Penulis: dr. Hamdan Fahmi
Muslimah News, TELAAH KITAB — Pada bagian terdahulu, kami telah membicarakan pembahasan ini dalam menampakkan tantangan-tantangan dan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi oleh Daulah Islam yang telah dijanjikan–pasti berdiri dalam waktu dekat atas izin Allah—yang berasal dari luar, yaitu tantangan-tantangan luar negeri.
Kami juga telah menyebutkan secara ringkas metode mengatasi dan menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Masalahnya tidak akan berhenti hanya pada batas tantangan-tantangan luar negeri ini. Akan tetapi, daulah—seperti yang telah kami sebutkan— juga akan menghadapi tantangan dalam negeri. Tantangan dalam negeri ini tidak kalah pentingnya dari tantangan luar negeri, meskipun tingkat bahayanya lebih kecil.
Tantangan dalam negeri ini juga membutuhkan rencana-rencana persiapan dan rencana menghadapinya untuk bisa mengatasi dan melampauinya pada awal berdirinya Daulah Islamiah. Tantangan dalam negeri yang pertama dan paling penting adalah mobilisasi secara pemikiran dan maknawi. Hal ini sesuatu yang penting untuk menghadapi seluruh bahaya dan kesulitan di dalam dan luar negeri.
Pada pembicaraan kita terdahulu tentang embargo ekonomi, kami telah membicara secara ringkas tentang mobilisasi dalam negeri untuk menghadap embargo. Sekarang kami akan lebih merinci masalah mobilisasi untuk menghadapi tantangan dalam negeri. Kami memulai dengan point ini, yaitu mobilisasi. Ini karena sebagian besar tantangan dalam negeri atau pun luar negeri terkait langsung dengan masalah mobilisasi ini.
Invasi luar negeri, baik militer atau bukan, berupa embargo dan lainnya, memerlukan persiapan secara pemikiran dan maknawi untuk menghadapinya. Kurangnya sumber-sumber pemasukan di dalam negeri dibandingkan besarnya beban dan tuntutan, juga memerlukan mobilisasi untuk bertahan, menentang, dan demi kelangsungan Daulah.
Diperlukan juga aktivitas mobilisasi revolusioner untuk Islam dalam seluruh lembaga negara, baik sipil maupun militer. Demikian juga memerlukan mobilisasi umum akliah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) pada din masyarakat. Kurangnya persiapan persenjataan dan sarana-sarana fisik yang berkaitan dengan masalah keseharian hidup juga memerlukan mobilisasi.
Tantangan dan kesulitan lainnya, baik dalam negeri maupun luar negeri, semuanya memerlukan mobilisasi. Tidak berlebihan jika kami katakan bahwa mobilisasi merupakan ujung tombak dalam setiap bentuk perlawanan dan penentangan terhadap tantangan dan kesulitan yang dihadapi oleh Daulah Khilafah yang telah dijanjikan.
Umat yang tidak memiliki senjata ini akan cepat hancur dan bertekuk lutut menghadapi pukulan, meskipun umat itu memiliki semua jenis perlawanan lainnya. Apa yang dimaksud mobilisasi? Bagaimana kita mewujudkannya di tengah umat untuk menghadapi tantangan dan bahaya yang bermacam-macam?
Mobilisasi adalah menaikkan peringkat umat secara pemikiran dan kejiwaan dengan Islam, akidah, dan hukum-hukumnya. Dengan demikian, peringkatnya naik menjadi kuat untuk bersikap tegar menghadapi bencana dan tantangan, berani terjun mengarungi bahaya tanpa takut kematian, serta sanggup menahan lapar dan berpanasan tanpa menoleh kepada kenikmatan hidup di dunia. Bahkan tetap fokus memperhatikan keridaan Tuhannya, bersabar, dan terus berharap di depan semua hambatan tersebut.
Dengan makna lain, mobilisasi itu adalah aktivitas mewujudkan keyakinan yang menancap kuat di dalam akal serta mengisi nafsiyah dengan muatan keimanan yang mengantarkan umat ke derajat yang tidak lagi melihat tanah dan daratan. Bahkan meninggi dari semua itu dan berhubungan dengan pencipta mereka dengan hubungan ruhiyah yang agung.
Tata cara mewujudkan karakter agung nan tinggi tersebut di dalam diri individu-individu umat memerlukan beberapa perkara berikut.
1. Penjelasan tentang akidah yang lurus dan syariat yang istikamah di mana kita sedang berada, dibandingkan dengan apa yang dijalani oleh para pengikut peradaban Barat khususnya dan kaum kafir pada umumnya.
Penjelasan tersebut akan melahirkan muatan-muatan keimanan di dalam nafsiyah seorang muslim. Keimanan tersebut akan mendorong muslim tersebut menentang dan menantang kekufuran. Juga menjadikannya lebih siap untuk berkorban demi kelangsungan agama yang lurus ini dan Daulah yang mengemban dan menerapkannya di tengah masyarakat.
Begitu pula akan menjadikan muslim tersebut lebih membenci kekufuran dan kaum kafir. Sebabnya, apa yang ada di dalam diri mereka berupa akidah yang rusak, serta hukum-hukum dan solusi-solusi yang rendah.
2. Penjelasan akan tujuan-tujuan kaum kafir dan target-target mereka. Upaya mereka itu bertujuan menghancurkan institusi baru. Juga untuk menjadikan umat Islam tetap sebagai pengekor bagi politik mereka, rampasan untuk memajukan perdagangan dan industri mereka, serta menjadi pasar bagi produk-produk mereka.
Demikian juga penjelasan bahwa permusuhan mereka itu memancar dari kebencian mereka kepada umat Islam dan agamanya sebagai suatu umat yang mengemban agama ilahi samawi.
Berangkat dari titik tolak yang bersifat keyakinan itu, mereka yaitu kaum kafir, sangat ingin untuk menghancurkan umat Islam. Mereka sangat ingin agar cahaya ilahi ini tidak bersinar dan tidak muncul di muka bumi ini dalam bentuk institusi politik yang memiliki kekuatan dan kekuasaan.
Pada bagian terdahulu telah kami sebutkan sejumlah ayat dan hadis yang membicarakan tentang kebencian kaum kafir itu.
3. Memahami hakikat sejarah dari abad ke abad sejak masa Rasul saw. hingga masa kita kini. Juga menjelaskan dan menyingkapnya kepada umat Islam. Hal itu untuk menjelaskan hakikat praktis yang dibenarkan oleh berita dan Allah. Pada waktu yang sama, memprovokasi umat untuk melawan kebuasan kaum kafir dan cara-cara hina mereka dalam merealisasikan tujuan-tujuannya yang hina melawan umat Islam.
4. Memobilisasi secara akliah dan nafsiyah untuk mendorong umat agar mau berkorban, lebih mengutamakan orang lain, saling menanggung secara sosial di antara masyarakat dalam menghadapi embargo, dan mengatasi kurangnya sumber-sumber dalam negeri di dalam Daulah.
Inilah yang secara riil dilakukan oleh Rasul saw. pada masa awal dakwah, juga pada waktu-waktu sulit serta terjadinya krisis ekonomi dan politik. Beliau mendorong untuk saling menanggung. Beliau juga menjelaskan besarnya pahala di sisi Allah Swt. atas hal itu. Beliau mendorong untuk berkorban jiwa dan harta demi kemaslahatan masyarakat. Beliau menjelaskan balasannya yang baik di sisi Allah Taala. [MNews/RY-YG]
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.

One thought on “[Khilafah Rasyidah] Mobilisasi secara Pemikiran dan Maknawi (Bagian 1/2)”