Penulis: dr. Hamdan Fahmi
Muslimah News, TELAAH KITAB — Peristiwa paling agung dalam sejarah umat manusia adalah sejak Nabi Adam as. hingga awal tahun pertama sejak hijrahnya Nabi Muhammad saw. ke Madinah al-Munawwarah. Setelah beliau diangkat menjadi Rasul adalah peristiwa berdirinya Daulah Islamiah. Peristiwa itu merupakan hentakan sangat kuat yang gaungnya mengguncang dunia beserta umat manusia yang ada di dalamnya.
Berdirinya kembali Khilafah Rasyidah kedua yang telah dijanjikan pasti akan berdiri, juga akan menjadi peristiwa paling agung sejak masa berdirinya Daulah Islamiah pertama itu hingga masa kita sekarang. Dengan berdirinya kembali Khilafah Rasyidah kedua itu, akan terjadi guncangan dahsyat, persis seperti apa yang terjadi saat berdirinya Daulah Islamiah pertama. Gaungnya akan meliputi seluruh manusia yang ada di muka bumi ini.
Akan tetapi, peristiwa agung satu-satunya itu tidak akan pernah terbebas dari berbagai tantangan yang menghadang sejak awal mula berdirinya. Hal itu persis seperti yang dialami oleh Daulah Islamiah pertama, yang tidak luput dari berbagai tantangan dan kesulitan besar yang berdiri menghadang jalan pendiriannya, penegakannya, kelahirannya, dan pancaran cahayanya.
Setiap pemikiran baru yang ingin diwujudkan dalam bentuk praktis secara riil, pasti tidak bebas dari berbagai tantangan besar yang menghadangnya. Begitu pula perubahan yang hendak dilakukan terhadap berbagai tradisi dan pemikiran yang ada. Namun, bagaimana jika perkara itu adalah kelahiran Daulah Islamiah yang ditakuti oleh seluruh “kader” pengusung kekufuran, berserta seluruh negara dan institusi fisiknya yang ada di muka bumi ini?
Para Nabi dan Rasul telah menghadapi berbagai tantangan yang enggan dipikul oleh gunung-gunung yang kokoh sekali pun. Hal itu terjadi di tengah upaya para Nabi dan Rasul menghadapi realitas yang rusak dengan menggunakan pemikiran yang kuat dan tertunjuki. Di antara para Nabi dan Rasul itu, tantangan yang paling besar adalah pada utusan untuk umat ini, yaitu Muhammad ﷺ.
Sebelum berdirinya Daulah Islamiah, yaitu selama tahapan dakwah, Rasulullah saw. menghadapi berbagai tantangan besar. Beliau bersama para sahabatnya berhasil melampaui tantangan tersebut dengan bekal keimanan dan kesabaran, serta berkat pertolongan Allah Swt. yang diturunkan kepada mereka menuju suatu kebaikan. Akan tetapi kebaikan itu belum aman dan segera tersebar ke luar, meskipun pemimpinnya adalah manusia terbaik dan disertai oleh generasi manusia-manusia terbaik di muka bumi ini.
Rasul saw. di Madinah al-Munawwarah menghadapi lebih dari satu kali upaya penghancuran, yaitu dalam peperangan Badar al-Kubra dan Khandaq. Rasul saw. juga menghadapi permusuhan yang dilancarkan pihak Quraisy beserta kabilah-kabilah Arab yang mengelilingi Madinah. Rasul saw. juga pernah menghadapi embargo ekonomi dan permusuhan secara ide dalam segala bentuknya.
Rasul saw. pernah menghadapi berbagai masalah dan tantangan di dalam negeri, seperti masalah penyediaan bahan makanan, pengadaan persenjataan, aktivitas untuk menciptakan stabilitas dalam negeri, upaya meleburkan berbagai kabilah dalam wadah Islam, menyelesaikan berbagai bentuk kerusakan warisan sistem sebelumnya, dan kesulitan-kesulitan lainnya.
Seandainya Allah Swt. tidak menolong kelompok orang mukmin dan penghulu para Nabi dan Rasul, pastilah kelompok orang-orang mukmin itu akan tercerabut dari muka bumi ini hingga akar-akarnya dan tidak akan pernah kembali lagi.
Sebelum kami mulai memaparkan contoh-contoh tantangan dan kesulitan yang akan dihadapi dan akan menghadang di hadapan Daulah Islamiah yang telah dijanjikan, terlebih dahulu perhatian para pengemban dakwah harus diarahkan kepada satu perkara yang penting, yaitu bahwa Khilafah dan perjalanannya setelah berdiri tidak akan tersebar dengan cepat dan gampang, tetapi justru akan berat.
Tantangan-tantangannya juga akan besar sebagaimana besarnya taraf keagungan peristiwa agung itu, serta kedahsyatan bahayanya terhadap sistem-sistem kufur, ideologi, dan negara-negaranya yang telah usang.
Tidak berlebihan jika kami katakan bahwa reaksi negara-negara kufur itu akan sampai pada tingkat reaksi orang yang mempertahankan diri dari kematian dan orang yang sedang menjaga eksistensi dirinya. Reaksi mereka itu akan terang-terangan, menantang, dan keras dalam semua cara yang dimiliki oleh kaum kafir dan dalam berbagai medan.
Pemaparan tentang berbagai tantangan yang besar dan keras ini, bukan berarti meremehkan daulah atau mengecilkan kemampuan daulah untuk menghadapinya. Akan tetapi maknanya adalah mewujudkan persiapan dan menyiapkan diri.
Juga menyusun strategi secara pemikiran dan praktis yang bisa membantu kita dalam mempersiapkan peristiwa agung itu dan menghadapi bahaya serta tantangan yang menghadangnya. Hal itu sama persis sebagaimana yang telah dipersiapkan oleh para pengemban dakwah sebelumnya. Maknanya adalah pengkajian dalam bentuk pemikiran secara sempurna, dalam detail rincian tata cara perjuangan sebelum berdirinya daulah. Juga tentang konstitusi yang dengannya daulah akan memerintah sesuai dengan sistem-sistemnya, baik politik, ekonomi, pergaulan, dan lainnya.
Tantangan-tantangan dan kesulitan-kesulitan yang mungkin muncul setelah berdirinya daulah tidak kurang urgensinya dari tantangan dan kesulitan yang ada sebelum berdirinya daulah. Bahkan seperti yang telah kami katakan, tantangan dan kesulitan setelah berdirinya daulah, justru lebih dari tantangan-tantangan sebelum daulah berdiri, baik dalam jumlah maupun bentuknya. [MNews/RY-YG]
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.

One thought on “[Khilafah Rasyidah] Mengenal Khilafah Rasyidah (Mukadimah) (Bagian 1/2)”