[Khilafah Rasyidah] Metode Menghadapi Perang Fisik dan Bersikap Teguh di Dalamnya (Bagian 2/6)

[Khilafah Rasyidah] Metode Menghadapi Perang Fisik dan Bersikap Teguh di Dalamnya (Bagian 2/6)

Penulis: dr. Hamdan Fahmi

Sambungan dari Bagian 1/6

Muslimah News, TELAAH KITAB — Kedua, menyeru masyarakat umum dengan perencanaan yang baik untuk menghimpun segenap potensi fisik di bawah pengelolaan daulah. Kondisi ini merupakan kondisi yang menjadi kepentingan setiap individu rakyat. Pada dasarnya, seperti yang telah kami sebutkan, kondisi ini harus disikapi hidup atau mati. Artinya, manusia harus mengorbankan diri dan hartanya.

Hukum asal bagi setiap muslim dalam kondisi ini, hendaknya ia mencurahkan segenap potensi fisik yang ada padanya di atas kebutuhan pokok dalam rangka mobilisasi umum ini. Orang yang bisa mengerahkan hartanya, ia harus mengerahkan hartanya. Orang yang mampu menyumbangkan persenjataan dan dukungan logistik, ia harus menyumbangkan persenjataan dan dukungan logistik. Para petani bisa menyumbangkan hasil-hasil pertanian yang mungkin ia sumbangkan. Para peternak bisa menyumbangkan hewan-hewan ternaknya, kelebihan dari kebutuhan pokoknya. Wanita yang memiliki perhiasan-perhiasan emas, maka ketentuan asalnya hendaklah ia menyumbangkan perhiasan-perhiasan itu demi mobilisasi umum ini.

Orang-orang yang menjalankan urusan ini mencatat berbagai potensi fisik yang disumbangkan, berikut siapa yang menyumbangkannya. Hal itu supaya pada kemudian hari, daulah bisa memberikan ganti kepada siapa saja yang meminta penggantian hartanya.

Ketiga, menyeru semua orang yang memiliki kemampuan untuk turut serta dalam upaya pertahanan dan peperangan, baik mereka yang termasuk anggota pasukan reguler maupun pasukan cadangan, atau pun selain mereka yang menguasai teknik berperang. Mereka semua diseru untuk bergabung dalam mobilisasi masyarakat dan melatihnya agar menguasai teknik-teknik perlawanan dan peperangan.

Siapa yang mampu melatih kemiliteran, ia harus melatih kemiliteran. Siapa yang bisa melakukan mobilisasi secara maknawi, ia harus melakukan hal itu. Siapa saja yang mampu memberikan pengarahan dan nasihat untuk menghadapi krisis-krisis yang terjadi, ia harus melakukan hal itu. Begitulah seterusnya.

Keempat, mengaktivasi semua potensi umat dengan segala bentuk dan lapangannya, baik pertanian maupun industri. Sebabnya, perang mengharuskan kontinuitas suplai dukungan, peralatan, dan logistik. Peperangan itu juga mengharuskan umat secara umum untuk menyediakan berbagai kebutuhan penting, khususnya kebutuhan pokok. Pada area ini harus difokuskan pada upaya membangkitkan aspek keyakinan dalam beraktivitas dan dalam menggelorakan kerinduan kaum muslim untuk meraih kemuliaan dan kehormatan di dunia, serta surga dan Negeri Akhirat.

Kelima, menyebarkan dan menumbuhkan spirit persaudaraan di antara masyarakat. Hal itu sama persis dengan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam menghadapi serangan brutal pihak Quraisy dan kabilah-kabilah Arab. Sesungguhnya persaudaraan akan banyak meringankan beban daulah dalam memenuhi kebutuhan menyarakat.

Inilah secara ringkas berbagai perkara mobilisasi umum di dalam negeri yang mungkin dilakukan oleh para pemegang urusan umat untuk menghadapi berbagai bahaya dan mewujudkan persiapan sebaik-baiknya.

Manuver Politik dan Manajemen Krisis yang Baik

Manuver-manuver politik merupakan sesuatu yang paling penting dalam menentang berbagai tantangan luar negeri. Yang dimaksud dengan manuver politik yang dilakukan oleh khalifah dan para pelaksana urusan umat, serta di antara para pembantu khalifah adalah menampakkan aktivitas, pernyataan, dan tindakan. Pada saat yang sama menyembunyikan tujuan-tujuan dan target-targetnya, memiliki pengaruh besar dalam keberhasilan mengelabui musuh. Ini khususnya karena negara-negara kafir ada kemungkinan dapat mengagalkan manuver politik itu atau sebaliknya berhasil dikelabui.

Masalah kreativitas dan inovasi tidak mungkin dibatasi dalam poin-poin tertentu. Ini karena kreativitas dan inovasi dilakukan sesuai dengan fakta dan peristiwa. Akan tetapi, kreativitas dan inovasi itu harus berada dalam koridor kebenaran dan keterikatan dengan hukum-hukum Islam dalam peperangan, khususnya terkait dengan kaum kafir.

Untuk tujuan manuver politik ini, wajib dipilih orang-orang yang kreatif dalam masalah politik, pandangan (teori) politik, pengetahuan akan berbagai siasat dan strategi Barat secara khusus, serta berbagai tujuan dan target Barat.

Rasulullah saw. adalah pengajar kita. Beliau telah melakukan manuver politik dengan baik sekali, yaitu dalam menampakkan aktivitas-aktivitas tertentu. Sebaliknya, beliau saw. menyembunyikan tujuan-tujuan dan target-target jangka panjang. Hal itu seperti yang terjadi pada perjanjian Hudaibiyah.

Realitas yang tampak dari aktivitas Rasul saw. dan para sahabat adalah bahwa beliau menghendaki umrah. Hal itu dilakukan dengan mengenakan pakaian ihram dan menggiring hewan kurban. Akan tetapi, hakikatnya adalah sebaliknya, di mana targetnya adalah perjanjian dalam rangka memecah koalisi atau pakta yang terbentuk di antara Quraisy dan Yahudi.

Adapun manajemen krisis yang baik, maka hal itu bergantung pada kemampuan pihak yang berwenang dalam mengagitasi umat menentang kaum kafir, mensolidkan barisan di dalam negeri, dan membangkitkan perasaan umat dalam aktivitas mobilisasi umum dengan segala deskripsi dan bentuknya.

Menyeru Bangsa-Bangsa Islam dan Bangsa-Bangsa Kafir secara Baik

Kami telah menyebutkan di awal pembahasan bahwa negara-negara kafir akan mengunakan segala yang mampu digunakan untuk menghasut opini umum internasional dan mengagitasi negara-negara tetangga daulah, termasuk bangsa-bangsa Islam. Negara-negara kafir tersebut dalam hal ini akan menggunakan kebohongan, penyesatan, dan propaganda menentang Daulah Islamiah.

Dari sinilah pentingnya seruan yang baik kepada bangsa-bangsa untuk menjelaskan hakikat-hakikat yang ada. Hal itu mungkin tercakup di dalam sarana-sarana dan cara-cara sebagai berikut.

Pertama, mendirikan berbagai stasiun penyiaran, baik radio maupun televisi, lalu mengarahkannya ke negara-negara tetangga. Jika stasiun itu dirusak, negara mengadakan stasiun-stasiun rahasia sebagai gantinya. Jika memungkinkan, stasiun penyiaran itu diadakan hingga di dalam wilayah negara-negara tetangga.

Kedua, pemanfaatan semua sarana yang memungkinkan untuk menyampaikan seruan daulah, penjelasan mengenai hakikat apa yang terjadi, serta penjelasan tentang berbagai kebohongan dan penyesatan yang dilakukan kaum kafir dalam menentang daulah.

Upaya itu dapat juga dilakukan melalui internet dan berbagai penjelasan. Bisa juga dengan menjalin kontak dengan pribadi-pribadi berpengaruh di dalam wilayah negara-negara tetangga. Jika memungkinkan bisa diadakan berbagai seminar, kajian, atau ceramah di masjid-masjid, gedung-gedung pertemuan, dan sebagainya. Di sinilah terdapat peran penting dari para pengemban dakwah di negeri-negeri kaum muslim untuk menggerakkan bangsa-bangsa Islam menentang para penguasa mereka dan untuk berjuang menggabungkan negara-negara mereka ke dalam Daulah Islamiah. [MNews/RY-YG]

Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.

Share

One thought on “[Khilafah Rasyidah] Metode Menghadapi Perang Fisik dan Bersikap Teguh di Dalamnya (Bagian 2/6)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *