Sambungan dari “Cacat Sistemis” Bagian 3/5.
Penulis: Jamal Harwood
Muslimah News, TELAAH KITAB — Penyebab-penyebab yang dikemukakan melalui hipotesis instabilitas pada dasarnya bersifat psikologis dan patologis. Adapun penyebab yang dikemukakan oleh kalangan Austrian pada dasarnya bersifat institusional. Keduanya tidak memberikan alternatif yang bisa menjamin stabilitas. Anarki pasar bebas absolut tidak akan pernah dapat bertahan dan diterima oleh masyarakat secara keseluruhan. Juga kontradiktif dalam bangunannya sendiri, bagi seseorang yang menekankan bahwa pasar bebas tergantung kepada definisi yang dibuat atasnya.
Sementara bagi kalangan Keynesian akan selalu ada sengketa tentang regulasi dan pembatasan yang sesuai. Pasar akan senantiasa berkembang dan menghadapi krisis demi krisis. Hal ini selama pasar melandaskan gagasannya sendiri kepada realitas (yang seringkali terlalu ketat) dengan anggapan bahwa ekonomi sangat rapuh terhadap fluktuasi eksternal dan internal.
Tidak dapat disanggah lagi bahwa model bank sentral adalah inti dari masalah yang dihadapi ekonomi. Ini karena perekonomian mengizinkan bank untuk meminjam atau menjual secara langsung beberapa aset demi mendapatkan uang tunai. Pertanyaan kunci dalam hal ini ialah dari mana bank sentral memperoleh likuiditasnya?
Mereka hanya mencetak uang begitu saja tanpa dukungan aset. Bank juga bisa meminjam dari bank-bank lainnya, tetapi hal ini dapat menyebabkan naiknya tingkat suku bunga yang memperlambat permintaan dari para peminjam. Sistem perbankan modern dipandu dan dikoordinasikan oleh bank sentral yang menjamin likuiditas yang memadai bagi investasi dan pengeluaran dengan menyuntikan uang melalui suatu ekspansi bersama kredit tanpa dukungan aset.
Jelas sekali, terlalu longgarnya kebijakan moneter Bank Sentral AS sepanjang Desember 2000 hingga Juni 2004 menjadi dasar dari aktivitas penggelembungan, misalnya menurunkan tingkat pendanaan The Fed (tingkat suku bunga dana pinjaman federal) dari angka 6,5% ke angka 1%. Kemudian antara Juni 2004 hingga September 2004, The Fed meningkatkan tingkat pendanaan dari 1%. Pengetatan likuiditas ini mengurangi gelembung pada pasar perumahan (yang memberikan banyak sinyal peringatan), sehingga menuai tekanan pada skala ledakan pada akhir 2007. Tingkat pendanaan The Fed ialah salah satu tuas pengungkit pasar terbuka dalam mengatur perekonomian.
Volume yang tipis, globalisasi, penjaminan utang, dan ledakan yang sesungguhnya sebagai akibat yang kompleks telah terkombinasi dalam suatu cara untuk membuat ledakan kacau yang hampir setara dengan depresi ekonomi 1929.
Gambaran di atas memberikan alasan yang memadai untuk menunjukkan adanya dua elemen sistemik yang fundamental dan melandasi penyebab ledakan.
Pertama, kurangnya standar, seperti standar emas. Ini memungkinkan terjadinya pencetakan uang tanpa dukungan aset riil.
Kedua, perbankan berbasis bunga yang mendorong terciptanya akumulasi utang dengan pengembalian tinggi.
Ada sejumlah perhatian, termasuk di Barat, terhadap kedua elemen di atas. Kembali ke standar emas telah mendapat dukungan dari banyak kalangan, termasuk pengikut Mazhab Ekonomi Austria, para pengikut objektivisme, dan penganut kebebasan. Sebagian besar di antaranya karena idealisme pasar bebas yang mereka anut, misalnya keberatan mereka terhadap peran pemerintah dalam mengeluarkan kurs tetap melalui bank sentral.
Bahkan Alan Greenspan telah mengemukakan pentingnya standar emas. la mengatakan, “Pengabaian terhadap standar emas memungkinkan kalangan pendukung kesejahteraan statis untuk menggunakan sistem perbankan sebagai tujuan ekspansi kredit tidak terbatas. Dengan ketiadaan standar emas, tidak ada cara lain melindungi simpanan dari pengambilalihan melalui inflasi. Defisit pengeluaran secara sederhana merupakan skema beralihnya kekayaan. Emas berada pada posisi berseberangan dengan proses tersembunyi ini. Emas berfungsi sebagai pelindung hak properti. Bilamana seseorang menguasainya, ia tidak akan menemui kesulitan dalam memahami antagonisme kalangan statis terhadap standar emas.”
Setiap model alternatif yang dikemukakan tidak seharusnya memiliki kelemahan-kelemahan model tersebut. Standar kurs yang bersifat tetap dan bentuk sistem perbankan bebas bunga membentuk beberapa landasan institusional kunci bagi suatu sistem yang dapat diandalkan.
Sistem Kemakmuran atau Kegilaan?
Apakah model yang berlaku saat ini adalah suatu sistem kesejahteraan atau kegilaan? Dalam menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengutip sebuah pernyataan Kennedy, “Uang tidak menolong pertukaran barang dan jasa, bahkan bisa menghindarkan barang dan jasa bilamana berada di tangan mereka yang memilikinya lebih dari apa yang mereka perlukan. Bahkan uang bisa menciptakan jalan bebas hambatan, di mana mereka yang memiliki uang lebih sedikit dari yang mereka perlukan agar membayar sejumlah biaya kepada mereka yang memiliki uang lebih dari apa yang mereka perlukan. Ini jelas tidak bisa disebut keadilan. Pada kenyataannya, sistem moneter terkini yang kita miliki dapat dikatakan ‘inkonstitusional’ bagi kebanyakan negara demokratis.”
Pemerintah menutupi pengeluarannya dan meningkatkan pertumbuhan perusahaan-perusahaan (yang jarang berhubungan dengan masyarakat biasa) dengan sejumlah tujuan. Ledakan ekonomi yang terjadi merupakan buah dari serangkaian perangkat pajak yang kompleks yang menutupi hampir seluruh aspek kehidupan, yakni pajak pendapatan, pajak pertambahan nilai, dan pajak umum, serta inflasi, penjaminan, subsidi dana pensiun, dan potongan kesejahteraan. Adapun yang jarang disebut ialah upaya meliberalisasi perdaganga di negara-negara berkembang.
Bukan hal yang mengejutkan jika sistem ekonomi kapitalisme berada dalam ancaman krisis, perang, dan revolusi. Ledakan memang tidak selalu mengikuti letupan gelembung ekonomi. Mari kita ambil contoh krisis masa lalu di Barat. Suatu krisis dengan skala gelombang saat ini telah mendorong banyak pengamat Barat untuk membahas skenario tersembunyi di balik sistem ekonomi kapitalisme.
Satu kesalahan saja pada masa depan akan membuat keadaan menjadi jauh lebih parah. Menunggu sebuah akibat fatal tentunya merupakan tindakan bodoh. Masalah-masalah Barat seringkali diekspor keluar melalui perangkat-perangkat global, sehingga negara-negara lain ikut menanggung akibatnya. Tanpa harus mencari contoh khusus, krisis Asia 1997 adalah contoh jelas dari kegagalan yang tidak berujung pada ledakan.
Sejak saat itu, macan ekonomi (julukan bagi negara-negara dengan pertumbuhan ekenomi tercepat pada dekade 1990-an) Indonesia terus bergulat dengan utang sebesar US$113 miliar. Malaysia yang melakukan intervensi untuk menghindari ledakan dan mencuat sebagai kekuatan menengah yang relatif sukses hanya menuai kritik sebagai ancaman terhadap kapitalisme dan pasar bebas. [MNews/RY-YG]
Bersambung ke “Cacat Sistemis” bagian 5/5.
Sumber: Jamal Harwood, Membedah Krisis Keuangan Global.

Alhamdulillah