Muslimah News, NASIONAL — Pegiat Palestina dan motivator Annisa Theresia Maqdisia, S.Sos., M.Si. menjelaskan, kalau ada kaum muslim yang menganggap bahwa apa yang terjadi di Palestina itu dimulai pada 7 Oktober 2023, maka harus mulai “membaca”.
“Jelas ini tidak dimulai dari 7 Oktober 2023. Ada riwayat orang Yahudi ingin menguasai Palestina sejak akhir kekhalifahan Utsmani, tetapi ditolak secara tegas oleh Khalifah Abdul Hamid II,” ucapnya pada Bincang Hangat: “Politik Pelaparan Gaza dan Tanggung Jawab Kita”, Jumat (8-8-2025).
Di hadapan ratusan peserta yang hadir secara daring dan luring, ia memaparkan, setelah Khilafah runtuh pada 1924, Yahudi masuk ke tanah Palestina. “UN memberikan legitimasi kepada Yahudi dengan Partition Plan yang membagi wilayah Palestina tanpa izin rakyat Palestina sebagai pemilik tanah. Puncaknya terjadi pembantaian dalam peristiwa Nakbah. Lebih dari 600 desa dihancurleburkan dan peristiwa ini diabadikan sendiri oleh Yahudi dalam film dokumenter Tantura,” urainya.
Setelah itu, Perdana Menteri pertama “Israel” Ben Gurion mengesahkan negara “Israel” yang dalam 1 x 24 jam mendapat pengakuan dari AS dan Inggris. “Kemudian, mereka mengontrol penuh Palestina dan mencaplok wilayahnya sedikit demi sedikit. Konflik pun tidak terhindarkan, seperti peristiwa Naksah, Yom Kippur, Sabra Shatilla, Intifada 1 dan 2, Pelanggaran Oslo, blokade Gaza, genosida Gaza dan Tepi Barat, dan agenda selanjutnya adalah penghancuran Masjidilaqsa,” tuturnya.
Ia menekankan, Palestina adalah tanah umat Islam sehingga persoalan ini bukan cuma urusan warga Gaza. “Tanahnya disebut ardhul muqaddas (tanah suci), merupakan tanah kharajiyah, dan tanah ribath (perbatasan) sebagai sebaik-baik tempat bagi umat Rasulullah saw.. Maka, tidak ada alasan kaum muslim berdalih dan menjadi “setan bisu”,” tegasnya.
Kemudian, ia menggambarkan kondisi saat ini setelah pelanggaran gencatan senjata ke-2 pada Maret 2025. “Jalur bantuan kemanusiaan melalui Mesir ditutup. Jalur yang melalui Yordania dikontrol penuh Zion*s. Zion*s sendiri meningkatkan intensitas pengeboman ke Gaza setara 100.000 ton,” paparnya.
Skenario
Bahkan, ia membeberkan, dilakukan skenario pelaparan secara sistemis di Gaza, antara lain pembunuhan tenaga medis (lebih dari 1.500 orang syahid), penghancuran seluruh rumah sakit (36 bangunan sudah dibombardir), penghancuran sistem sanitasi, menjadikan ambulans sebagai target, memblokade jalur bantuan kemanusiaan, dan victimisasi pejuang pembebasan melalui propaganda Hasbara Internasional.
“Terdapat 22.000 lebih truk pengangkut bantuan yang tertahan di Ismailiya. Harga barang-barang pokok menjulang tinggi, barang-barang langka karena Zion*s mengontrol penuh akses, membiarkan mafia black market, dan mengerahkan pemukim Zion*s untuk menghancurkan bantuan yang masuk. Mereka sengaja membuat warga Gaza sengsara,” ungkapnya miris.
Bahkan, ucapnya, baru-baru ini dewan perwakilan rakyat Zion*s siap mengesahkan undang-undang untuk menganeksasi penuh Palestina.
“Zion*s memiliki agenda besar eretz Israel (tanah yang dijanjikan) sampai ke Mekkah dan Madinah. Ini ancaman nyata, sudahkan umat muslim menyadarinya dengan pemahaman yang utuh? Apalagi parahnya, terjadi pengkhianatan oleh pemimpin negeri muslim, termasuk dengan melakukan normalisasi hubungan dengan “Israel”,” cetusnya.
Untuk itu, ia menegaskan, kaum muslim harus bersikap. “Caranya, ilmui atau pelajari, bersuara, berpihak, boikot, menyiapkan generasi pembebas, dan sambut kembali fitrah kemenangan dengan sistem Islam,” urainya.
Jadi, tandasnya, pilihannya sekarang adalah teguh bersama Islam, kuat dalam jemaah, dan berjuang sampai sistem Islam kembali tegak. [MNews/RA]
#GazaSystematicsStarvation #armiestoaqsa #aynalmuslimun #PalestinaNeedsJihad
