[Kabar] Aktivis: Ada Tanggung Jawab untuk Memperhatikan Urusan Kaum Muslim

[Kabar] Aktivis: Ada Tanggung Jawab untuk Memperhatikan Urusan Kaum Muslim

Muslimah News, NASIONAL — Aktivis dakwah nasional Iffah Ainur Rochmah menuturkan, kaum muslim memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan urusan kaum muslim lainnya, bukan hanya diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terdekat.

“Ini karena Rasulullah saw. bersabda bahwa umat Islam adalah umat yang satu sebagaimana permisalan satu jasad. Jadi, kaum muslim di seluruh dunia semestinya menempatkan diri sebagai satu bagian dari satu tubuh yang besar,” jelasnya dalam “Muslim yang Teraniaya: Kepedulian dan Kebutuhan akan Khilafah” di kanal Supremacy, Rabu (26-3-2025).

Ia mengutip Ibnu Hajar al-Asqalani yang menjelaskan bahwa bagaikan satu tubuh ini adalah sebuah ilustrasi indah yang menunjukkan adanya soliditas, persatuan umat Islam, dan adanya sikap responsif terhadap penderitaan yang dialami kaum muslim di tempat lain.

“Kalau digambarkan, ketika ada satu anggota tubuh yang terluka, maka seharusnya hal yang sama juga kita tunjukkan, seperti soliditas, adanya persatuan dan kesatuan rasa, kemudian adanya sikap responsif sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh anggota tubuh kita yang lain, yakni saudara kita sesama muslim yang ada di tempat yang lain,” ujarnya.

Mencukupkan Diri

Namun, ungkapnya, kaum muslim mencukupkan diri dengan memberikan perhatian pada saudara-saudara muslim di Palestina dengan sesekali mendoakan dan mengumpulkan bantuan. “Kemudian, kita merasa bahwa tugas kita sebagai bagian dari satu tubuh umat Islam tadi sudah selesai. Benarkah demikian?” tanyanya lugas.

Bagaimana bisa, lanjutnya, satu tubuh itu tetap kokoh, solid, dan sehat, sementara di Gaza hancur lebur, bahkan sedang menjadi satu objek proyek bisnis negara-negara penjajah?

“Tentu tidak bisa lagi kita menganggap diri kita satu tubuh kalau yang diberikan hanya bantuan seperti itu,” cetusnya.

Begitu pula, tambahnya, dengan saudara-saudara muslimah Uighur yang tidak bisa leluasa berpuasa karena dijaga oleh tentara-tentara Cina dengan alasan menjauhkan kaum muslim dari radikalisme. “Misalnya, saat jam-jam makan (pagi dan siang), tentara-tentara itu akan masuk ke rumah-rumah dan memastikan semua orang yang ada di rumah itu mau makan. Artinya, bagi yang sedang berpuasa jadi terpaksa makan. Sama saja dengan tidak berpuasa secara sempurna,” urainya prihatin.

Oleh karena itu, menurutnya, kalau kaum muslim diperintahkan untuk menjadi satu tubuh dengan saudara-saudara di berbagai belahan dunia lain, semestinya disadari bahwa hari ini satu tubuh itu sedang memiliki banyak luka.

“Kalau kita menganggap bahwa hilangnya sistem Khilafah atau berhentinya penerapan sistem politik Islam pada 1924 itu sebagai fakta sejarah yang dirasakan dampaknya oleh kaum muslim di Turki saja, berarti kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya keadaan teraniaya yang menimpa saudara kita di berbagai belahan dunia karena tidak ada junnah atau pelindung,” tuturnya.

Padahal, sambungnya, kondisi teraniaya tersebut karena tidak ada yang melindungi dari cengkeraman atau terkaman musuh-musuh umat Islam. “Untuk itu, bentuk kepedulian kita adalah dengan berikhtiar menghilangkan keadaan teraniaya tersebut. Itulah wujud keimanan,” ucapnya.

Hal ini, jelasnya, sebagaimana hadis riwayat muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda bahwa siapa yang menyelesaikan kegentingan yang menimpa seorang muslim dari berbagai kegentingan-kegentingan dunia, maka Allah akan menghilangkan kesulitannya nanti pada hari kiamat.

“Jadi, ini urusannya dengan iman, bukan hanya duniawi. Kalau kita menolong dan peduli terhadap urusan kaum muslim, kemudian berikhtiar memperjuangkan solusi atas masalah-masalah mereka, maka Allah akan menolong kita dan menyelamatkan kedudukan kita nanti di hari akhirat,” terangnya.

Butuh Sistem Politik Islam

Oleh karenanya, ia mengingatkan, yang paling dibutuhkan oleh kaum muslim di Palestina, Uighur, dan lainnya adalah hadirnya sistem politik Islam, yakni Khilafah. “Bisa jadi mereka gembira ketika kita memberikan hadiah, makanan, serta obat-obatan untuk mereka. Namun, sesungguhnya yang akan membuat mereka gembira dan bahagia secara permanen adalah saat mereka dilepaskan dari kungkungan penjajah dan penindas yang saat ini sedang membelenggu dan menarget mereka,” ungkapnya.

Ia pun berharap agar kaum muslim makin sungguh-sungguh memperjuangkan solusi bagi umat. “Ini karena sebagai satu tubuh, kepedulian kita terhadap umat Rasulullah saw. semestinya diwujudkan dengan memperjuangkan kembali hadirnya sistem politik Islam,” tandasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *