Muslimah News, NASIONAL — Universitas Indonesia (UI) disorot dan dikecam karena mengundang peneliti Universitas Stanford, Peter Berkowitz, untuk menyampaikan orasi ilmiah dalam kegiatan Pengenalan Sistem Akademik Program Pascasarjana UI di Kampus UI, Depok, pada Sabtu (23-8-2025). Ini karena Berkowitz merupakan keturunan Yahudi yang kerap menyatakan dukungan terhadap Zion*s Israel.
Dua Sisi
Menurut cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY), peristiwa ini bisa dicermati dari dua sisi, yaitu dari sisi Zion*s dan dari sisi masyarakat.
“Dari sisi Zion*s Israel dan pendukungnya, tentu mereka akan terus berusaha dengan segala cara, baik dengan soft diplomation maupun hard diplomation untuk mendapatkan pengakuan dunia. Mereka sudah mendapatkan itu dari sekutu-sekutunya dari Barat. Namun, mereka belum mendapatkan pengakuan dari dunia Islam,” urainya dalam acara Fokus: “Undang Zion*s Pro Genosida, Ada Apa?” di kanal UIY Official, Ahad (31-8-2025)
Padahal, ungkapnya, pengakuan dari negeri-negeri muslim itu sangat penting. “Ini karena selama masih ada di dunia ini yang tidak menerima keberadaan Zion*s, maka akan menjadi potensi kekuatan yang dapat melenyapkan Zion*s,” ujarnya.
Ia mengutarakan, soft diplomation banyak terjadi di balik layar, seperti melalui hubungan person to person, hubungan dagang, dan kunjungan budaya.
“Hasilnya, ada tokoh-tokoh agama wara-wiri sampai ke sana. Jadi, bagi Zion*s Israel, itu sesuatu yang tidak bisa tidak harus terus dilakukan. Ini karena Zion*s berkepentingan untuk mendapatkan pengakuan dari dunia Islam, khususnya dari Indonesia sebagai negeri muslim yang besar,” imbuhnya.
Namun, ia mengingatkan, Indonesia punya basis filosofis yang sangat kuat untuk menolak hubungan dengan Zion*s. “Di dalam konstitusi jelas sekali bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan dan Zion*s jelas menjajah tanah Palestina, tetapi basis filosofis yang demikian kuat itu bisa tergerus oleh berbagai kepentingan, misalnya kepentingan politik dan ekonomi,” jelasnya.
Apalagi, lanjutnya, ada faktor Amerika. “Saya kira para politikus di negeri ini tahu persis bahwa jika mereka ingin naik ke tampuk kekuasaan, faktor Amerika itu sangat penting agar mereka mendapatkan dukungan.
“Amerika Serikat (AS) tentu juga mengerti bahwa dukungan itu harus mendapatkan kompensasi, salah satunya tentang sikap terhadap Zion*s. Hal ini terjadi di Timur Tengah sehingga bisa dipahami sikap Uni Emirat Arab terhadap Zion*s dan Qatar begitu,” ucapnya.
Sedangkan dari sisi masyarakat, tambahnya, sebenarnya masih kukuh menentang Zion*sme seperti yang tampak pada aksi-aksi yang selalu dibanjiri oleh umat. “Sepanjang masyarakat menentang terus-menerus, tidak mudah bagi negara untuk melakukan langkah-langkah yang yang makin menguntungkan Zion*s. Misalnya, dalam Abraham Accord, salah satu permintaan AS itu agar Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Zion*s, tetapi ditolak,” cetusnya.
Akar Persoalan
UIY menekankan, akar persoalan Palestina bukan soal pembagian wilayah, tetapi soal eksistensi atau keberadaan Zion*s Israel di tanah Palestina yang jelas-jelas merampas wilayah Palestina dari dahulu.
“Bagaimana bisa, Zion*s yang semula menguasai 6% wilayah Palestina, sekarang menguasai 85%? Itu jelas perampasan,” tegasnya.
Selain itu, ia menyatakan, jika ingin merebut wilayah Palestina, hadirkan lagi pelindungnya yang dahulu diruntuhkan oleh Barat, yaitu Khilafah Islam.
“Meskipun Barat akan menggalang kekuatan untuk menghalangi tegaknya kembali Khilafah karena kalau Khilafah tegak bisa menjadi ancaman buat mereka. Ketika Khilafah tegak, akan hadir kembali pelindung wilayah Palestina yang dahulu tidak bisa ditembus,” ungkapnya.
Jadi, tandasnya, ke sanalah seharusnya kita berjuang. “Kita mesti mengerti akar masalahnya dan akar solusinya. Oleh karenanya, kita sering mengatakan bahwa solusi Palestina adalah jihad dan Khilafah karena tidak ada bahasa yang dikenal oleh Zion*s, kecuali bahasa kekerasan dan tidak ada diplomasi,” pungkasnya. [MNews/RA]

Khilafah janji Allah, dan itu pasti