Ayo Berburu Pahala pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Ayo Berburu Pahala pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Penulis: Ummu Nashir N.S.

Muslimah News, FOKUS — Alhamdulillah, saat ini kita memasuki hari-hari yang ditunggu-tunggu umat Islam, yaitu sepuluh hari penghujung Ramadan. Ayo, kita bersama-sama sempurnakan seluruh amal kebaikan pada sepuluh hari terakhir Ramadan ini dengan penuh kesungguhan. Rasulullah ﷺ sesungguhnya telah menuntun kita agar memperbanyak amal kebaikan pada sepuluh hari terakhir Ramadan ini.

Dalam sebuah hadis, “Apabila Nabi saw. memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Selain itu di sepuluh malam terakhir Ramadan ini, ada satu malam istimewa yang ditetapkan Allah Swt., yaitu malam Lailatulqadar . Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa ia adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Firman Allah dalam beberapa ayat Al-Qur’an, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS Al-Qadr: 1—3).

Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Sepuluh hari terakhir Ramadan memang memiliki keutamaan, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis. Dari Aisyah ra., “Rasulullah ﷺ sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (Ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut.” (HR Muslim).

Hadis ini menunjukkan keutamaan semangat beribadah saat sepuluh hari terakhir Ramadan juga menceritakan sosok baginda Nabi Muhammad ﷺ sebagai manusia yang paling giat dalam meraih rida Allah Swt. dengan bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu-waktu penuh keutamaannya. Misalnya, dengan meningkatkan kualitas ketaatan, beribadah, bertakarub, beriktikaf, dan mengajak anggota keluarga untuk beribadah. Kesungguhan beliau ﷺ beribadah pada sepuluh hari terakhir Ramadan melebihi kesungguhan beribadah pada waktu selainnya.

Kalimat “bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir” menunjukkan anjuran untuk tidak kendor dalam beribadah saat akhir Ramadan, sebagaimana fakta di masyarakat. Hadis ini menunjukkan keistikamahan beliau ﷺ dalam giat beribadah sepanjang Ramadan.

Semua hari sepanjang Ramadan sebenarnya istimewa dan semua muslim disarankan untuk melakukan ibadah dengan baik. Namun, sepuluh hari terakhir Ramadan sangat istimewa sebab ada banyak keutamaan pada sepertiga bulan terakhir itu hingga Rasulullah ﷺ pun mengencangkan ibadahnya.

Sesungguhnya, beliau ﷺ memberikan contoh kepada umatnya agar tidak terlena dalam kesibukan mempersiapkan kebutuhan Hari Raya sehingga melupakan keutamaan beribadah pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Kalimat “melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut” sebagai anjuran dan keteladanan Rasulullah ﷺ dalam memotivasi umatnya untuk menambah giat beribadah kala sepuluh hari terakhir Ramadan.

Ayo, Berburu Pahala pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadan!

Sebagaimana penjelasan dari hadis tersebut, tampak tegas bahwa saat memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, banyak keutamaan yang dapat diraih oleh keluarga muslim. Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah berikan. Lalu, amalan apa saja yang bisa dilakukan seorang muslim dan keluarga muslim?

1. Memperbanyak ibadah.

Saat Ramadan, kita dan keluarga bisa lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah sekaligus makin menguatkan tali persaudaraan dengan anggota keluarga dengan mengerjakan berbagai ibadah wajib sunah bersama-sama. Kita dan keluarga bisa lebih mengintensifkan salat berjemaah di setiap waktu salat fardu, setidaknya Magrib, Isya, dan Subuh bersama-sama, baik di masjid atau di rumah.

Selain itu, kita bisa memperbanyak amalan salat sunah bersama, teristimewa Tarawih tentu saja. Selain itu salat Duha sebelum berangkat beraktivitas ke sekolah atau ke tempat kerja, ataupun melaksanakan Tahajud menjelang sahur. Terlebih lagi jika aktivitas ini terus kita tingkatkan pada sepuluh hari terakhir, tentu saja pahala kita makin bertambah.

2. Memperbanyak tilawah Al-Qur’an.

Meningkatkan membaca Al-Qur’an menjadi salah satu ibadah utama saat sepuluh hari terakhir Ramadan. Tidak sedikit umat Islam yang larut dalam tilawah Al-Qur’an sepanjang malam, baik di masjid maupun di rumah. Tilawah Al-Qur’an adalah ibadah ringan dan memiliki keutamaan yang besar. Oleh karenanya, jangan sampai dilewatkan.

Kebiasaan baik mengejar khataman Al-Qur’an di akhir Ramadan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi pribadi muslim, khususnya mereka yang setiap hari bergulat dengan pekerjaan, sehingga khataman Al-Qur’an minimal sekali saat Ramadan menjadi target realistis. Apa pun bentuk motivasinya, tilawah Al-Qur’an harus lebih digiatkan saat sepuluh hari terakhir Ramadan. Terlebih jika kita melakukannya bersama dengan anggota keluarga lainnya, tentu akan makin bersemangat meraih pahala sunah bersama-sama—yang ketika Ramadan sepadan dengan pahala wajib.

3. Berburu Lailatulqadar .

Lailatulqadar adalah malam turunnya Al-Qur’an dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah (langit) dunia. Pada malam Lailatulqadar disebutkan memiliki kebaikan setara dengan seribu bulan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Qadr ayat 1—5.

Meskipun malam Lailatulqadar ini tidak diketahui kapan datangnya, tetapi umat Islam diminta untuk mencarinya saat sepuluh hari terakhir Ramadan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Carilah malam Lailatulqadar di malam ganjil dari sepuluh terakhir bulan Ramadan.” (HR Imam Bukhari).

Dalam hadisnya, Nabi Muhammad bersabda, “Carilah Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir dari Ramadan, pada malam yang ke-9 tersisa, malam yang ke-7 tersisa, malam yang ke-5 tersisa,” (HR Bukhari). Itulah sebabnya umat Islam sangat disarankan untuk beribadah, terutama ibadah malam, pada sepuluh hari terakhir Ramadan untuk bertemu keutamaan-keutamaan tersebut.

4. Memperbanyak sedekah.

Makin banyak bersedekah sangat dianjurkan menjadi salah satu amalan pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Ini adalah sebagai ungkapan syukur atas nikmat dipertemukan Ramadan serta sebagai penyempurna ibadah puasa dan ibadah lainnya. Tidaklah sempurna keimanan dan kualitas ibadah seseorang, kecuali jika adanya keseimbangan antara ibadah ritual dan ibadah sosial.

Allah Swt. berfirman, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS As-Sajdah: 16).

Bersedekah pada sepuluh hari terakhir tidak hanya diterjemahkan dengan sedekah wajib berupa zakat fitrah dan zakal mal, tetapi juga dianjurkan memperbanyak sedekah sunah dalam rangka berbagi kebahagiaan dan memberikan bekal makanan saat Hari Raya Idulfitri bagi duafa. Bersedekah dapat berbentuk harta, pangan, pakaian, paket sedekah untuk yatim dan duafa, dan sebagainya.

5. Iktikaf.

Iktikaf berarti berdiam di masjid dalam rangka beribadah kepada Allah Taala. Tidaklah seseorang keluar dari masjid, kecuali untuk memenuhi hajatnya sebagai manusia. Iktikaf memiliki kekhususan tempat dan aktivitas, yaitu di masjid dengan aktivitas ibadah mendekatkan diri kepada Allah dengan berzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, salat sunah, berselawat, bertobat, beristigfar, dan sebagainya. Iktikaf dianjurkan setiap waktu, tetapi lebih ditekankan memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan sebagaimana penuturan Abdullah bin Umar ra. “Rasulullah ﷺ  beriktikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan.” (HR Muttafaq ‘alaih).

Hukum iktikaf adalah sunah, baik bagi laki-laki maupun perempuan, berdasarkan hadis-hadis Rasulullah ﷺ. Aisyah ra. menyatakan, “Nabi ﷺ beriktikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadan hingga wafatnya, kemudian istri-istri beliau pun beriktikaf setelah kepergian beliau.” (HR Imam Al-Bukhary no. 2026).

Dari Abu Said al-Khudzri menuturkan, Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku beriktikaf sepuluh hari pertama mencari malam ini (Lailatulqadar). Lalu aku beriktikaf sepuluh hari pertengahan. Kemudian aku didatangi dan dikatakan kepadaku bahwa itu pada sepuluh hari terakhir. Oleh karena itu, siapa di antara kalian yang suka (mau) beriktikaf, hendaklah ia beriktikaf.” Abu Said berkata, “Lalu orang-orang beriktikaf bersama beliau.” (HR Muslim, Bukhari, Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai, dan Malik).

Dalam kesempatan pada sepuluh hari terakhir ini, maka kita dan keluarga bisa melakukannya bersama keluarga di masjid dekat rumah, misalnya, ataupun di masjid besar di sekitar tempat tinggal. Saat ini sudah banyak masjid besar menyediakan sarana-sarana iktikaf yang memadai sehingga kita bisa melakukan iktikaf di masjid tersebut dengan suami dan anak-anak kita. Selain bernilai pahala, beritikaf bersama seluruh anggota keluarga juga akan makin mendekatkan keluarga kita kepada Allah dan makin menguatkan ikatan keluarga.

6. Memperbanyak doa.

Amalan berikutnya yang mudah dilakukan, tetapi besar pengaruhnya, adalah dengan memperbanyak berdoa kepada Allah Taala. Rasulullah ﷺ juga memerintah Ummulmukminin Aisyah untuk berdoa di malam-malam itu. Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku ketepatan mendapatkan malam lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau ﷺ menjawab, “Ucapkanlah, allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anna. (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku).” (HR Ibnu Majah).

7. Melakukan khidmat (pelayanan/membantu) orang lain, terutama orang yang berpuasa.

Sesungguhnya khidmat, seremeh apa pun, adalah amal saleh. Dari Jabir bin Abdullah ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kebaikan adalah sedekah. Dan di antara bentuk kebaikan adalah kamu menjumpai saudaramu dengan wajah yang menyenangkan. Dan kamu menuangkan air dari embermu ke dalam bejana milik saudaramu.” (HR At-Tirmidzi).

Menuangkan air pada bejana saudara adalah jenis pelayanan dan Rasulullah ﷺ menyebutnya termasuk kemakrufan, dan sesuatu yang disebut makruf adalah amal saleh, sehingga bisa dikatakan bahwa khidmat adalah amal saleh. Lebih utama lagi jika yang dilayani adalah orang yang berpuasa. Ini karena melayani orang berpuasa akan mendapatkan ganjaran sebagaimana orang yang berpuasa.

8. Menggiatkan menuntut ilmu dan mendakwahkannya.

Saat Ramadan, pada umumnya umat berada pada tingkat girah Islam yang tinggi sehingga lebih mudah mengajak keluarga kita dan umat untuk mengkaji Islam. Tentu saja kesempatan ini jangan sampai kita lewatkan.

Pada sepuluh hari terakhir Ramadan kita harus makin menguatkan semangat mereka untuk belajar Islam. Inilah saat yang amat mendukung untuk mengajak keluarga kita untuk memuliakan agama-Nya. Kita bisa ajak anak-anak kita menghadiri majelis-majelis ilmu atau mengkaji kitab tertentu bersama-sama suami dan anak-anak kita.

Selain itu, aktivitas dakwah kita juga tetap harus dijalani bahkan ditingkatkan saat sepuluh hari terakhir ini. Menyadarkan umat tentang permasalahan besar yang dialami kaum muslim, yaitu tidak diterapkannya syariat Islam secara kafah dan tidak adanya perisai umat (Khilafah) menjadi agenda penting kita.

Menyeru manusia ke jalan Islam, menentang kebijakan penguasa yang bertentangan dengan syariat Islam, dan mengajak umat (dan tentu saja keluarga kita) untuk makin giat amar makruf nahi mungkar ketika kemungkaran makin merajalela di hadapan kita, adalah aktivitas penting yang harus makin dikencangkan.

Demikianlah, banyak aktivitas yang bisa kita dan keluarga lakukan untuk berburu pahala pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Ini semua kita lakukan untuk makin menguatkan ketaatan kita kepada Allah sekaligus melatih anak-anak kita serta menguatkan tali silaturahmi keluarga kita. Mari kita manfaatkan sebaik- baiknya karena detik-detik sepuluh hari terakhir Ramadan sangatlah berharga. Wallahualam bissawab. [MNews/GZ]

#TarbiahRamadan

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *