Persatuan Umat yang Tercederai

Persatuan Umat yang Tercederai

Penulis: Ummu Nashir N. S.

Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Suatu hal yang patut kita syukuri bahwa tahun ini pelaksanaan Iduladha di seluruh negeri dilakukan bersamaan. Dari kejadian ini kita dapat menyaksikan bahwa haji dan Iduladha mampu mempersatukan umat ini. Kita saksikan dari berbagai rekaman, di Padang Arafah, Mina, dan Muzdalifah, juga di depan Ka’bah, antara Shafa dan Marwah, jutaan muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul. Terutama saat wukuf di Arafah, di waktu yang sama pada 9 Zulhijah umat Islam berkumpul dengan memakai pakaian ihram, serba putih. Mereka berasal dari ragam suku bangsa, warna kulit, dan bahasa. Mereka menyatu mempersembahkan ketaatan total kepada Allah Swt. dalam ibadah haji. Masyaallah!

Di tempat lain, miliaran kaum muslim juga berkumpul bersama merayakan Iduladha. Mereka menunaikan Salat Id berjemaah di lapangan-lapangan, berkurban dan mengumandangkan kalimat takbir hingga hari tasyrik berakhir pada 13 Zulhijah. Seluruh umat Islam di seluruh dunia bergembira menyambut Iduladha.

Betapa indah persatuan dan persaudaraan ini. Kita diikat bukan karena suku bangsa, bahasa, atau warna kulit. Kita diikat oleh akidah Islam. Akidah inilah yang menghapuskan sekat-sekat perbedaan status sosial, suku bangsa, warna kulit, dan bahasa. Akidah ini pula yang menyingkirkan perbedaan kasta, kedudukan dan status sosial, lalu membuat manusia setara di hadapan Allah Yang Maha Pencipta.

Bayangkan, betapa sungguh dahsyatnya kekuatan umat ini tatkala mereka bersatu padu. Ada 2,04 miliar muslim di dunia bersatu dalam kalimat tauhid ‘laa ilaaha illallaah, Muhammadur-Rasulullah’. Jika saja kaum muslim di seluruh dunia dapat bersatu, pasti mereka akan kembali menjadi umat yang disegani oleh berbagai bangsa di seluruh dunia. Mereka akan menjadi kekuatan yang menentukan arah dunia.

Mereka akan mampu menciptakan tatanan kehidupan manusia yang berkeadilan dan beradab, sebagai umat terbaik, sebagaimana yang telah Allah tetapkan dalam firman-Nya, “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, melakukan amar makruf nahi mungkar, dan mengimani Allah.” (QS Ali Imran: 110).

Ketika Persatuan Umat Tercederai

Tentu saja suasana seperti ini sangat kita harapkan berlangsung terus-menerus. Akan tetapi, faktanya sungguh jauh dari harapan, bahkan hal ini telah berlangsung lama. Dunia saat ini dikuasai oleh peradaban Barat yang kapitalistik. Barat telah mengeksploitasi kekayaan alam negara-negara lain, termasuk negeri-negeri Islam. Mereka menciptakan perbudakan modern melalui neoimperialisme (penjajahan gaya baru). Mereka pun mencabut nilai-nilai kemanusiaan.

Tidak aneh jika kondisi kaum muslim hari ini menjadi umat yang terpinggirkan di berbagai belahan dunia, ini karena mereka tidak bersatu. Mereka hanya merasakan persatuan semu, seperti ketika melaksanakan Iduladha atau melaksanakan ibadah haji. Usai peribadatan ini, umat kembali tercerai-berai, bahkan saling memfitnah dan sebagian lagi sampai memerangi saudaranya yang lain. Mereka seperti tidak pernah bersaudara.

Berakhirnya sistem kehidupan Islam pada awal abad ke-20 dan munculnya dominasi pemikiran-pemikiran asing, terutama sekuler kapitalisme, merupakan problematika terbesar yang dihadapi kaum muslim dewasa ini. Akibatnya, umat Islam makin kehilangan gambaran nyata tentang kehidupan Islam yang sesungguhnya, sebagian besar memahami Islam hanya mengatur ibadah ritual.

Kita lihat betapa kondisi umat Islam saat ini—ketika meninggalkan aturan-aturan Allah—banyak problem umat yang tidak mampu diselesaikan, bahkan makin terpuruk. Terlebih lebih dengan makin gencarnya upaya musuh-musuh Islam melontarkan perang pemikiran dan budaya ke dunia Islam sebagai upaya mereka menghancurkan Islam. Mereka berupaya menebarkan benih-benih beracun nasionalisme yang menyebabkan umat Islam terkotak-kotak oleh batas-batas wilayah tertentu. Fakta tidak terbantahkan juga soal kondisi saurdara-saudara kita di Uighur, Rohingya bahkan yang terjadi di Palestina. Betapa pasukan Zion*s Yahudi membombardir Tanah Palestina hingga jatuh banyak korban jiwa, tidak hanya laki-laki, tetapi juga anak-anak dan perempuan pun menjadi korbannya.

Mirisnya, tidak ada satu pun negeri Islam yang membela Palestina, tanahnya kaum muslim. Tidak ada satu negeri muslim pun yang berupaya mengirimkan pasukan militernya untuk mengusir pasukan Yahud laknatullah ‘alaih. Tampak jelas bahwa nasionalisme telah memorak-porandakan persatuan kaum muslimin. Lengkaplah sudah kenestapaan umat Islam hari ini. Posisi akidah dan hukum-hukum Islam yang seharusnya menjadi pemersatu umat dan pijakan umat Islam, malah digantikan oleh pemikiran-pemikiran asing yang bertujuan agar pemahaman Islam tercabut dari benak kaum muslim. Tidak aneh jika kaum muslim bersatu berdasarkan ikatan kekeluargaan atau kesukuan, padahal ikatan tersebut lemah dan Islam melarang menyatukan manusia berdasarkan ikatan kesukuan atau golongan.

Oleh karenanya, merupakan suatu keharusan bagi seluruh umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan muslim, untuk berupaya semaksimal mungkin meraih kembali persatuan umat. Hanya persatuan hakiki sajalah yang akan membawa kebaikan bagi umat Islam, bahkan seluruh umat manusia di dunia ini.

Persatuan Hakiki

Keberadaan masyarakat yang beragam atau plural merupakan hal yang niscaya, bahkan masyarakat Islam pada masa Rasulullah pun adalah masyarakat yang plural. Akan tetapi, Rasulullah mampu mempersatukan mereka dengan akidah Islam dan hukum-hukum Islam.

Walhasil, persatuan umat Islam secara hakiki hanya bisa diwujudkan dengan menerapkan syariat Islam secara kafah dalam sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah, bukan yang lain. Sistem pemerintahan Islam sajalah yang Allah Swt. perintahkan dan Rasulullah saw. contohkan yang akan mampu mempersatukan kaum muslim di seluruh dunia.

Di bawah kepemimpinan seorang khalifah, yang memerintah secara sentralistis, menerapkan syariat Islam, dan melakukan aktivitas dakwah di tengah umat dan jihad ke seluruh dunia. Juga menerapkan hukum yang sama di seluruh negeri, dan tidak disekat-sekat dengan batas-batas wilayah.

Rasulullah saw. menggambarkan persatuan umat Islam dalam sabdanya, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR Muslim).

“Setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak menyakiti dan juga tidak disakiti. Jika seorang membantu saudaranya yang sedang membutuhkan, maka Allah akan membantunya ketika ia membutuhkan; dan jika seseorang menyembunyikan aib muslim yang lain, maka Allah akan menyembunyikan aibnya pula pada Hari Kebangkitan.” (HR Bukhari Muslim dari Abdullah bin Umar).

Kedua hadis di atas telah sangat gamblang memberikan penjelasan kepada kita betapa pentingnya persatuan umat. Ada hal penting yang diajarkan Rasulullah saw. kepada kita yang merupakan kunci dari persatuan umat. Pertama, persatuan umat membutuhkan ikatan yang sama, yaitu akidah Islam. Inilah yang melebur dan mempersatukan umat Islam seluruh dunia. Atas dasar yang sama, yakni prinsip tauhid “laa ilaaha illallah Muhammadur-Rasulullah”, umat Islam bersatu.

Kedua, persatuan membutuhkan kesatuan aturan. Tidak mungkin umat Islam bersatu kalau hidup kita tidak diatur oleh aturan yang satu, yaitu syariat Islam. Jika kita refleksikan dalam ritual ibadah haji, mengapa seluruh jemaah haji mau bergerak berlawanan arah jarum jam sebanyak tujuh kali putaran (tawaf)? Mengapa jemaah haji berkumpul bersama-sama di tempat dan waktu yang sama di Padang Arafah pada 9 Zulhijah (wukuf)? Tidak lain, semua itu mereka lakukan karena ketundukan mereka kepada syariat Islam.

Demikian pula agar tercapai persatuan umat yang hakiki, maka sesungguhnya umat Islam membutuhkan aturan yang satu dan sama yang tidak lain adalah syariat Islam.Ketiga, persatuan umat membutuhkan kepemimpinan yang satu. Pemimpin yang satu inilah yang saat ini hilang di tengah umat Islam di seluruh dunia. Padahal, tiga orang muslim saja yang melakukan perjalanan, diharuskan ada seorang pemimpin di antara mereka. Apalagi umat Islam saat ini di seluruh dunia yang ada lebih dari 1,9 miliar jiwa, tentu mengharuskan adanya seorang pemimpin yang dapat mengayomi umatnya dengan baik.

Dari ini semua dapat kita pahami pentingnya keberadaan kepemimpinan umat yang satu di seluruh dunia yang akan menerapkan syariat Islam secara kafah dan melaksanakan aktivitas dakwah ke seluruh dunia sehingga terwujud persatuan yang hakiki. Ini semua hanya akan terwujud jika Khilafah Islamiah ‘ala minhaj an-nubuwwah tegak di muka bumi ini.

Mengembalikan Persatuan Islam, Kewajiban Kaum Muslim

Persatuan umat Islam secara hakiki hanya akan terwujud tatkala syariat Islam tegak di muka bumi dan ini semua akan terwujud dengan adanya Khilafah. Kini, tugas kita adalah memperjuangkannya demi tercapainya persatuan umat dan terwujudnya Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Semua ini menjadi kewajiban kaum muslim seluruhnya, baik laki-laki maupun perempuan. Keduanya adalah bagian dari masyarakat yang berkewajiban menentukan arah ke mana masyarakat akan dibawa.

Dengan demikian, upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan persatuan umat tidak boleh lepas dari peran anggota masyarakat secara keseluruhan. Kerangka pandang yang dipakai tentu juga harus sama, yaitu kerangka pandang yang mencakup seluruh manusia di dunia (universal). Berdasarkan sudut pandang seperti inilah yang akan memberi jaminan tidak akan ada pihak yang dirugikan, yang tidak lain adalah kerangka pandang Islam. Lalu langkah apa yang harus ditempuh?

Rasulullah saw. telah memberikan contoh terbaik bagi kita semua, termasuk dalam upaya mempersatukan umat, yaitu aktivitas dakwah. Langkah awal yang telah beliau contohkan adalah dengan mengubah pola pikir umat—yang telah terasuki pemikiran-pemikiran asing—dengan tsaqafah Islam. Alhasil, umat bangkit dengan cara dan landasan yang benar, yaitu akidah Islam.

Caranya adalah dengan membina umat dengan Islam. Pemikiran dan hukum-hukum Islam ini tidak boleh dipandang sebagai informasi saja, tetapi harus dipandang sebagai acuan untuk membahas dan menyikapi fakta yang dihadapinya dengan tepat dan benar berdasarkan sudut pandang Islam.

Dengan pembinaan ini, maka akan terbentuk pemahaman Islam di tengah kaum muslim yang selanjutnya akan berpengaruh kepada tingkah lakunya dan mendorongnya untuk siap bergerak menyampaikan dakwah Islam, diatur oleh hukum-hukum Islam, dan senantiasa mengupayakan agar aturan Allah dan Rasul-Nya tegak di muka bumi. Dengan sistem Islamlah kita akan mampu meraih persatuan umat secara hakiki sebagai umat terbaik di muka bumi.

Khatimah

Hanya Islam satu-satunya yang akan membawa kaum muslim kepada kemuliaan sebagai satu tubuh yang tidak akan tergoyahkan.

Ketika kondisi umat tengah terpuruk, tidak memiliki gambaran jelas tentang Islam, jalan satu-satunya adalah dengan menyampaikan Islam secara kafah kepada umat, di mana pun dan kapan pun secara bersama-sama dan berkesinambungan, sebagaimana yang telah Rasulullah contohkan.

Di sinilah peran strategis muslimah sebagai bagian dari umat secara keseluruhan untuk bergerak di tengah umat, mewujudkan persatuan hakiki dalam naungan Khilafah. Pada momen Iduladha ini, sudah semestinya kita menguatkan kembali makna persatuan umat dalam jalinan kukuh ukhuah islamiah. Mengembalikan persatuan umat yang telah tercederai oleh nasionalisme ataupun penjajahan gaya baru yang dicanangkan oleh Barat. Umat Islam harus kembali bersatu, laksana satu bangunan yang kokoh, tidak tercerai-berai.

Allah Swt. berfirman, “Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.” (QS Ali Imran: 103).

Nabi Muhammad saw. juga bersabda, “Sungguh, mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti sebuah bangunan. Sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR Al-Bukhari).

Hanya kepada Allah kita memohon agar kita diberikan kesanggupan untuk menegakkan kembali kepemimpinan Islam yang mengikuti metode kenabian dan memberlakukan kembali syariat Islam dalam waktu dekat ini. [MNews/GZ]

Share

One thought on “Persatuan Umat yang Tercederai”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *