Muslimah News, NASIONAL — Gaza masih menderita di bawah penjajahan Zion*s Yahudi. Berbagai solusi pun ditawarkan, dari solusi dua negara hingga evakuasi warga Gaza.
Aktivis dakwah nasional Ir. Ratu Erma Rachmayanti pun menyampaikan, para intelektual muslimah yang hadir pada Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Tragedi Gaza dan Jalan Penyelamatan Hakiki: Solusi Syariat Kafah”, Ahad (27-7-2025), harus memimpin narasi solusi Islam untuk membebaskan Gaza.
“Intelektual harus mampu memimpin dengan narasi solusi Islam untuk membebaskan Gaza,” serunya di hadapan peserta yang hadir, baik secara daring maupun luring.
Solusi yang ia sampaikan, antara lain, pertama, bersatu dalam partai ideologis internasional. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS Ali Imran: 104, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.“. Lalu, sebutnya, berjejaring antarnegeri muslim dan saling menyuarakan satu solusi umat.
“Kedua, menguasai tsaqafah islamiah, yaitu memahami syariat Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis, serta paham penerapannya dalam realitas,” lanjutnya.
Ketiga, menjadi mufakkir siyasiy, yaitu memahami Islam adalah ideologi, bukan sekadar agama spiritual. Juga, tambahnya, paham peta politik global serta peran ideologi dalam perubahan sistemis.
“Keempat, kuasai forum opini dan narasi publik. Arahkan umat pada solusi Islam, melalui tulisan, forum diskusi, media sosial, seminar, kajian, dan lain-lain,” ujarnya.
Kelima, ujarnya, konsolidasi intelektual muslimah untuk menghimpun kekuatan pemikiran, ilmu, dan strategi demi membangun kesadaran dan bergerak bersama.
“Keenam, manfaatkan momentum geopolitik secara maksimal. Masalah Gaza, krisis ekonomi global, perang hegemoni, merupakan peluang emas untuk membentuk opini publik Islam,” ulasnya.
Ia menyebut bahwa tidak ada perdamaian dengan negara Yahudi. “Meskipun hanya sebidang tanah, adalah haram secara syar’i karena mereka adalah penjajah dan agressor,” ucapnya.
“Perdamaian dengan mereka berarti menyerahkan tanah Islam kepada mereka, memberi mereka kesempatan untuk memilikinya dan menguasai umat muslim di dalamnya,” imbuhnya.
Hal ini menurutnya, tidak diperbolehkan secara syar’i. Islam mewajibkan seluruh umat muslim untuk memerangi mereka, dan mengirimkan pasukan mereka untuk berperang.
“Mengumpulkan semua yang mampu menjadi tentara dan terus berjuang hingga negara Yahudi dihancurkan dan tanah umat muslim dibebaskan darinya,” cetusnya.
Misi Besar
Apalagi, ia menekankan, misi besar pembebasan manusia adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju kehidupan yang baik.
“Untuk itu, harus berpihak secara total pada kebenaran solusi Islam. Dalam kasus Palestina, solusi utamanya adalah jihad,” tegasnya.
Ia memaparkan, permasalahan Palestina telah menjadi persoalan paling menonjol yang berlangsung sangat lama, rumit, dan kompleks. “Di negeri muslim, yang pro pada permasalahan Palestina sekitar 70%. Sementara di negara Eropa meningkat menjadi 30—40%. Di Amerika Serikat, dukungan terhadap “Israel” menurun. Sedangkan di “Israel”, 50% skeptis atas keberadaan Palestina,” urainya.
Bahkan, jelasnya, publik internasional mendesak dilakukannya gencatan senjata, memberikan bantuan kemanusiaan, dan progress pengakuan terhadap Palestina. Namun, lanjutnya, opini ini masih berupa solusi praktis.
Sementara itu, terangnya, kelompok dakwah dan akar rumput menggaungkan solusi hakiki dengan narasi pembebasan melalui jihad dan Khilafah, tetapi ini belum menjadi opini mainstream karena ada dekonstruksi terhadap pemahaman jihad dan Khilafah oleh sekularisme.
“Belum lagi stigma (“negatif”) global terhadap jihad dan Khilafah, hegemoni pemikiran Barat, tindakan represif rezim, pencerahan dan dakwah belum optimal, serta belum terjadi momentum geopolitik,” ungkapnya. [MNews/RA-Kontributor daerah: PS/Yogya]
#GazaSystematicsStarvation #armiestoaqsa #PalestinaNeedsJihad

assalamu alaikum. apakah redaksi menerima tulisan opini dari pembaca? syukron