Muslimah News, LENSA DAERAH — Kebahagiaan sejati harus dipandu oleh hukum syariat. Hal ini disampaikan aktivis muda FP BEM 2021, Zakiah Darajat, dalam perhelatan Next Level Activism: “GenZ’s Journey to Happiness” di Yogyakarta, Ahad (12-10-2025).
“Kebahagiaan sejati bukan kebebasan untuk memilih, free to choice,, tetapi harus dipandu oleh hukum syariat, guided by sharia law. Kebahagiaan hidup menurut Islam adalah mendapatkan rida Allah Swt., bukan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan jasmani manusia,” tuturnya.
Hal ini, lanjutnya, sebagaimana dijelaskan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam. “Pemuasan kebutuhan manusia, baik yang bersifat jasmani maupun naluri, merupakan sarana mutlak untuk menjaga kelangsungan hidup manusia, tetapi tidak menjamin adanya kebahagiaan,” ucapnya.
Ia pun mengajak Gen Z meniatkan diri mengkaji Islam kafah. “Bismillah, tiap pekan aku berjanji untuk mengkaji Islam secara kafah agar semakin mengenal dan mencintai syariat Allah sebagai jalan hidupku,” ujarnya.
Wasiat Rasulullah
Hal serupa diutarakan aktivis dan influencer dakwah Raden Roro Ranty Kusumaningayu, S.Si. bahwa kaum muslim harus menerapkan Islam secara kafah sebagaimana wasiat Rasulullah saw..
“Namun, untuk menerapkan Islam secara kafah diperlukan institusi sebuah negara yang disebut Khilafah,” jelasnya.
Adapun tugas Khilafah, lanjutnya, pertama, menjamin kebutuhan dan kesejahteraan. “Enggak perlu dipaksa menjadi strong woman untuk mencari cuan. Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) sebagaimana disebut dalam QS An-Nisa: 32 bahwa nafkah perempuan dijamin oleh ayah, suami, dan negara,” ujarnya.
Sementara sistem sekuler demokrasi kapitalisme, ungkapnya, enggan menjadikan agama sebagai basis kehidupan bermasyarakat dan bernegara. “Dalam sistem sekuler demokrasi kapitalisme, perempuan menjadi tulang punggung,” ucapnya.
Kedua, sebutnya, Khilafah menghargai wanita dari iman dan takwa, bukan tubuhnya. “Allah berfirman dalam Al-Hujurat: 13, ‘Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.’ Hijab dan tidak tabaruj bukan tekanan, tetapi perlindungan dan identitas muslimah,” imbuhnya.
Sedangkan dalam sistem sekuler demokrasi kapitalisme, sambungnya, tubuh perempuan menjadi objek bisnis dan marketing. “Negara seperti menikmati stresnya anak bangsa demi cuan pajak ekonomi digital,” kritiknya.
Ketiga, tuturnya, Khilafah memandang laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama, tetapi tidak disuruh sama. “Hak perempuan itu dijaga agar perannya sesuai fitrah. Dalam Khilafah, kita tidak perlu pura-pura kuat karena kita berhak dilindungi dan dimuliakan,” cetusnya.
Keempat, paparnya, Khilafah menjamin pendidikan gratis dan layak sesuai sabda Rasulullah saw. riwayat Ibnu Majah, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan.”
Ranty menerangkan, pendidikan Islam membentuk kepribadian Islam berilmu tinggi, tanpa harus kehilangan jati diri. “Namun dalam sistem pendidikan sekuler kapitalisme yang materialistis tidak menganggap penting penguasaan ilmu, apalagi integritas intelektual,” terangnya.
Kelima, urainya, Khilafah melindungi perempuan dari eksploitasi digital dan kejahatan seksual. Allah Swt. berfirman dalam QS An-Nur: 31, “Katakanlah kepada wanita beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya.”
Sistem pergaulan Islam bukan kekangan, jelasnya, tetapi pelindung dari luka hati, maksiat, dan rusaknya masa depan. “Misalnya, larangan pacaran dan zina bukanlah menyusahkan, tetapi menyelamatkan dari rusaknya hati, harga diri, dan masa depan,” imbuhnya.
Ranty menyatakan, sistem hukum sekuler tidak ada ketegasan. “Menurut data Komnas Perempuan 2023, ada 45% remaja perempuan pernah mengalami pelecehan seksual secara online. Hari ini kita dibiarkan sendirian menghadapi beratnya hidup. Kita cuma alat dalam sistem kapitalisme yang haus profit,” urainya.
Sebaliknya, ia menuturkan, Khilafah adalah wujud kebersamaan dan cinta kasih sayang Allah Swt. kepada kita dengan menerapkan syariat Islam kafah. “Khilafah tidak membiarkan kita sendiri, kita dilindungi sebagaimana hadis riwayat Bukhari dan Muslim, ‘Pemimpin adalah penggembala, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.’,” terangnya.
Khilafah, tambahnya, menjamin kesejahteraan, kemuliaan, kebahagiaan, dan keamanan. “Maka, saatnya kita next level iman, next level perjuangan, dengan menerapkan Islam kafah di bawah institusi Khilafah,” tegasnya.
Jalan Dakwah
Berikutnya, aktivis kepemudaan Sely Selviana, S.Pd. menyampaikan bahwa sebagai seorang muslim, kerinduan kepada Rasulullah saw. hendaknya bukan sebatas di bibir, melainkan di jalan yang Rasul lalui, yaitu di jalan dakwah.
Menurutnya, tantangan dakwah kita saat ini berada di fase keempat. “Di fase ini, kita sedang menghadapi penguasa zalim yang tidak mau menerapkan aturan Allah Swt.. Namun juga harus diingat bahwa kita akan menuju di fase kelima, yaitu Khilafah. Pada fase ini tidaklah mudah, maka butuh perjuangan bersama,” ujarnya.
Sely menjelaskan, perjuangan dakwah membutuhkan kader yang terbina. “Pertama, kader yang memiliki keimanan kuat, yang lisannya mengungkapkan kebaikan, yang hatinya rindu kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, serta yang malamnya senantiasa khusyuk bersama Rabb-nya. Kedua, kader yang memiliki pemikiran Islam kafah. Ketiga, kader yang siap bersabar dan berkorban menanggung berbagai macam konsekuensinya,” paparnya.
Ia memandang, kader-kader yang terbina di zaman Rasul adalah dari kalangan para pemuda karena pemudalah yang paling siap menanggung beban dakwah ini. “Ini bukan soal hidup di zaman apa dan siapa, melainkan ini adalah soal pilihan hidup,” tandasnya. [MNews/Kontributor daerah: DS-EK/Yogya]

Maa syaa Alloh
Maa syaa Allah,,,,,,,,