Muslimah News, INTERNASIONAL — Melansir The Guardian (29-3-2025), terjadi peningkatan eskalasi perlawanan di Balochistan, Pakistan. Perlawanan dimulai pada 1948 ketika wilayah tersebut secara kontroversial—beberapa pihak mengatakan dengan paksa—dianeksasi untuk menjadi bagian dari Pakistan yang baru dibentuk.
Kaum nasionalis Baloch telah lama menuduh negara dan militer Pakistan mengeksploitasi sumber daya mineral Balochistan yang berharga, menindas rakyatnya, dan mengatur pemilu. Pemberontakan separatis yang disertai kekerasan sebagian besar dipimpin oleh kelompok suku dan terjadi lagi pada 1958, 1962, dan 1973. Berbagai rezim di Pakistan telah mencoba resep Inggris untuk mengendalikan Balochistan dan gagal total.
Menunda
Aktivis dakwah Ikhlaq Jehan mengungkapkan kepada Kantor Berita ideologis internasional, Sabtu (29-3-2025), upaya perbaikan yang bersifat sementara [dari pemerintah militer dan sipil] hanya akan menunda solusi jangka panjang.
“Seperti yang dikatakan aktivis Baloch terkemuka Mahrang Baloch, ‘Pemerintah mana pun yang berkuasa, pelanggaran hak asasi manusia dan pembunuhan di luar hukum akan terus berlanjut di Balochistan. Itu tidak pernah menjadi perhatian yang tulus bagi para pemimpin.’,” jelasnya.
Di sisi lain, jelasnya, orang-orang yang mengikuti pola perlawanan atas dasar nasionalis Baloch juga perlu memahami bahwa perjuangan mereka seharusnya bukanlah melawan militer apa pun karena akan membatasi mereka pada perang gerilya, di mana mereka akan terus membunuh dan terus terbunuh dari generasi ke generasi.
“Semestinya, perang mereka adalah melawan musuh-musuh Allah Taala. BLA (Tentara Pembebasan Baloch), bisa jadi terdiri dari orang-orang yang telah dirampas hak-haknya atau yang telah kehilangan orang yang mereka cintai dalam konflik ini, tetapi ini tidak memberi mereka hak untuk menyakiti orang lain dan membalas dendam mereka sendiri,” tuturnya.
Terlebih lagi, lanjutnya, Islam mendefinisikan aturan pertempuran dan perlawanan dengan sangat jelas dan tidak satu pun pihak, baik Tentara Pakistan atau BLA, yang mengikuti aturan tersebut.
Kepedulian Sejati
Ikhlaq manyatakan, kepedulian sejati terhadap umat ini hanya akan ditemukan dalam hati yang takut kepada Allah dan dalam tubuh yang menaati-Nya.
“Satu-satunya identitas yang dapat menyatukan umat Islam di dunia adalah din mereka dan hanya negara Islam yang akan menggunakan sumber daya umat sesuai dengan kebutuhan rakyat. Sedangkan, bahasa, warna kulit, dan suku tidak memiliki nilai dalam sistem Islam,” ujarnya.
Ia menerangkan, dalam sejarah pemerintahan Islam selama 1300 tahun, umat Islam telah mengalami perselisihan dan ketaksetujuan, tetapi mereka tidak berani membantah apa yang telah diwahyukan Allah Taala.
“Dalam 100 tahun terakhir sejak umat Islam kehilangan kekuasaan pusatnya, kita menyaksikan mereka terpecah-pecah. Tidak ada satu pun dari pecahan-pecahan ini yang dapat bertahan hidup sendiri, betapa pun kerasnya ia berusaha. Sebaliknya, kelangsungan hidup umat Islam hanya dalam persatuan di bawah Khilafah,” paparnya.
Ia menutup dengan firman Allah Taala dalam QS Ali Imran: 103, “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” [MNews/RA]
