Sambungan dari “Intervensi Pemerintah” Bagian 1/2
Penulis: Jamal Harwood
Muslimah News, TELAAH KITAB — Tidak adanya rasa malu pada kebijakan penyelamatan yang dilakukan pemerintah AS telah banyak menimbulkan keprihatinan yang makin meluas. New York Times edisi 27-11-2008 melaporkan bahwa dengan Bank Sentral dan Departemen Keuangan mengumumkan uang US$800 miliar dalam program pinjaman pada Selasa (25-11-2008), maka mereka mengirim pesan bahwa mereka dapat mencetak sebanyak mungkin uang yang diperlukan untuk membangkitkan sistem perbankan nasional yang sudah lumpuh itu.
“Pada tahun lalu, pemerintah memiliki asumsi sekitar US$7,8 triliun dalam bentuk obligasi langsung dan tidak langsung. Itu setara dengan sekitar setengah dari nilai perekonomian negara dan jauh melebihi nilai US$700 miliar yang disahkan kongres untuk program penyelamatan lembaga keuangan yang digagas oleh Departemen Keuangan.”
Selain program penyelamatan oleh pemerintah, para kreditur yang stres itu berupaya menunda aturan akuntansi “mark to market” (mencatat dan mengamati nilai atau harga suatu saham/surat berharga, portofolio, atau rekening, sehingga dapat merefleksikan nilai/harga pasar saat ini dan siap diperdagangkan-pen) sebagai salah satu jalan untuk menyelamatkan diri.
Aturan ini menuntut setiap lembaga keuangan untuk menilai aset hipotek mereka berdasarkan harga pasar terkini. Akan tetapi, perubahan yang baru-baru ini diimplementasikan oleh Financial Accounting Standards Board (FASB) yang mendapat tekanan dari bank-bank besar untuk membolehkan valuasi berdasarkan model yang lebih menguntungkan mereka kini sudah diterapkan. Kreditur kini dapat bertindak seolah-olah kerugian itu tidak ada atau menangguhkan pencatatan dan per-hitungannya, sehingga meniadakan konsep transparansi yang sangat dibutuhkan oleh para investor.
“Hal itu memberi lebih banyak peluang bagi perusahaan-perusahaan untuk menerapkan prakiraan dan penilaian mereka sendiri dalam banyak kasus ketika mereka menganggap pasar “tidak teratur” atau tunduk oleh masalah likuiditas.”
Akibatnya, bank-bank kini dapat menyajikan nilai inflasi dari aset-aset hipotek mereka, sehingga neraca mereka memiliki kecukupan modal yang baik. Mereka tidak perlu menambah jumlah modal untuk mendanai pinjaman-pinjaman baru. Akan tetapi, seperti orang yang tidak punya sensitivitas untuk merasakan cedera sakitnya yang parah, manuver ini mendorong lembaga-lembaga keuangan itu untuk mengambil risiko yang lebih besar lagi.
Akhirnya hal ini akan menggiring kepada kerugian yang lebih besar dan membuat mereka mencoba berspekulasi tentang cara mereka keluar dari masalah tanpa melaporkan posisi keuangan mereka yang sesungguhnya. [MNews/RY-YG]
Sumber: Jamal Harwood, Membedah Krisis Keuangan Global.
