Muslimah News, NASIONAL — Pakar ekonomi Islam Nida Saadah, S.E., Ak., M.E.I. memberikan ulasan terkait pola konsumsi masyarakat yang dikenal dengan sebutan lipstick effect.
“Ini adalah sebuah teori yang menggambarkan terjadi penurunan ekonomi, tetapi justru ditandai dengan naiknya demand (permintaan). Demand yang naik bukan barang-barang kebutuhan pokok tetapi produk-produk kecantikan. Ini yang disebut lipstick effect,” tuturnya di acara Economic Understanding dengan tajuk “Fenomena Ekonomi Lipstick Effect” Rabu (12-3-2025).
Ia menjelaskan, istilah lipstick effect diperkenalkan oleh seorang profesor asal Amerika Juliet Schor dalam bukunya The Overspent American
Indonesia
Menurutnya, fenomena lipstick effect bukan hanya terjadi di negara-negara Barat, tetapi juga terjadi di Indonesia.
“Saat Indonesia dihantam badai resesi beberapa bulan lalu, kemudian gelombang PHK juga terjadi secara masal, penjualan kosmetik di Indonesia malah mengalami peningkatan dengan peningkatan terbesar jika dibandingkan dengan belanja untuk kebutuhan harian, termasuk belanja untuk kebutuhan sekunder lainnya seperti elektronik, perabotan, dan lain-lain,” bebernya.
Kenaikan belanja kosmetik itu, sambungnya, mencapi 8,8 %, sedangkan yang lain hanya naik di angka 1—3 %.
Mengutip dari tulisan Schor tersebut, Nida memaparkan, munculnya fenomena lipstick effect dilatarbelakangi rasa stres masyarakat ketika situasi ekonomi terus-menerus dalam kondisi sulit. ”Masyarakat mencari sedikit kesenangan dengan berbelanja barang-barang yang sebetulnya tidak masuk kebutuhan primer dengan harapan bisa menyalurkan rasa stresnya,” jelasnya.
Dalam analisisnya Nida menerangkan, fenomena ini muncul karena semua negara yang ada di dunia hari ini tidak memberlakukan sistem ekonomi Islam
Pegangan Hidup
Untuk keluar dari fenomena lipstick effect ini, menurut Nida, masyarakat harus dididik dengan Islam agar menjadi pegangan hidup sehingga tetap bisa berperilaku rasional meski dalam kesulitan.
“Islam mengajarkan, dunia hanyalah permainan. Kehidupan yang hakiki adalah akhirat sehingga apa pun yang terjadi di dunia bersabarlah, dan introspeksi diri karena sebetulnya krisis ekonomi yang tidak kunjung selesai ini muara masalahnya itu sudah ditemukan,” jelasnya.
Muara masalah itu, lanjutnya, adalah kegagalan para ekonom dunia, para guru besar, para perumus kebijakan dalam mencari solusi untuk mengatasi krisis ekonomi yang terus-menerus terjadi.
“Kenapa gagal? Kalau diibaratkan dalam Al-Quran, mereka ibarat orang yang memiliki penglihatan, tetapi tidak dapat melihat, mereka memiliki pendengaran, tetapi tidak dapat mendengar. Ini karena sebetulnya sistem ekonomi yang solutif itu sudah ada di depan mata tanpa harus dicari jauh-jauh,“ herannya.
Sistem ekonomi yang ia maksud adalah sistem ekonomi Islam. Ia lalu memaparkan bagaimana kesalahan sistem ekonomi saat ini dan kemampuan sistem ekonomi Islam menyejahterakan masyarakat.
”Pertama, kegagalan sistem hari ini adalah kesalahan dalam mendefinisikan tingkat kesejahteraan. Kesejahteraan dihitung secara komunal, sementara dalam Islam kesejahteraan itu harus diwujudkan dalam konteks individu per masing-masing orang,” bebernya.
Ia melanjutkan, Islam memberikan sistem politik yang sangat sempurna untuk membentuk sistem yang transparan, akuntabel, para pejabatnya bekerja dengan sangat baik, karena sistem politik bernegaranya sebagaimana yang dicontohkan Nabi, kemudian dilanjutkan oleh para khalifah.
”Kedua, kesalahan sistem hari ini tidak menggunakan harta sebagaimana pandangan Islam. Dalam Islam, harta itu fungsinya selain untuk ditabung, juga dibelanjakan untuk melakukan transaksi. Yang lebih penting lagi adalah harta itu dimanfaatkan untuk kepentingan dirinya sendiri ataupun orang lain sehingga satu dengan yang lainnya akan saling menolong,” jelasnya.
Islam, lanjutnya, membuat regulasi yang memastikan distribusi harta beredar di tengah masyarakat sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Hasyr ayat 7 yang artinya, ”Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
”Ketiga, kesalahan sistem hari ini adalah tidak menggunakan sistem moneter Islam. Islam mengajarkan mata uang yang stabil yang nilainya tidak tergerus oleh manipulasi apa pun, bahkan tidak bisa dimanipulasi oleh siapa pun, adalah ketika mata uangnya menggunakan dinar dan dirham yang memiliki sifat stabilisasi yang berasal dari dalam logam itu sendiri. Ini tidak terjadi pada sistem mata uang lain,” tandasnya.
Kesalahan keempat, sebutnya, larangan mempraktikkan riba yang terdapat di dalam banyak ayat tidak digubris oleh manusia dalam peradaban kapitalisme. ”Mereka malah menjadikan riba sebagai tumpuan dalam roda pembangunan. Inilah sebetulnya yang menyebabkan krisis yang berkepanjangan tidak terselesaikan,” ulasnya.
Kesalahan kelima, ia menjelaskan, adanya transaksi nonriil di lantai bursa yang memperdagangkan kertas tanpa memproduksi barang apa pun juga menjadi penyebab krisis ekonomi yang tidak kunjung selesai.
”Sementara dalam Islam, ada banyak praktik syirkah yang menggantikan berbagai mekanisme dalam pengembangan harta. Jika regulasi Islam dijalankan, akan terbuka lapangan pekerjaan yang luas sehingga distribusi harta lancar di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Kesalahan ketujuh, jelasnya, regulasi Islam tentang kepemilikan harta umum yang tidak boleh diprivatisasi justru ditinggalkan oleh sistem hari ini.
”Sistem politiknya pun tidak mengacu kepada Islam sehingga kontrol yang telah diberikan Islam, yaitu melalui pengadilan muhtasib dan mahkamah mazalim tidak bisa dijalankan karena tidak menggunakan syariat Islam,” terangnya.
Terakhir, sekali lagi ia menandaskan, bahwa solusi berbagai persoalan ekonomi itu sudah di depan mata, tetapi ketika manusia makin menjauh dari Islam maka perilakunya menjadi tidak rasional lagi, termasuk dalam menghadapi resesi ekonomi.
”Sudah seharusnya manusia melakukan instropeksi karena Allah Swt. sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an surah Thaha ayat 123—124, ’Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.’,” pungkasnya. [MNews/IA]
