Penulis: dr. Hamdan Fahmi
Muslimah News, TELAAH KITAB — Jika terwujud keyakinan internal untuk tegar, melawan, dan beraktivitas demi suksesnya prestasi agung tersebut, hal itu akan menciptakan kondisi yang kondusif bagi negara dalam mewajibkan perundang-undangan untuk hidup sederhana dan dalam mewajibkan berbagai program. Hal itu karena upaya mengatasi kekurangan akan terjadi di tengah masyarakat secara otomatis yang berasal dari dorongan internal.
5. Membangkitkan pemahaman terdalam—berhubungan dengan akidah Islamiah—di dalam hati masyarakat, khususnya masalah balasan di akhirat.
Pemahaman terdalam jika terbangunkan dan terbangkitkan di dalam diri seorang muslim, maka akan menjelma menjadi pribadi yang berkomitmen dan antusiasme, suka berinfak, memberi, dan berkorban. Ia tidak akan memperhitungkan kesulitan dan kesukaran yang akan ditemuinya dalam melakukan semua itu.
6. Mengukuhkan pemahaman tentang jemaah, komando, dan kepemimpinan di dalam benak masyarakat. Hal itu dengan jalan menjelaskan makna individu dan jemaah, serta ikatan di antara mereka.
Benak masyarakat di dalam Daulah harus dikukuhkan pemahamannya tentang pentingnya menjaga kesatuan jemaah dengan menjaga institusi Daulah dan kepemimpinannya. Sebabnya, Daulah adalah kapal yang memuat putra-putra masyarakat di tengah gelombang permusuhan negara-negara kafir. Jika kapal tersebut karam, anak cucu umat ini akan kembali tenggelam di rawa-rawa kekufuran dan pengekoran.
Kesengsaraan akan kembali lagi lebih dari sebelumnya. Oleh karenanya, setiap muslim dituntut untuk mempertahankan perbatasan yang ia jaga. la juga dituntut untuk mempertahankan dan menjaga kapal milik umat, sekaligus menjaga pemimpinnya.
7. Mengukuhkan persepsi kemuliaan dan kehormatan di dalam akal dan jiwa putra-putra umat.
Umat yang mengetahui jati diri mereka, tidak akan rela, kecuali menjadi umat yang mulia dan tinggi. Pengetahuan tersebut memerlukan adanya penjelasan dan katalisasi dalam diri putra-putra umat muslim.
Umat Islam telah melalui berbagai tahap, realitas sejarah, dan berbagai krisis yang silih berganti sehingga telah melupakan hakikat itu sendiri. Akhirnya sampai pada tingkat di mana mayoritas umat ini menjadi rela dengan realitas yang dipaksakan oleh penjajah di atas leher-leher mereka. Bahkan kadang kala mereka merasa “senang” dengan realitas tersebut.
Masalah mengukuhkan pemahaman kemuliaan dan kehormatan bagi umat yang mengemban akidah yang unik dan hukum-hukum yang lurus, bukanlah hal yang sulit. Sejarah yang bercahaya belum terlalu lama berlalu. Dengan demikian, umat diingatkan kembali dengan sejarah mereka ketika mereka berdiri di pintu-pintu Prancis di Gunung Prans.
Umat diingatkan akan sejarahnya ketika mereka memasuki pelosok-pelosok Eropa Timur dan Rusia hingga Moscow. India dan Punjab di pelosok Asia pun tunduk kepada mereka. Umat diingatkan bahwa mereka dalam sejarahnya adalah umat yang tidak mengenal, kecuali kemuliaan dan kekuatan. Sebaliknya, mereka tidak mengenal kehinaan dan kepasrahan.
Masalah ini merupakan perkara mobilisasi paling penting dalam diri umat karena akan menjadikan individu-individu umat bertindak dalam menghadapi dan melawan. Hal ini seperti tindakan orang mulia yang menginginkan kemuliaan, kekuatan, dan kehormatan. Bukan sebaliknya, tindakan orang hina yang diliputi kehinaan dan rela terhadapnya bertahun-tahun yang panjang.
Inilah point-point praktis terpenting dalam memobilisasi umat melawan upaya kaum kafir untuk menjauhkan dari jalan Allah dan menghancurkan institusi umat.
Masalah mobilisasi umum bukanlah masalah yang sulit. Akan tetapi memerlukan pendekatan yang baik, pengulangan, ketekunan, dan kerja keras. Dengan demikian, pemahaman keberanian, pengorbanan, dan sikap teguh akan menjadi karakter umat individu per individu.
Alhamdulillah, umat ini memiliki banyak potensi dari para ulama, inovator, dan motivator dalam bidang ini. Umat juga memiliki cara dan sarana yang banyak dan mencukupi untuk menyampaikan pemikiran ini ke akal dan hati umat.
Jika umat telah sampai pada derajat yang tinggi dari mobilisasi secara akliah dan nafsiah, umat ini seperti yang telah kami sebutkan, hal itu akan menjadi daya pendorong dan kekuatan untuk menghadapi segala upaya kaum kafir. Umat tetap kokoh meskipun menderita kelaparan, kurang sandang, dan kehilangan kesenangan hidup pada saat awal.
Dengan demikian, umat akan menjadi pilar penopang bagi Daulah, bukan menjadi beban. Umat akan menjadi penjaga yang tepercaya, bukannya pecundang. Umat akan menjadi kekuatan yang terdorong maju, yang bersamanya setiap institusi Daulah pun terdorong maju, bukan menjadi penambah beban bagi institusi Daulah. [MNews/RY-YG]
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.
