[Kabar] Aktivis: Khilafah Adalah Mimpi Buruk yang Selalu Diingat Netanyahu

[Kabar] Aktivis: Khilafah Adalah Mimpi Buruk yang Selalu Diingat Netanyahu

Muslimah News, INTERNASIONAL — Perdana Menteri entitas Zion*s Yahudi, Benjamin Netanyahu, mengatakan (23-4-2025), pemerintahannya tidak akan pernah menyerah untuk meraih kemenangan dalam perang. “Kami bertekad untuk membebaskan para tawanan dan kami tidak akan membiarkan berdirinya Khilafah Islam (Kekhalifahan) mana pun, baik di utara maupun di selatan, atau di tempat lain mana pun. Jika para ekstremis mengalahkan kami, dunia Barat akan menjadi target mereka berikutnya,” tambah Netanyahu.

Ini bukan pertama kalinya Netanyahu menyebut Khilafah sebagai ancaman yang ingin ia cegah. Ini adalah kedua kalinya dalam pekan ini, dan ketiga kalinya selama perang di Gaza, meskipun tidak dengan nomenklatur dan struktur yang sama, tetapi dengan makna yang sama.

Mimpi Buruk

Menyikapi hal tersebut aktivis muslim Insinyur Baher Saleh mempertanyakan, “Sekarang, apa yang mendorong Netanyahu baru-baru ini untuk fokus pada Khilafah dan mengangkatnya sebagai ketakutan yang ingin ia hilangkan? Apakah ini berimplikasi pada perkembangan perang di Gaza? Apa implikasi dari pidato itu sendiri? Khilafah adalah mimpi buruk yang selalu diingatnya,” ungkapnya kepada Kantor Berita Ideologis internasional, Rabu (30-4-2025).

Menurutnya, Khilafah meskipun dikecualikan dari wacana media atau dijauhkan dari wacana politisi Barat dan agen-agen mereka di negara-negara muslim, Khilafah merupakan obsesi terbesar Barat dan mimpi buruk terus-menerus yang mereka ingatkan satu sama lain setiap kali diperlukan. “Ketika Netanyahu berbicara tentang obsesinya terhadap Khilafah, yakni ‘jika para ekstremis mengalahkan kita, dunia Barat akan menjadi target mereka berikutnya’, Netanyahu tahu bahwa kembalinya Islam, khususnya Islam ideologis dan Khilafah, merupakan perhatian terbesar Barat di kawasan tersebut.

Oleh karena itu, lanjutnya, Netanyahu menipu mereka dengan meyakini akan hasilnya, yakni jika Netanyahu tidak melanjutkan kejahatannya dan perang terhadap para wanita, anak-anak, orang tua, sekolah, masjid, dan rumah sakit di Gaza, akan terwujud berdirinya Khilafah di kawasan tersebut. “Di sini, Netanyahu sebenarnya mengarahkan pesannya secara eksplisit,” terangnya.

Fobia

Ia menjelaskan, Netanyahu tahu, gerakan perlawanan di Gaza, yakni di selatan, Hezb Iran di Lebanon, yakni di utara, serta Houthi di Yaman, penguasa baru Suriah, dan Iran sendiri, tidak menyerukan Khilafah Rasyidah (Kekhalifahan yang dipimpin dengan benar sesuai metode kenabian) atau berusaha mendirikannya. “Akan tetapi, Netanyahu membingkai perang brutalnya dalam konteks fobia Kekhalifahan yang ada di antara para pemimpin Barat dan kelas politik mereka sehingga memperoleh dukungan dan restu mereka atas perang brutalnya di Gaza dan serangannya terhadap Lebanon, Yaman, dan Suriah,” tegasnya.

Menurutnya, hal ini merupakan indikasi bahwa Netanyahu mulai merasa kesulitan untuk mengatasi pelonggaran dan penurunan dukungan secara bertahap seperti pernyataan Trump di Air Force One Gaza beberapa waktu lalu, ‘”Kita harus bersikap baik kepada Gaza, mereka orang-orang yang menderita. Kita harus bersikap baik kepada Gaza. Kita akan mengurus mereka.”

“Setiap kali Netanyahu merasakan bahwa dukungan Amerika dan Barat mulai memudar, mengingat kebrutalan dan sifat perang yang berlarut-larut, ia berusaha untuk mengobarkan kembali ketakutan Barat tentang konsekuensi akan keringanan terhadap perlawanan,” bebernya.

Namun, lanjutnya, Netanyahu tahu entitas dan pasukannya terlalu lemah untuk menghadapi umat atau upaya seriusnya. “Netanyahu melihat bagaimana pasukannya membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua yang tidak berdaya, serta mengebom rumah, sekolah, masjid, dan tempat penampungan, tanpa menghadapi pasukan,” jelasnya.

Ia menerangkan, Netanyahu melihat selama delapan belas bulan, ia bersama dengan semua negara di dunia, yang dipimpin oleh Amerika, Jerman, Prancis, dan semua penguasa muslim, tidak mampu mengalahkan garis depan Gaza secara meyakinkan. “Hanya ada segelintir mujahidin dan orang-orang yang tidak berdaya dan terkepung. Bagaimana ia akan mampu menghadapi satu pasukan muslim?” tanyanya.

Mabuk

Baher menyampaikan, sejak awal sudah tampak jelas, musuh Allah Swt., Netanyahu, mabuk dengan euforia kekuasaan dan kemenangan. “Setelah tertipu oleh sikap para penguasa muslim yang patuh, yang mencegah umat dan tentaranya untuk mendukung Palestina, Lebanon, Yaman, dan Suriah. Para penguasa yang patuh ini membiarkan Netanyahu untuk mengebom, membunuh, menghancurkan, membakar, menggusur, dan mengancam, tanpa memobilisasi satu pun tentara, pesawat, kapal perang, atau tank,” paparnya.

Ia mengatakan, sebaliknya, para penguasa yang patuh membantu Netanyahu dalam mengepung orang-orang Gaza, telah memasoknya dengan uang, makanan, pakaian, dan senjata. “Hal ini membuat Netanyahu percaya bahwa umat itu lemah, dan ia merasa mampu mencapai impian dan keinginannya tanpa hambatan apa pun, selama ia menikmati dukungan mutlak dan terus-menerus dari entitasnya, Amerika, Barat, dan para penguasa muslim,” bebernya.

Namun, katanya, pastilah euforia dan rasa berkuasa ini tidak membuat Netanyahu melupakan kenyataan dan fakta bahwa entitasnya sendiri tidak mampu mencapai impiannya. “Setelah merasakan bahwa Amerika ingin mengandalkan entitasnya untuk memerangi Islam di kawasan tersebut, setelah Amerika mulai merencanakan untuk mengurangi peran Iran, dan mulai melakukannya, Netanyahu kini melihat dirinya sebagai wakil kepentingan dan rencana Barat, yang dipimpin oleh Amerika, dalam memerangi Islam di kawasan paling bergejolak di dunia dan mencegah kaum muslim mendapatkan kembali otoritas mereka dan mendirikan Khilafah,” bebernya.

Tantangan

Baher menerangkan, Netanyahu menghadapi dua tantangan yang terus-menerus diupayakan untuk bisa diatasi. “Pertama, terkait dengan platform populer Netanyahu dan orang-orang Yahudi yang menanggung harga perang dalam bentuk tentara, keamanan, dan ekonomi. Kedua, terkait dengan opini publik global, dukungan Barat terhadap Netanyahu, dan kemampuan para pemimpinnya untuk melanjutkan dukungan ini,” jelasnya.

Menurutnya, ketika Netanyahu berulang kali berbicara tentang mengubah wajah Timur Tengah. “Meskipun Netanyahu sadar, ia tidak akan meneruskan perangnya di Gaza, atau front mana pun, tanpa dukungan terus-menerus dari Barat bagi entitasnya dan ia sadar, hingga kini ia belum terlibat dalam satu perang pun melawan satu pun pasukan muslim, dan ia hanya menyerang formasi yang hanya memiliki sedikit persenjataan dan amunisi, Netanyahu tetap saja berbicara, menipu dirinya sendiri dan para pengikutnya, bahwa ia berperang di tujuh front,” ungkapnya.

Netanyahu, sambung Baher, mengarahkan wacana Khilafah di dalam negeri dan di platform populer domestik yang berusaha dipertahankan untuk membuat banyak orang percaya bahwa ia adalah orang berkemauan kuat, tujuan yang luhur, hingga berjuang di tujuh medan.

“Harapannya, tidak ada yang keberatan untuk membayar harga yang mahal asalkan tujuan dan pencapaiannya hebat, seperti yang dinyatakan Menteri Pertahanannya, Katz, beberapa hari lalu,” bebernya.

Krisis

Wacana Netanyahu tentang Khilafah, ungkap Baher, benar-benar ditujukan kepada Barat, rakyatnya, lingkaran politik, dan para pemimpinnya, bukan kepada platform populernya, umat Islam, atau gerakan perlawanan. “Wacana ini menunjukkan krisis yang meningkat yang dihadapinya di Gaza dan prospek perang yang makin menipis, mengingat ketakmampuannya untuk menyelesaikan pertempuran, dan keterlibatannya dalam perang yang berkepanjangan dan melelahkan,” cetusnya.

Adapun, ungkapnya, Khilafah Rasyidah kedua yang mengikuti metode kenabian, insyaallah akan datang dengan kemuliaan atau setelah kehinaan. “Khilafah adalah janji dan kabar gembira, sebagaimana disampaikan oleh Nabi tercinta Muhammad saw., ‘Tsumma takuunu khilafatan ‘ala minhaajinnubuwah (kemudian akan ada Khilafah, Kekhalifahan, yang mengikuti metode kenabian).’ Segera, insyaallah, mimpi buruk yang menghantui para pemimpin Barat dalam mimpi mereka akan menjadi kenyataan di depan mata mereka,” bebernya.

Untuk mengakhiri, ia mengutip firman Allah Swt. dalam QS Ar-Rum: 6, “Itulah janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [MNews/IK]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *