[Kabar] Aktivis: Fenomena Duck Syndrome, Cermin Gaya Hidup Kapitalisme yang Menjerat Mahasiswa

[Kabar] Aktivis: Fenomena Duck Syndrome, Cermin Gaya Hidup Kapitalisme yang Menjerat Mahasiswa

Muslimah News, INTERNASIONAL — Fenomena duck syndrome akhir-akhir ini makin sering dibicarakan. Istilah ini digunakan pertama kali untuk menggambarkan kondisi mahasiswa di Universitas Stanford yang tampak tenang, percaya diri, dan mampu menguasai keadaan di permukaan, padahal di balik itu mereka sedang berjuang keras, stres, bahkan tertekan untuk memenuhi tuntutan akademik maupun sosial. Analogi ini persis seperti seekor bebek yang tampak mengapung dengan tenang di permukaan air, tetapi sebenarnya sedang mengayuh kakinya dengan cepat agar tetap bisa bertahan.

Kini, fenomena ini tidak hanya menjadi persoalan mahasiswa di Amerika, tetapi juga merebak di berbagai kampus di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Mahasiswa terlihat “baik-baik saja” di media sosial, mampu mengikuti kuliah, aktif dalam organisasi, bahkan produktif berkarya. Namun di balik layar, banyak dari mereka mengalami tekanan psikologis, cemas dengan masa depan, dan terjebak dalam obsesi mengejar standar kesuksesan tertentu yang tidak pernah ada habisnya.

Kapitalisme

Kepada MNews, Sabtu (30-8-2025), aktivis dan influencer dakwah Rr. Ranty Kusumaningayu, S.Si., M.Si. menegaskan, fenomena duck syndrome sejatinya adalah cermin dari gaya hidup kapitalisme yang menjerat mahasiswa.

“Generasi muda dituntut “sempurna” dalam arti berprestasi akademik, aktif di organisasi, lancar berbahasa asing, punya skill tambahan, berjejaring luas, dan di saat yang sama tetap tampil “happy” di media sosial. Semua itu berangkat dari standar hidup kapitalistik yang menekankan persaingan bebas dan individualisme bahwa siapa yang paling unggul, maka ia yang dianggap berhasil,” ulasnya.

Padahal di sisi lain, ungkapnya, mahasiswa juga dibebani dengan realitas ekonomi. “Biaya pendidikan makin mahal, lapangan pekerjaan makin sempit, dan kualifikasi yang dituntut makin tinggi. Akibatnya, banyak mahasiswa berusaha keras agar “layak” bersaing di pasar kerja. Mereka ikut kursus tambahan, lomba, magang, bahkan side job, meskipun kadang mengorbankan kesehatan fisik dan mental,” ujarnya prihatin.

Fenomena ini, jelasnya, menunjukkan bahwa kehidupan mahasiswa tidak pernah lepas dari tekanan sistem kapitalisme. “Alih-alih melahirkan generasi yang tenang, bahagia, dan produktif secara sehat, justru lahirlah generasi yang cemas, stres, bahkan depresi karena terus membandingkan dirinya dengan standar duniawi yang ditetapkan masyarakat kapitalistik,” paparnya.

Duck syndrome, urainya, bukan hanya masalah psikologis individual, tetapi gejala dari krisis multidimensi yang lahir dari sistem sekuler kapitalisme. Ia pun memerinci penyebabnya.

Pertama, sebutnya, standar hidup materialistis. “Sistem kapitalisme menjadikan materi sebagai ukuran utama kesuksesan. Mahasiswa didorong untuk mengejar prestasi, karier, dan harta, tanpa mempertimbangkan apakah itu selaras dengan tujuan hidup hakiki. Akibatnya, banyak yang merasa gagal jika tidak sesuai standar tersebut,” bebernya.

Kedua, terangnya, hidup yang terlepas dari makna hakiki. “Generasi muda banyak yang lemah iman, tidak memahami untuk apa mereka hidup. Padahal, Islam menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah ﷻ. Tanpa kesadaran ini, mereka mudah terombang-ambing oleh tuntutan dunia,” jabarnya.

Ketiga, tuturnya, sekularisme dalam pendidikan. “Dunia kampus diatur dengan paradigma sekuler, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Mahasiswa hanya diposisikan sebagai “calon tenaga kerja” yang siap diserap pasar, bukan sebagai hamba Allah ﷻ yang kelak memimpin peradaban. Pendidikan semacam ini hanya menambah tekanan, bukan memberikan arah hidup yang benar,” jelasnya.

Keempat, sambungnya, ketiadaan solusi sistemis. “Sistem kapitalisme menjadikan mahasiswa menghadapi masalah ini secara individual. Padahal, problem stres, tekanan, dan krisis makna tidak bisa diselesaikan hanya dengan konseling pribadi atau healing. Ia adalah problem sistemis yang menuntut perubahan menyeluruh,” paparnya.

Solusi Sistemis

Berkaitan dengan itu, Ranty mengutarakan, Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan solusi yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sistemis sehingga mampu menuntaskan akar masalah.

Pertama, ujarnya, mengembalikan identitas hakiki sebagai hamba Allah ﷻ. “Mahasiswa muslim harus disadarkan kembali bahwa identitas sejatinya bukanlah “calon pekerja kompetitif” atau “generasi serba bisa” versi kapitalisme, melainkan hamba Allah ﷻ dan khalifah di muka bumi. Dengan kesadaran ini, standar kebahagiaan bukan lagi prestise atau harta, melainkan rida Allah ﷻ,” terangnya.

Kedua, ucapnya, menata prioritas amal. “Islam menuntun agar manusia memahami prioritas hidup. Mana yang wajib, sunah, mubah, dan haram. Mahasiswa tidak perlu terjebak dalam tuntutan perfeksionis yang melelahkan. Cukup fokus pada amal yang utama, menuntut ilmu dengan ikhlas, dan menyiapkan diri untuk berkontribusi bagi umat,” tuturnya.

Ketiga, sebutnya, menghadirkan sistem pendidikan Islam. “Ini karena pendidikan dalam Islam bukan sekadar mencetak pekerja, melainkan membentuk kepribadian Islam, menguatkan iman, dan melahirkan generasi pemimpin peradaban. Dengan sistem pendidikan Islam, mahasiswa tidak akan merasa tertekan oleh standar kapitalisme, melainkan akan fokus menjadi insan bertakwa sekaligus berilmu,” jabarnya.

Keempat, urainya, dengan perubahan sistemis, yaitu kebutuhan akan Khilafah. “Semua solusi di atas hanya bisa berjalan sempurna dalam naungan sistem Islam kafah. Islam bukan hanya ajaran spiritual, tetapi juga sistem yang mengatur pendidikan, ekonomi, dan politik,” tuturnya.

Selama kapitalisme yang memimpin, tambahnya, mahasiswa akan terus dijerat standar duniawi. “Hanya dengan tegaknya Khilafah Islam, generasi muda dapat hidup dalam sistem yang menyehatkan jiwa, menjamin kesejahteraan, dan menempatkan ilmu sebagai jalan ibadah, bukan sekadar komoditas pasar,” tegasnya.

Jadi, ia menekankan, tampaklah Islam menawarkan solusi yang nyata dengan membebaskan manusia dari standar kapitalistik dan mengembalikan pada tujuan hidup hakiki, yakni beribadah kepada Allah ﷻ dan menjadi khalifah di muka bumi.

“Solusi itu tidak cukup hanya dengan nasihat personal, melainkan menuntut perubahan sistem menuju penerapan Islam kafah dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan itulah, generasi muda akan terbebas dari jerat kapitalisme, menemukan ketenangan sejati, dan siap menjadi pelanjut peradaban Islam yang gemilang,” tandasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *