Muslimah News, NASIONAL — Dalam rentang satu pekan pada pertengahan April 2025, terjadi tiga kasus mahasiswa bunuh diri di Jawa Timur, tepatnya dua kasus di Surabaya dan satu kasus di Malang. Belum diketahui penyebab mereka bunuh diri.
Menyoroti peristiwa tersebut, aktivis muslimah muda asal Surabaya Ayu Nailah mengaku miris. Kepada MNews, Sabtu (19-4-2025), ia menyatakan, untuk mengatasi bunuh diri pemuda, khususnya mahasiswa, butuh upaya serius negara.
“Solusi yang diupayakan pihak kampus untuk para mahasiswa menghadapi permasalahan mentalnya nyatanya tidak mampu membendung sehingga banyak jiwa yang menyerah dan menempuh jalan pintas, berupa bunuh diri yang tidak terelakkan,” ungkapnya.
Ia menilai, meninggalnya mahasiswa tersebut menjadi suatu fakta yang nyata bahwa program-program konseling mahasiswa menjadi solusi parsial yang tidak mampu menjadi solusi rapuhnya mental generasi pemuda hari ini.
“Bahkan, jika melihat kasus ini merebak tidak sekedar dalam satu kota, menandakan bahwa kasus ini sudah menjangkit sistem kebijakan negara,” ucapnya.
Lantas, sambungnya, apa kabar peran negara dalam mengatasi bunuh diri yang terus berulang ini? “Nyatanya seperti gayung yang tidak bersambut, peran negara tidak menjangkau penyelamatan nyawa-nyawa yang telah tiada akibat bundir, bahkan para calon pelaku bunuh diri,” ujarnya miris.
Dalam pandangannya, sistem dunia hari ini, yakni sekuler kapitalistik yang telah mencengkeram dunia, menyebabkan derita dan nestapa menjadi keniscayaan bagi rakyatnya.
“Rakyat dibebani berbagai permasalahan dari ekonomi hingga mengenai mental dirinya sendiri. Nyawa manusia seolah tidak begitu berharga hingga banyak nyawa berjatuhan akibat telah menyerah pada keadaan,” tuturnya.
Sistem Islam
Namun, jelasnya, berbeda apabila sistem dunia berkiblat pada sistem yang dibuat oleh Al-Khaliq, yakni sistem kehidupan yang berlandaskan Islam.
“Nyawa satu manusia sangat berarti dan Islam menghargai nyawa, layaknya firman Allah yang dalam QS Al-Maidah ayat 32, ‘Barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.’,” urainya.
Sistem kehidupan bernegara yang menerapkan sistem Islam, terangnya, akan menjamin terjaganya nyawa setiap warga negara dan menjadikan penguasa atau pemimpin (khalifah) negara berperan penting melindungi rakyatnya.
Hal ini, lanjutnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.”
Selain itu, paparnya, negara wajib melindungi nyawa rakyatnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw. hadis Nasa’i dan Tirmidzi, “Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.”
Dalil tersebut, tuturnya, menjadi bukti bahwa Islam memiliki prinsip menghargai nyawa manusia. “Oleh karenanya, ini menjadi kewajiban negara untuk menjamin keberlangsungan hidup setiap nyawa rakyatnya,” tandasnya. [MNews/RA]
