Tokoh Muslimah Riau: Inses Ancaman Nyata!

Tokoh Muslimah Riau: Inses Ancaman Nyata!

Muslimah News, LENSA DAERAH — Perilaku inses disebut sebagai extraordinary crime (kejahatan luar biasa) karena efeknya tidak hanya merusak tatanan keluarga, tetapi juga masyarakat dan negara. Kasus ini ternyata terjadi juga di Riau sehingga dalam Diskusi Terbatas Tokoh Muslimah Riau, Ahad (29-6-2025), fenomena ini menjadi highlight.

Dengan tema ”Inses Ancaman Nyata Keluarga, Islam Solusi Paripurna”, diskusi yang dihadiri puluhan tokoh muslimah ini mengangkat maraknya kasus inses, tetapi tidak mendapat perhatian serius pihak berwenang.

Para tokoh tampak prihatin saat ditayangkan video kasus inses di Kecamatan Kampar Kiri, Riau, terlebih inses dilakukan oleh ayah tiri dengan anak yang disaksikan ibu kandungnya. ”Ada juga inses antara ibu dengan anak, abang dan adik perempuannya. Bahkan, anak berusia 18 tahun di Pekanbaru menjadi pengedar video kekerasan seksual anak demi [mendapat] keuntungannya,” jelas panitia.

Pembicara pertama Ustazah Maretika menyesalkan terjadinya peristiwa ini, padahal Indonesia dikatakan sebagai negara muslim terbesar dan negara paling religius di dunia  berdasarkan Ceoworld (2023).

Dua Faktor

Ia menyatakan, ada dua faktor yang memengaruhi inses, yaitu internal dan eksternal. “Faktor internal adalah lemahnya benteng keimanan. Jika ada muslim yang melakukan inses, berarti hanya menjadikan Islam sebagai simbol, tidak menjadikannya sebagai aturan hidupnya,” ucapnya.

Adapun eksternal, lanjutnya, terdapat stimulus luar yang memengaruhi seseorang. “Salah satunya liberalisme, paham yang menjamin seseorang untuk bebas melakukan apa pun. Padahal, ini budaya Barat. Apalagi, media informasi hari ini menjadi sarana menampakkan kemaksiatan sehingga tontonan menjadi tuntunan,” urainya.

Selanjutnya, ia mengatakan, adalah sistem pendidikan. ”Kita melihat anak-anak yang cerdas, tetapi tidak tahu bagaimana kecerdasan itu digunakan,” lanjutnya.

Faktor eksternal lainnya seperti kemiskinan, tambahnya, mendegradasi fungsi keluarga dan supremasi hukum yang tidak memberi efek jera.

”Apa akar masalahnya? Sekularisme yang menjadi asas kehidupan dan diatur oleh sistem kapitalisme demokrasi sehingga melahirkan masyarakat fahisyah (keji). Inilah yang menyebabkan hancurnya generasi,” tegasnya.

Menurutnya, persoalan inses bukanlah persoalan individu, tetapi persoalan sistem. ”Oleh karenanya, dibutuhkan sistem yang bisa menyelesaikan kasus inses sampai ke akarnya, yaitu Khilafah Islamiah,” ujarnya.

Kemudian, dijelaskannya secara runut tentang kewajiban menegakkan Khilafah, dalil-dalilnya, dan alasan kaum muslim membutuhkan Khilafah. Ia mengatakan, Khilafah adalah warisan agung peradaban Islam.

Menjaga Kesucian

Pembicara kedua, aktivis muslimah Ustazah Endiyah Puji Tristanti menjelaskan lebih rinci bagaimana Khilafah bisa menjaga kesucian keluarga.

”Berbeda dengan kehidupan liberalisme yang diselimuti oleh nadhroh jinsi (pandangan seksual), contohnya ketika hadir dalam kajian yang dilihat adalah ustaznya ganteng, ustazahnya cantik, itu nadhroh jinsi. Sama halnya, ketika iklan busana muslimah. Jika modelnya tidak cantik, maka tidak laku, padahal busananya bagus,” urainya.

Demikian juga dengan kebebasan pers, imbuhnya, infrastruktur digital yang lemah terhadap mafia digital dan UU liberal tidak berfungsi sebagai pencegah ataupun problem solver bagi kejahatan seksual.

Di sisi lain, ia menekankan, keluarga adalah benteng terakhir kaum muslim sehingga negara wajib membentengi ketahanan keluarga.

”Imam Al-Ghazali mengatakan, negara dan agama di dalam Islam seperti saudara kembar. Agama adalah asasnya, negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak memiliki dasar akan runtuh, sedangkan sesuatu yang tidak memiliki penjaga, akan hilang,” ungkapnya.

Selain itu, urainya, tubuh perempuan adalah kehormatan yang wajib dijaga. ”Oleh karenanya, Islam memberikan seperangkat aturan dalam nizhamul ijtima’iy fi al-Islam (sistem peraturan pergaulan dalam Islam) yang mengatur interaksi laki-laki dan perempuan, baik di ruang privat maupun ruang publik,” tuturnya.

Di dalamnya, ia memaparkan, ada aturan yang harus dipahami setiap muslim. “Misalnya, pemisahan kehidupan laki-laki dan perempuan, kewajiban menutup aurat, peran ibu sebagai ummu al-madrasatul ’ula (pendidik pertama dan utama), hukum tanggungan nafkah perempuan, hingga desain rumah agar menjaga aurat penghuninya,” bebernya.

Islam, sambungnya, memiliki aturan seputar larangan berkhalwat dan berikhtilat laki-laki dan perempuan. ”Boleh berinteraksi laki-laki dan perempuan di dalam pendidikan, kesehatan, muamalah dan dakwah, demi kemaslahatan yang syar’i. Lalu, mengharamkan zina, liwath (homoseksual), pornoaksi dan pornografi, juga inses yang pelakunya akan disanksi tegas,” jabarnya.

Kemudian tambahnya, ada hukum-hukum dalam kehidupan privat, misalnya memisahkan tempat tidur sejak usia 7 tahun dan memperhatikan 3 waktu aurat (sebelum Subuh, setelah Zuhur, dan setelah Isya). ”Ada pula batasan aurat laki-laki dan perempuan di hadapan muhrim di dalam rumah, larangan berkhalwat dan berikhtilat, meminta izin memasuki rumah berpenghuni dengan mengucapkan salam, dan larangan memasukkan pandangan kepada rumah orang lain. Semua ini, membutuhkan penerapan syariat Islam oleh negara,” tegasnya.

Diskusi

Dalam sesi diskusi, ada peserta yang menanyakan cara Khilafah mencegah inses yang dilakukan anak di bawah umur

Ustazah Maretika menjawab bahwa boleh tidaknya hukuman diberikan kepada anak, bukan berdasarkan usia, tetapi berdasarkan balig atau tidaknya. ”Namun, dalam sejarah peradaban Islam, faktanya tidak pernah anak-anak melakukan kejahatan. Islam membentengi dengan akidah dan syariat Islam. Media menjadi sarana edukasi. Sangat kontradiktif dengan media hari ini. Anak-anak dipertontonkan dengan sinetron yang bertemakan pacaran. Ini mencederai fitrah anak sejak kecil,” paparnya.

Kemudian, terdapat peserta yang menanyakan cara mahasiswa melakukan perubahan untuk mengatasi inses, serta langkah perubahan menuju Khilafah.

Ustazah Endiyah mengatakan, setiap perubahan besar pasti dimulai dari sesuatu yang kecil. ”Justru karena ini sesuatu yang besar, perlu membuat landasan yang kukuh untuk beramal,” jelasnya.

Lebih lanjut, urainya, untuk menuju Khilafah perlu mengganti aturannya. ”Jangan dibayangkan gedung-gedungnya diruntuhkan, ASN-ASN diganti, dll.. Enggak, bu! Kita butuh menyiapkan diri kita dan menyiapkan masyarakat,” ujarnya.

Jalan perubahan, lanjutnya, bukan dengan kudeta, apalagi makar. ”Bukan mendirikan negara dalam negara yang memecah belah persatuan kaum muslim. Bukan dengan people power. Perubahan itu dengan cara damai, tanpa kekerasan, dan melalui pemikiran politik,  menyadarkan umat,” paparnya.

Ketika umat sadar, tuturnya, umatlah yang meminta perubahan. ”Kemudian, meminta pertolongan kepada ahlun nushrah (pemberi pertolongan), al-hukkam (penguasa), panglima militer. Tidak ada pertumpahan darah sebagaimana peristiwa tegaknya Islam di Madinah. Jadi, inilah urgensi dialog-dialog untuk menyamakan konsep perubahan,” tandasnya. [MNews/Kontributor daerah: WT/Riau]

Share

4 thoughts on “Tokoh Muslimah Riau: Inses Ancaman Nyata!”

  1. ada dua faktor yang memengaruhi inses, yaitu internal dan eksternal. “Faktor internal adalah lemahnya benteng keimanan dan yg kedua sistem yg di adopsi adalah sekuler,liberal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *