Muslimah News, FOKUS —Diskusi untuk merumuskan model kepemimpinan yang ideal belakangan ini digalakkan oleh para pengambil kebijakan dengan mengadopsi berbagai pemikiran yang dianggap ideal, termasuk bagi generasi. Meski demikian, konsep model kepemimpinan yang ditawarkan tidak lepas dari kritik, sebab konsep pemikiran yang melatarbelakangi kebijakan para pemimpin kerap berangkat dari pemikiran sekuler yang menyesatkan, seperti moderasi beragama.
Mengutip Antaranews, Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama menggelar Akademi Kepemimpinan Mahasiswa Nasional (AKMINAS) 2025. Acara ini digelar daring pada 23—25 September 2025 dan diikuti 1.182 mahasiswa dari berbaga Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) lintas agama. Spirit dari kegiatan ini dalam kerangka pengarusan konsep moderasi beragama. Tujuannya tidak lain mewujudkan generasi moderat, jauh dari sikap intoleran, dan terhindar dari bibit-bibit radikal. Istilah-istilah tersebut terkesan merangkul, tapi pada kenyataannya mengaburkan akidah. Lantas, bagaimana kita menyikapi hal ini? Bagaimana model kepemimpinan ideal yang layak menjadi template bagi generasi Islam hari ini?
Di Balik Ide Moderasi
Di tengah merosotnya taraf berpikir umat, berbagai pemikiran sekuler yang Barat rancang terus menggempur. Sedangkan, umat Islam yang menjadikan peradaban Barat sebagai kiblat tidak mampu memindai pemikiran sesat dengan lensa berpikir Islam.
Moderasi beragama sesungguhnya merupakan taktik penjajah untuk menciptakan Islam yang lebih fleksibel dan dan sesuai dengan konsep berpikir Barat. Hal ini bertujuan agar pemikiran Islam tidak menjadi rujukan kaum muslim. Ketiadaan pemahaman ditambah cengkeraman penjajah dari aspek politik, ekonomi, dll. membuat negeri-negeri muslim amnesia dengan predikatnya sebagai umat yang mulia.
Negeri-negeri muslim yang mengalami krisis identitas akut berupaya merevisi konsep pemikiran Islam sesuai selera Barat. Ini termasuk konsep moderasi beragama. Indonesia yang dinisbatkan sebagai poros global moderasi Islam bahkan menjadi tulang punggung pengarusan konsep menyesatkan ini. Berbagai program dirancang berikut rumusan kebijakan yang bertujuan menderaskan program moderasi.
Bahkan, Kemenag menjadikan moderasi beragama sebagai program prioritas yang masuk dalam program prioritas RPJMN. Untuk menginternalisasi nilai moderat pada generasi, pemerintah menjadikan moderasi beragama sebagai landasan Kurikulum Merdeka yang ada sebelumnya melalui kolaborasi antara Kemendikbudristek dan Kemenag. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIN) pun menjadi pusat pengarusan moderasi. Sejumlah PTKIN menyusun berbagai program dan inisiatif untuk mengimplementasikan moderasi beragama, termasuk mendirikan Rumah Moderasi Beragama. Hal ini berlaku di berbagai kampus lainnya dengan tujuan membentuk generasi yang moderat.
Propaganda dan stigma negatif pada Islam kafah membuat generasi risih dan takut membahas Islam kafah. Umat dikondisikan untuk terlibat dalam program moderasi, dan pada saat yang sama dijauhkan dari Islam. Atas dasar ini, konsep kepemimpinan ala moderasi yang pemerintah gagas tidak lain merupakan jebakan penjajah untuk membajak potensi generasi.
Istilah-istilah seperti moderat, toleran, dan keragaman dalam perbedaan, terdengar manis dalam konsep, padahal racun berbalut madu. Cetak biru kepemimpinan ala moderasi beragama ini bahkan mengaburkan konsep kepemimpinan Islam yang murni. Alih-alih membentuk model kepemimpinan yang visioner khas Islam pada generasi, kepemimpinan ala moderasi ini justru mengaburkan identitas Islam yang cemerlang.
Role Model Kepemimpinan Islam Bagi Generasi
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani di dalam kitab Syakhsiyah Islamiyah II menekankan bahwa pemimpin dalam peradaban Islam harus memiliki tiga kriteria penting yakni kekuatan (al-quwwah), ketakwaan (at-taqwa), dan kelembutan dalam mengurus rakyatnya (al-rifq bi ar-ra’iyyah). Beliau juga menjelaskan bahwa sosok pemimpin ideal adalah mereka yang senantiasa menjadikan Islam sebagai rujukan. Menapaktilas role model kepemimpinan dalam Islam, kita akan mendapati beberapa contoh sosok pemimpin yang hadir dalam lintasan peradaban Islam.
Paradigma yang tegak di atas model kepemimpinan ini bukan konsep moderasi maupun model kepemimpinan lainnya ala Barat. Model kepemimpinan dalam Islam bersumber dari pemahaman wahyu dan sunnah Rasulullah saw. yang murni dan cemerlang.
Lihatlah kepemimpinan Muhammad al-Fatih yang harum dalam sejarah peradaban Islam. Sosok Muhammad al-Fatih sebagai pemimpin visioner lekat dengan atmosfer keimanan yang cemerlang, cerdas ilmu agama dan pengetahuan umum, serta andal dalam taktik militer. Sebagai pemimpin, beliau mampu memadukan antara spiritualitas yang agung dan pengetahuan yang luas, serta kemampuan administrasi dan manajemen negara yang mumpuni.
Di bawah didikan para guru yang menguasai tsaqafah Islam, beliau mulai membangun citra diri seorang pemimpin visioner. Keimanan menjadi inspirasi dalam mewujudkan karakter pemimpin “Sang Penakluk”. Dengan keimanan, beliau berupaya mewujudkan bisyarah Rasulullah tentang Konstantinopel kala itu. Beliau memiliki tekad menjadi pemimpin pasukan yang Rasulullah sebut sebagai sebaik-baik pemimpin pasukan. Rasulullah saw. bersabda, “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam, pemimpinnya yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin, dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baiknya pasukan.” (HR Ahmad).
Motivasi Al-Fatih ini bukan semata lahir dari semangat saja, melainkan keyakinan atas janji Allah Taala dan berita gembira yang Rasulullah saw. sampaikan dalam hadis tersebut. Untuk merealisasikan bisyarah ini, beliau mengerahkan segenap pemikiran untuk menyusun strategi, menerapkan taktik militer, sekaligus memotivasi pasukannya dengan seruan keimanan.
Beliau menjadikan hadis Rasulullah saw. di atas sebagai tantangan sekaligus peluang untuk memberikan yang terbaik untuk agama ini. Alhasil, bisyarah Rasulullah saw. ini menggarisbawahi kehormatan dan keistimewaan bagi pemimpin dan pasukan yang berhasil mewujudkan penaklukan kekaisaran Bizantium yang telah berlangsung lebih dari seribu tahun.
Pertanyaannya, apakah model kepemimpinan visioner ala Al-Fatih ini lahir dari konsep berpikir moderat? Jawabannya tentu tidak. Role model kepemimpinan ini lahir dari pemahaman akidah yang lurus dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya sumber pemikiran. Ini kontras dengan ide moderasi yang menjadikan pluralisme sebagai dasar berpikir.
Sudah selayaknya umat Islam mawas diri terhadap propaganda Barat. Pemikiran Islam yang murni dan konsep Barat yang sekuler jelas tidak dapat disatukan. Dalam perspektif Barat, kebenaran sering kali dianggap relatif dan berkembang seiring waktu. Sedangkan, Islam memandang bahwa kebenaran bersifat absolut dan bersumber dari Allah dan sunah Rasulullah saw. Sudah saatnya umat bangkit dan membuang jauh berbagai konsep berpikir para penjajah. Allah Swt. berfirman, “Sungguh agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran [3]: 19). Allah juga berfirman, ”Siapa saja yang mencari agama selain Islam sekali-kali tidaklah akan diterima dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran [3]: 85). Wallaahualam bis sawwab. [MNews/JM-NA]

Alhamdulillah
Model kepemimpinan Sultan Al-Fatih lahir dari keimanan yang total, keberanian ideologis, dan tekad menegakkan Islam secara kaffah—bukan dari konsep moderasi yang melemahkan prinsip dan menyesuaikan diri dengan standar Barat.
Moderasi hanya melahirkan pemimpin kompromistis yang takut mengambil sikap tegas, sedangkan Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel karena kepemimpinannya berpijak pada akidah dan visi peradaban Islam.
Maa syaa Alloh