Muslimah News, NASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) memberikan ulasannya terkait kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mengirim anak-anak nakal ke barak militer untuk dididik secara militer.
Dalam Fokus to The Point: “Anak Nakal di Barak Militer, Solusi?”, Rabu (14-5-2025), di kanal UIY Official, ia menuturkan bahwa semua orang pasti berharap bisa menyelesaikan masalah sehingga harus dicari akar masalahnya.
Faktor Penyebab
Ia mengutarakan, ada banyak faktor penyebab kenakalan tersebut. “Pertama dan yang utama tentu menyangkut sistem nilai yang dianut atau dipahami oleh anak,” ujarnya.
Ini karena, lanjutnya, kenakalan remaja saat ini sudah bukan lagi ala remaja. “Kalau berkelahi itu sudah dengan nuansa hendak membinasakan, membawa celurit, dan ketika bisa mengenai lawannya itu sudah tanpa ampun,” ungkapnya.
Kedua, sebutnya, ada nuansa kekerasan yang melingkupi dunia remaja hari ini, baik dari yang dilihat remaja melalui media sosial maupun dalam kehidupan keseharian. “Ketiga, ada persepsi yang salah selama ini bahwa mereka itu masih dianggap sebagai kanak-kanak atau disebut dengan istilah “di bawah umur”,” ucapnya.
Padahal, jelasnya, mereka sudah jauh di atas umur atau sesungguhnya sudah dewasa. “Apalagi kalau menggunakan tolok ukur syariat, batas balig atau mukalaf untuk anak laki-laki adalah mimpi basah dan perempuan sudah haid. Ketika dianggap sebagai mukalaf, maka mestinya harus bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan, baik ucapan maupun tindakan,” terangnya.
Bahkan faktanya, ia melanjutkan, ketika remaja itu melakukan kejahatan, seolah-olah itu bisa dimaafkan karena masih di bawah umur dan tidak ada hukuman yang setimpal. “Ketika membunuh, misalnya, tetapi dianggap sebagai anak di bawah umur, maka tidak berjalan itu hukuman bagi orang dewasa yang membunuh. Nah, ini kan kekeliruan besar,” tegasnya.
Jadi, menurutnya, faktor-faktor tersebut harus dikupas terlebih dahulu, serta dicari akar masalah dan solusinya.
“Jika tidak, maka pembarakan mereka bisa menimbulkan implikasi lain. Misalnya, tidak memunculkan pribadi yang welas asih, pribadi yang lembut hatinya, tetapi menjadi pribadi yang lebih garang atau lebih keras. Meskipun di barak mendapatkan nilai-nilai positif militer, seperti kepatuhan, kedisiplinan, dan ketaatan kepada aturan yang saat ini dianggap tidak ada atau hilang pada anak-anak nakal itu, tetapi kan tidak menjamin juga karena mestinya tidak pernah ada kejahatan yang dilakukan oleh oknum militer,” paparnya.
Kesadaran Substansial
Ia menerangkan, sebenarnya yang penting sekali adalah membangun kesadaran yang substansial, yang transedental. “Mesti ditanamkan kepadanya bahwa dirinya adalah hamba Allah sehingga ketika sudah balig atau mukalaf, maka harus bertanggung jawab,” ujarnya.
Kalau mengacu kepada sistem pendidikan Islam, sambungnya, maka dirinya diciptakan Allah bukan sembarangan, tetapi ada maksud dan tujuan.
“Tujuannya jelas, yaitu sebagai hamba Allah untuk beribadah kepada-Nya. Makna ibadah itu ringkasnya adalah ketaatan kepada semua aturan Allah, tidak hanya makanan, minuman, dan pakaian. Kesadaran semacam ini yang mestinya ada sebagai bagian dari karakter seorang manusia,” urainya.
Kemudian, tambahnya, memiliki akhlak mulia yang berkaitan dengan cara bersikap kepada orang lain. “Jika dirinya menyadari betul sebagai hamba Allah dan harus taat kepada Allah, maka harus berakhlak mulia. Jadi senakal-nakalnya itu, enggak ada pikiran membunuh atau yang semacamnya yang bukan lagi kenakalan remaja biasa,” bebernya.
Namun, ulasnya, karakter saja tidak cukup tanpa kompetensi. “Di dunia ini, yang diperlukan bukan hanya orang saleh, tetapi juga orang yang muslih, yang mampu menjawab tantangan perkembangan,” ucapnya.
Jadi, ungkapnya, pembarakan militer harus disertai pemahaman kerangka persoalan yang tidak terpisahan dari pendidikan yang menyentuh dua sisi sekaligus, yakni karakter dan kompetensi.
Namun, lanjutnya, pendidikan ini tidak bisa berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian tidak terpisahkan dari tatanan ekonomi, politik, sosial, termasuk negara.
“Di situlah pentingnya negara yang berdasarkan syariat Islam. Negara yang betul-betul mengerti bagaimana mengatur masyarakatnya dengan aturan yang benar. Itulah Islam,” tandasnya. [MNews/RA]
