[Kabar] Peristiwa As-Suwayda, Suriah, Mengungkap Bahaya Faksi-Faksi yang Terkait dengan Asing

[Kabar] Peristiwa As-Suwayda, Suriah, Mengungkap Bahaya Faksi-Faksi yang Terkait dengan Asing

Muslimah News, INTERNASIONAL — Bentrokan meningkat di As-Suwayda, Suriah, bulan ini antara suku Druze—minoritas agama asli daerah tersebut—dan suku Badui Suriah. Pertempuran sengit kemudian pecah antara milisi Druze dan pasukan pemerintah yang dikirim ke kota tersebut untuk meredakan kerusuhan.

Pertempuran menewaskan lebih dari 300 orang dan turut mendorong Zion*s “Israel” melancarkan serangan udara di Suriah selatan dan terhadap Kementerian Pertahanan di Damaskus pekan lalu dengan alasan melindungi kaum Druze yang merupakan minoritas signifikan di “Israel”.

Setelah berhari-hari bentrokan sengit, Kementerian Pertahanan tiba-tiba mengumumkan pada hari Rabu (16-7-2025) dimulainya penarikan pasukan Suriah dari kota As-Suwayda. Hal ini menyusul seruan AS untuk penarikan pasukan pemerintah dari provinsi tersebut dan adanya serangkaian serangan udara gencar oleh Zion*s Yahudi di Damaskus, Rabu (16-7-2025), yang menargetkan gedung staf umum, Kementerian Pertahanan, dan sekitar istana kepresidenan.

Serangan sebelumnya telah menghantam beberapa wilayah di pedesaan Damaskus, Daraa, dan As-Suwayda yang menargetkan posisi militer dan konvoi tentara Suriah serta pasukan keamanan umum yang menuju As-Suwayda sehingga menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka.

Terkait Asing

Juru bicara kelompok dakwah ideologis di Suriah menyatakan, peristiwa berdarah ini menunjukkan adanya faksi-faksi yang terkait dengan asing. “Untuk itu, harus ada perbaikan arah revolusi agar kembali kepada hukum Allah Swt. karena revolusi saat ini menghadapi gangguan serius dan tantangan eksistensial,” jelasnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Kamis (17-7-2025).

Setelah mengalahkan Bashar, urainya, rakyat Suriah harus berhenti sejenak untuk merenung dan melakukan penilaian ulang terhadap jalan yang ditempuh saat ini. Menurutnya, kesalahan yang berulang telah melemahkan prestise revolusi dan menyia-nyiakan hasil besar yang telah dibayar dengan darah para mujahidin.

“Tunduk pada perintah internasional dan memercayai janji-janji AS hanya akan membawa kita pada kerugian total di dunia dan akhirat,” ucapnya.

Barat, bebernya, telah membuat Suriah rentan terhadap Zion*s Yahudi yang telah membunuh ratusan saudara mujahidin kita dan membiarkan suku-suku Badui di sekitar As-Suwayda dilucuti senjatanya dan menjadi sasaran pembalasan tanpa perlindungan.

Selain itu, ulasnya, keputusan amnesti umum yang membebaskan orang-orang pro rezim sebelumnya, menandai titik balik yang berbahaya.

“Keputusan tersebut diambil tanpa berkonsultasi dengan rakyat yang melakukan revolusi atau meminta pendapat para mujahidin yang telah membebaskan negeri ini dan berkorban paling besar,” kritiknya.

Hal ini, tambahnya, menghilangkan kesempatan krusial untuk menyelesaikan masalah secara tegas, bahkan membuka pintu kekacauan.

Murka Allah Taala

Dalam pandangannya, ini adalah awal dari serangkaian konsesi, dan yang paling parah adalah membuat murka Allah Swt. karena tidak menerapkan syariat-Nya dengan dalih takut kepada AS dan Barat. “Padahal, mereka selalu menjadi musuh utama Allah, Rasul-Nya, dan revolusi Syam sejak awal,” ucapnya.

Oleh karenanya, ia menilai, pendekatan lunak dalam menangani isu Druze menunjukkan kecerobohan berbahaya dari pemerintahan baru.

“Perwakilan mereka diusir, perlindungan internasional diminta, bahkan ada komunikasi dengan entitas Zion*s, sebuah tindakan pengkhianatan yang jelas dan tidak terbantahkan,” cetusnya.

Ia menyatakan, respons pemerintah terhadap hal ini lemah dan mengarah pada kepatuhan kepada pihak-pihak yang melakukan pengkhianatan tingkat tinggi dengan berkomunikasi dan berkoordinasi dengan entitas Zion*s Yahudi.

“Hilangnya kemauan politik independen dengan keputusan-keputusan yang terikat pada arahan, rencana, dan kepentingan AS, serta upaya untuk mendapatkan persetujuan dan perlindungan atas keputusan-keputusan tersebut, telah membuat pemerintahan baru tidak mampu membuat keputusan yang tegas mengenai hal-hal yang sangat memengaruhi kedaulatan dan kemerdekaan nasional,” kecamnya.

Hal ini, ungkapnya, terbukti selama pertempuran di wilayah pesisir dan menjadi sangat jelas dengan adanya kasus Druze yang membuat para mujahidin terekspos dan pengorbanan mereka sia-sia sebelum tujuan mereka tercapai.

“Pertempuran melawan entitas Zion*s tidak dapat dihindari dan penundaan apa pun hanya akan mengakibatkan hilangnya nyawa dan sumber daya lebih lanjut. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri dengan segala yang kita miliki,” tegasnya.

Langkah pertama menuju kemenangan, urainya, adalah komitmen sejati untuk menerapkan syariat Allah Swt. tanpa penundaan atau penghindaran dengan hanya mengharapkan keridaan dan pertolongan-Nya, bukan keridaan AS atau pihak lain.

“Tanpa ini, kita tidak akan pernah berdiri kukuh dan negara ini tidak akan pernah menikmati keamanan dan kedaulatan. Kita harus bersandar pada basis revolusioner dan putra-putranya yang tulus karena merekalah penopang sejati setelah Allah Swt. pada masa krisis dan kesulitan,” tandasnya mengutip firman Allah dalam QS At-Talaq ayat 3, “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya. Sesungguhnya Allah akan menyempurnakan takdir-Nya. Allah telah menetapkan bagi tiap-tiap sesuatu batasnya.” [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *