[Kabar] Aktivis: Pelajaran Penting dari Perang Ain Jalut untuk Kaum Muslim

[Kabar] Aktivis: Pelajaran Penting dari Perang Ain Jalut untuk Kaum Muslim

Muslimah News, INTERNASIONAL — Aktivis dakwah asal Pakistan Khalil Musab kepada Kantor Berita ideologis internasional, Rabu (26-3-2025), menerangkan bahwa ada pelajaran penting dari Perang Ain Jalut untuk kaum muslim. “Pelajaran penting tersebut adalah pasukan besar kaum muslim membutuhkan khalifah yang pemberani,” tuturnya.

Ia menceritakan kisah tersebut. Pada akhir tahun 1258 M, urainya, Hülegü, seorang pemimpin Mongol dan cucu Genghis Khan telah menjarah Kota Baghdad dan mengeksekusi penguasa Abbasiyah terakhir, Khalifah Al-Musta’sim. Kemudian, tambahnya, Hülegü menuju Syam dan Mesir dan mendapatkan perlawanan minimal sehingga jatuh di bawah kekuasaan Mongol.

Namun, penguasa Mamluk Mesir berusaha mengakhiri ekspansi Mongol di bawah kepemimpinan komandan pemberani, Sayf ad-Din Qutuz, dan jenderalnya Baybars. “Mereka bergerak keluar dari Mesir untuk menghadapi pasukan Kitbuqa (jenderal paling tepercaya dari Hülegü),” tambahnya.

Ia mengisahkan, tentara Mamluk bertemu dengan tentara Mongol di Ain Jalut, tempat pasukan Mongol telah membangun posisi strategis melawan Mamluk. Pertempuran Ain Jalut, imbuhnya, terjadi pada 3 September 1260, 25 Ramadan 658 H.

“Kemenangan di Ain Jalut hanyalah awal dari perang yang berlangsung hingga tahun 1313, saat bangsa Mongol gagal mengepung benteng Rahbat. Akan tetapi, Pertempuran Ain Jalut menandai kekalahan besar pertama bangsa Mongol dalam pertempuran terbuka, dan menghentikan ekspansi mereka ke arah barat ke dunia Islam. Pertempuran ini membebaskan bangsa Mamluk dari mentalitas mengalah dan membuat mereka berani untuk melanjutkan konfrontasi melawan bangsa Mongol,” jelasnya.

Dari kisah ini, ujar Khalil, ulama Islam terkemuka Ibn al-Nafis yang hidup selama perang antara bangsa Mongol dan Mamluk menulis, “Negeri ini sangat jauh dari negeri yang ditaklukkan oleh orang-orang kafir itu, tetapi kemudian menjadi tetangga mereka. Maka, penduduk negeri ini harus memerangi orang-orang kafir dan melawan mereka. Untuk melakukannya, mereka harus memperoleh dua hal: pasukan yang besar dan seorang sultan yang berani untuk memimpin mereka. Tanpa ini, mustahil untuk memerangi orang-orang kafir ini dengan semua penaklukan mereka atas banyak negeri, dan banyaknya orang serta pasukan mereka.”

Pasukan Besar dan Khalifah Pemberani

Oleh karena itu, Khalil menyeru kepada pasukan muslim saat ini, Ibn Nafis berbicara tentang perlunya pasukan yang besar dan seorang khalifah yang pemberani.

“Kita punya pasukan yang besar, tetapi di manakah Sultan kita yang pemberani? Jika Saif al-Din Qutuz berpikir dengan mentalitas beberapa komandan dan penguasa militer saat ini, yang ditandai dengan sikap mengalah, permohonan keseimbangan kekuatan yang tidak menguntungkan, upaya untuk mengirim pesan yang meyakinkan kepada musuh, berjanji untuk mematuhi hukum yang dibuat oleh orang-orang kafir, maka tidak akan ada kemenangan di Ain Jalut, dan Islam serta umat Islam akan menjadi bagian dari masa lalu,” cetusnya.

Namun, lanjutnya, Qutuz melihat dunia melalui kacamata agama. “Ia memahami sumber kekuatan ideologis dalam umat. Maka, ia memimpin pasukan militernya yang lemah dan masih muda menuju kemenangan bersejarah melawan peradaban paling ganas dalam sejarah manusia, memukul mundur invasi Mongol dari wilayah umat Islam, meskipun ada perbedaan kekuatan yang besar di antara mereka,” tegasnya.

Untuk itu, ia mengingatkan para perwira militer umat Islam dengan firman Allah Swt. dalam QS Muhammad: 7, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Mendukung Allah Swt., jelasnya, adalah dengan mendukung agama-Nya, menerapkan hukum syariat-Nya, mendirikan Khilafah Rasyidah, dan memobilisasi pasukan di bawah pimpinan khalifah rasyid (memimpin dengan benar) yang pemberani. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *