[Kabar] UIY: Syawal, Momentum Membangun Kemauan untuk Taat

[Kabar] UIY: Syawal, Momentum Membangun Kemauan untuk Taat

Muslimah News, LENSA DAERAH — Di hadapan ratusan tokoh lintas profesi se-Jawa Barat, cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyampaikan bahwa Syawal merupakan momentum membangun kemauan untuk taat.

“Bulan Syawal menjadi momentum membangun kemauan untuk taat kepada Allah Swt.,” ujarnya di acara Dialog Syawal dan Temu Tokoh Perubahan bertajuk “Bahagia di Tengah Derita, Saatnya Berubah”, Ahad (27-4-2025), di Kabupaten Bandung Jawa Barat.

Ia melanjutkan, substansi Syawal adalah mengingat esensi Ramadan dan menghayatinya, yaitu kemauan untuk taat. ”Kemauan untuk taat inilah yang disebut takwa. Jika ada kemauan jangankan yang ringan yang berat pun bisa kita lakukan. Kemauan untuk taat inilah yang harus terus kita upayakan. Tanpa kemauan tidak pernah akan tercetak peradaban besar,” tandasnya.

Istimewa

Menurut UIY, tidak mungkin Ramadan sebagai bulan istimewa jika di dalamnya tidak ada sesuatu yang istimewa. “Pasti untuk tujuan yang istimewa, yaitu takwa. Jadi esensi Syawal adalah memunculkan kesadaran bahwa takwa itu istimewa,” cetusnya.

Ia melanjutkan, takwalah yang akan menentukan tinggi rendahnya manusia di hadapan Allah, menentukan posisi manusia di akhirat, dan yang membuat hidup di dunia pasti penuh berkah.

”Karenanya, takwa harus ditempatkan di posisi paling istimewa yang karenanya seluruh potensi hidup kita diarahkan untuk meraihnya. Syawal mestinya menyadarkan kita betapa tujuan saum Ramadan itu sesuatu yang istimewa yang harusnya kita jaga,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan, dengan saum, Allah ingin menunjukkan bahwa beragama itu butuh kemauan sebab seringan apa pun perintah agama jika tidak ada kemauan untuk menjalankan, maka tidak akan terealisasi. ”Kemauan untuk taat itu mudah, tetapi masih banyak yang tidak mau,” sindirnya.

Ia mencontohkan, agar orang tidak korupsi tidak dibutuhkan kemampuan, yang dibutuhkan hanya satu, kemauan untuk tidak korupsi, tetapi realitasnya korupsi masih merajalela.

UIY mengajak merenung, bahwa selama Ramadan kaum muslimin diperintahkan untuk meninggalkan yang halal. ”Kita tidak makan minum itu bukan karena makanan minuman itu haram. Itu halal! Bukan enggak ada makanan sehingga kita diminta puasa, bahkan bisa jadi makanan melimpah, tetapi Allah perintahkan untuk meninggalkan itu semua, dan ternyata kita bisa. Yang halal saja bisa kita tinggalkan, apalagi yang haram,” tegasnya.

Kehidupan Bernegara

UIY berpesan agar takwa ini tidak berhenti pada level individu, tetapi juga harus sampai kepada level negara. Ia menilai, ketakwaan level negara ini yang saat ini lepas dari kaum muslim.

”Kalau menggunakan standar Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 96, masyarakat kita jauh dari takwa, realitasnya yang wajib ditinggalkan, yang haram dikerjakan sehingga menimbulkan fasad. Kesenjangan, moralitas, korupsi, L68T, itu semua fasad karena meninggalkan Al-Qur’an,” bebernya.

Ia menambahkan, kemaksiatan itu ada kemaksiatan personal ada kemaksiatan struktural yang kesemuanya menimbulkan fasad. ”Fasad ini ditampakkan oleh Allah Swt. untuk menyadarkan manusia agar kembali ke jalan Allah. Tetapi hari ini, kesadaran itu tidak muncul, yang ada kemaksiatan ditutup dengan kemaksiatan lagi. Di sinilah urgensinya kita harus berjuang bersama untuk menegakkan takwa dalam bermasyarakat dan bernegara,” tandasnya.

Alami

Untuk berjuang bersama ini, dalam pandangan UIY, keberadaan banyak ormas itu alami dan tidak mungkin disatukan sebagaimana tidak mungkinnya lima jari disatukan. ”Jadi, menyatukan ormas adalah menyatukan visi misi untuk izul Islam wal muslimin, yaitu dengan menegakkan kehidupan Islam,” tukasnya.

Ia berharap, seluruh ormas bisa mengajak kaum muslim mengamalkan seluruh ajaran Islam, lillah, fillah, billah sehingga menjadi muslim hakiki, yang dengan itu pertolongan Allah akan datang.

Hal itu ia sampaikan karena melihat kenyataan bahwa yang mengadang perjuangan Islam sering kali umat Islam itu sendiri.

Dalam kaitannya dengan mengamalkan Al-Qur’an, UIY mengutip salah satu makna takwa yang disampaikan oleh Imam Ali r.a. yaitu al-’Amalu bi at-Tanzil (beramal dengan wahyu Allah Swt.). Hal ini ia tekankan sebab saat ini sekularisme membuat Al-Qur’an itu dipisahkan dari kekuasaan. ”Padahal agama dan kekuasaan itu harus satu. Dalam surah Al-Baqarah ayat 85, Al-Qur’an menentang sekularisme,” tukasnya.

Ia berharap, seluruh elemen umat bisa disatukan dengan Al-Qur’an sebagai furqon dalam menilai sesuatu. ”Kalau kita tidak punya kemampuan furqon, maka akan ruwet. Begitu lepas dari Al-Qur’an, maka kehidupan akan semrawut,” yakinnya.

Terakhir ia berpesan kepada para tokoh yang hadir agar menjadikan takwa sebagai pusat perhatian sepanjang hidup, makin hari semakin meningkat, dan meninggal dalam sebaik-baik takwa.

”Ini diwujudkan dengan perjuangan menegakkan hukum Allah, konsisten sampai Allah memenangkan perjuangan ini atau ajal menjemput. Saling mengingatkan, saling support, saling bergandengan tangan di jalan dakwah,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

One thought on “[Kabar] UIY: Syawal, Momentum Membangun Kemauan untuk Taat”

  1. Peradaban besar tidak akan tercipta tanpa kemauan. Semoga kita diberikan keistiqomahan dalam taqwa. Aaamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *