Penulis: Jamal Harwood
Sambungan dari “Cacat Sistemis” Bagian 4/5.
Muslimah News, TELAAH KITAB — AS mengalami defisit sebesar 2/3 dari PDB (lebih dari US$10 triliun utang Federal dan saat obligasi yang tidak terdanai tercakup di dalamnya, ini mencapai sekitar US$60 triliun). Pihak asing yang memiliki dana sekuritas mencapai nilai US$2,6 triliun. Ada penurunan minat para investor asing akibat jatuhnya dolar dalam jangka panjang, serta utang yang ada terutama dimiliki oleh Jepang, China, dan bank-bank sentral negara-negara pengekspor minyak.
AS menghadapi peningkatan ketergantungan terhadap pasar ekspor yang terus berkurang karena persaingan produk yang kompetitif pada impor asing dan kompetisi tajam di luar negeri. Bahkan negara-negara lemah semacam Kuwait lebih memilih untuk menarik dananya dan menanamkannya pada mata uang selain dolar. Pemberian jaminan bank-bank terbesar menggelembungkan utang dalam suatu sistem yang menjurus pada tebing jurang. Sebagai tambahan pada sistem finansial yang tidak stabil ini, segala macam perubahan dalam politik ekonomi dapat memberikan implikasi yang serius terhadap kesehatan ekonomi suatu negara. Sistem kapitalisme terbukti tidak dapat dikoreksi selama sistem itu sendiri tidak memiliki hasrat memperbaiki dirinya.
Suatu Sistem Ekonomi Bebas Bunga
Bunga dan laba berimplikasi yang sangat berbeda bagi pihak-pihak yang terlibat dan bagi sistem secara keseluruhan. Berikut ini beberapa konsekuensi dari ekonomi berbasis bunga.
1. Eksploitasi kebutuhan.
2. Bunga dibayar oleh publik sekalipun mereka tidak meminjam uang. Bunga dicantumkan di dalam segala macam harga barang yang dibeli dan ada bunga pada utang nasional yang dikumpulkan melalui mekanisme pajak.
3. Pengaruh tingkat suku bunga yang berfungsi sebagai mekanisme redistribusi tersembunyi tidak sama bagi semua.
4. Meminjamkan uang tanpa dukungan likuiditas demi tingkat pengembalian tinggi menjadi agen instabilitas dan penyebab utama krisis saat ini.
5. Mengabaikan masa depan karena bunga dihitung berdasarkan apresiasi modal yang ditanamkan. Orang cenderung lebih suka memikirkan jumlah saat ini daripada jumlah yang sama pada masa depan. Logika yang patut dipertanyakan ini dapat memberikan implikasi yang merusak. Mengabaikan pengaruh-pengaruh tingkat bunga terhadap pemanfaatan SDA. Jika tingkat suku bunga makin tinggi, SDA akan makin cepat habis. Tidak ada alasan bahwa hal ini tidak bisa dijadikan simpulan logis. Pengabaian akan menghasilkan “rasional secara ekonomis” bahwa suatu spesies akan punah, dan bahwa “dalam mengevaluasi proyek investasi jangka panjang, khususnya yang biaya dan keuntungannya terpisah satu sama lain dalam jangka waktu yang panjang, aturan net present value (nilai bersih terkini) memandu pengambil keputusan. Hal ini untuk memaksimalisasi manfaat yang ada pada generasi sekarang dengan membebankan pengeluaran bagi generasi pada masa mendatang.
Percampuran laba dan bunga telah mengacaukan pemahaman yang akurat tentang perbedaannya di Dunia Barat. Di dalam Islam, perbedaan keduanya ditetapkan secara tegas. Laba disokong oleh output (keluaran) yang nyata. Ada pula sejumlah regulasi tentang struktur perusahaan yang dapat dibentuk untuk menghasilkan laba dan memberikan substansi pada hubungan antara laba dan output.
Sejarah mencatat bahwa selama lebih dari 1000 tahun berdirinya, Negara Islam telah memberikan contoh brilian tentang stabilitas dan kemakmuran. Sangat menarik untuk dicatat bahwa antara 1932–1933, sebuah kota kecil di Austria, yakni Wörgl, memulai suatu eksperimen. Sang walikota meyakinkan kalangan pebisnis dan pemerintahan untuk mengadakan sebuah eksperimen moneter menurut cara yang digagas dan disarankan Silvio Gesell. Ia menyarankan agar mengamankan arus uang dengan menjadikan uang sebagai subjek pelayanan pemerintah dalam penggunaan/penguasaan biaya.
Dewan kota mengeluarkan 32.000 “Work Certificates” (misalnya Schilling bebas bunga) yang disokong oleh Schilling Austria biasa di bank. Biaya pemilikan/penguasaan uang adalah 1% per bulan. Biaya ini harus dibayar oleh orang yang memiliki nota bank pada setiap akhir bulan dalam bentuk cap bernilai 1% dari nota yang direkatkan pada bagian belakang nota. Bilamana tidak, maka nota tersebut tidak dapat digunakan.
Biaya kecil ini mendorong mereka yang dibayar dengan Free Schilling untuk membelanjakannya sebelum mereka menggunakan uang biasa. Orang bahkan membayar pajak mereka lebih dahulu demi menghindari biaya kecil tersebut. Dalam satu tahun, 32.000 Free Schilling itu berputar 463 kali, sehingga menghasilkan barang dan jasa senilai 14.816.000 Scilling. Sebaliknya, Schilling biasa hanya berputar 21 kali.
Wörgl berhasil mengurangi tingkat pengangguran hingga angka 25% dalam satu tahun, sementara Eropa masih bergulat dengan meningkatnya pengangguran dan depresi. Saat lebih dari 300 komunitas di Austria mulai tertarik menerapkan model ini, Austrian National Bank memandang monopolinya sebagai sesuatu yang membahayakan. Mereka pun mengintervensi Dewan Kota dan melarang pencetakan uang lokal mereka.
Kapitalisme dan Masa Depannya
Sebagaimana diungkapkan oleh Karl Polanyi, Kapitalisme itu tidak normal karena merupakan suatu sistem di mana hubungan-hubungan sosial ditentukan oleh hubungan ekonomi. Ini jelas tidak sama dengan sistem yang berlaku sebelumnya di mana interaksi ekonomi mesti mengikuti interaksi sosial. Kapitalisme mengalami masalah-masalah konseptual yang beragam.
1. Bercampurnya kebutuhan dan pemuasan keinginan.
2. Kebutuhan hanya bersifat materialistik.
3. Komoditas dan jasa tidak berhubungan dengan struktur masyarakat.
Berbagai asumsi tersebut telah mengarahkan masyarakat dan dunia ke dalam kekacauan fisik maupun intelektual. Masa depan tentunya akan melihat perlunya sebuah koreksi, yakni koreksi terhadap sebuah sistem yang tidak dapat dikoreksi, sehingga diperlukan suatu sistem alternatif yang dapat menggantikannya. [MNews/RY-YG]
Sumber: Jamal Harwood, Membedah Krisis Keuangan Global.

Alhamdulillah