[Mafahim Islamiyyah] Koreksi dan Oposisi (Bagian 3/3)

[Mafahim Islamiyyah] Koreksi dan Oposisi (Bagian 3/3)

Penulis: Muhammad Husain Abdullah

Sambungan dari Bagian 2/3

Muslimah News, TELAAH KITAB — Bukan merupakan keharusan bagi penguasa muslim untuk mengikuti pendapat para pengkritiknya apabila ia melihat bahwa pendapat mereka itu tidak bersandarkan pada dalil syarak. Demikian pula apabila ia melihat bahwa pendapatnya bersandar kepada dalil yang lebih kuat daripada dalil yang dijadikan sandaran oleh para pengkritiknya.

Rasulullah saw. pun dalam perdamaian Hudaibiyah tidak memperhatikan pendapat Umar bin Khaththab ra. dan orang-orang yang menentang—selain Umar—kepada syarat-syarat perdamaian bersama orang Quraisy. Wahyulah yang menuntut Nabi saw. bersikap seperti itu. Kemudian Nabi saw. bersabda kepada mereka, “Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak akan pernah menyelisihi perintah-Nya dan Dia pun tidak pernah akan menelantarkanku.”

Demikian halnya Umar bin Khaththab ra. yang pernah menentang Abu Bakar dalam memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat. Abu Bakar pun tidak menghiraukannya. Bahkan Abu Bakar menjelaskan kepada Umar akan kebenaran pendapatnya dan kekuatan dalil syarak sebagai sandarannya.

Khalifah Umar bin Khaththab pernah tidak mau tunduk kepada pendapat Bilal bin Rabah dan teman-temannya ketika mereka menuntut Umar supaya menetapkan bumi Irak dalam kekuasaan penduduknya. Umar menghadapi mereka dengan dalil syarak yang dijadikan sandaran dalam pendistribusiannya, yaitu ayat-ayat tentang pembagian harta fai dari surah Al-Hasyr, lalu mereka terdiam.

Mengkritik para penguasa untuk mengubah mereka sebagaimana dituntut dari kaum muslim dalam Negara Khilafah, maka sekarang, bahkan sampai Hari Kiamat, kritik itu tetap dituntut dari kaum muslim. Apalagi sesungguhnya kita sedang hidup pada dekade terakhir dari abad XX Masehi dengan kehidupan yang rusak. Kerusakan merajalela, kemungkaran makin banyak, dan berbagai penipuan telah tersusun rapi untuk memukul umat Islam dan mencegah mereka menerapkan hukum agamanya dan mengembalikan negaranya.

Sungguh, Rasulullah saw. telah memberi berita kepada kita tentang realitas semacam ini yang terjadi dalam kehidupan kita kini. Beliau telah menjelaskan kepada kita tentang sikap benar yang harus kita ambil dalam menghadapi realitas yang rusak. Dengan demikian, kita akan memperoleh kemuliaan di dunia dan rida Allah Swt. di akhirat.

Rasulullah saw. bersabda, “Ingat, sesungguhnya roda Islam selalu berputar, maka berputarlah kalian mengikutinya. Ingat, sesungguhnya kekuasaan dan Al-Qur’an akan terpisah, maka selalu berpeganglah kepada Al-Kitab (Al-Qur’an). Ingat, sesungguhnya kalian akan dikuasai (dipimpin) oleh para penguasa yang sesat dan menyesatkan. Apabila kalian mengikuti mereka, maka mereka menyesatkan kalian. Apabila kalian menyelisihi mereka, maka mereka membunuh kalian. Sahabat berkata, “Lalu apa yang kami kerjakan, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Seperti yang telah dikerjakan oleh sahabat Nabi Isa as., mereka disalib dan dibelah dengan gergaji. Maka demi Tuhan yang jiwa Muhammad dalam kekuasaan-Nya, sungguh kematian di jalan Allah adalah lebih baik daripada hidup dalam maksiat.” [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *