, Rasulullah saw. meyakini keluhuran pemikiran dan jiwa mereka. Beliau juga menyaksikan kesadaran mereka atas hubungannya dengan Allah tampak menonjol pengaruhnya dalam perilaku mereka sehingga perasaan beliau menjadi sangat senang.
Aktivitas pembinaan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. menjadikan generasi muda paham bahwa Islam bukan sekadar agama, tapi aturan hidup (way of life). Islam dipahami sebagai ideologi (mabda’), bukan sebatas nilai spiritualitas. Kepribadian islami para sahabat adalah wujud nyata keterikatan mereka terhadap hukum syarak. Perjuangan mereka adalah bentuk pengorbanan untuk membela dan mendakwahkan Islam.
Para sahabat menyertai Rasulullah saw. dalam menapaki dakwah sejak periode Makkah. Kepribadian yang kukuh pada diri para sahabat menjadi bekal penting peralihan tahapan (marhalah) dakwah, dari pembinaan (tatsqif) menuju interaksi dengan umat (tafa’ul ma’al ummah) hingga pengambilalihan kekuasaan (istilamul hukmi).
Tegaknya negara Islam di Madinah adalah bukti keberhasilan dakwah Islam ideologis. Aktivitas dakwah Rasulullah saw. bukanlah dakwah yang setengah-setengah, apalagi berkompromi dengan kekuasaan kaum kafir Quraisy. Beliau juga menolak sikap kabilah Arab lain di sekitar Makkah yang berniat mengompromikan kekuasaan saat beliau melakukan thalabun nushrah (meminta pertolongan) untuk menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan.
Ini semua potret dakwah Islam kafah yang telah Rasulullah saw. contohkan secara langsung. Dakwah beliau tidak pragmatis, melainkan total demi tegaknya sistem Islam secara kafah. Pembinaan yang beliau lakukan kepada para sahabat terbukti menghasilkan sosok-sosok tangguh dan tidak mudah menyerah. Mereka siap menjadi pelopor perubahan mewujudkan peradaban Islam karena ketahanan ideologi yang mereka miliki.
Kita mendapati gambaran ketangguhan itu, seperti pada kisah Bilal bin Rabbah yang ditindih batu oleh majikannya di bawah terik matahari. Kita juga menyaksikan ketangguhan keluarga Yasir mempertahankan akidahnya meski mereka bukan kalangan berada, bahkan menerima siksaan dari kafir Quraisy hingga Sumayyah (istri Yasir) syahid.
Kisah para sahabat binaan Rasulullah saw. adalah bukti nyata peran pemuda sebagai pelopor perubahan dan pemimpin peradaban yang tercatat oleh tinta emas sejarah peradaban Islam yang bertahan hingga 13 abad. Generasi muda kekinian semestinya menjadikan mereka role model untuk menjalani hidup dan terlibat aktif dalam aktivitas dakwah ideologis. Wallahualam bissawab. [MNews/PA-RR]
#DuaGenerasiSatuAmanah
#GenerasiPeloporPerubahan
#GenerasiPenerusRisalahIslam
