[Kabar] Jubir: KTT Kairo Tidak Memberikan Tindakan Berarti atas Kejahatan Zion*s

[Kabar] Jubir: KTT Kairo Tidak Memberikan Tindakan Berarti atas Kejahatan Zion*s

Muslimah News, INTERNASIONAL — Pada akhir pertemuan puncak darurat KTT Arab yang diadakan pada Selasa (4-3-2025) di Kairo, Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi mengumumkan penerapan rencana rekonstruksi Jalur Gaza dari KTT Arab. Rencana ini memungkinkan rakyat Palestina tetap tinggal di tanah mereka tanpa pengungsian.

Dalam pernyataan akhirnya, ia menekankan pentingnya Zion*s “Israel” untuk mematuhi resolusi legitimasi internasional yang relevan yang menolak upaya untuk mengubah komposisi demografi wilayah Palestina. Pernyataan itu juga mengutuk keputusan untuk menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza dan penutupan penyeberangan.

Para peserta KTT juga menegaskan kembali posisi Arab terkait pembentukan negara Palestina yang merdeka sesuai perbatasan 4 Juni 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya dan menjadi satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian abadi di wilayah tersebut.

Tanpa Tindakan Berarti

Juru bicara (jubir) kelompok dakwah ideologis internasional menilai, seperti KTT-KTT sebelumnya, KTT Kairo diadakan dan diakhiri tanpa ada tindakan berarti apa pun terkait pembantaian, kelaparan, dan kejahatan kolektif yang dilakukan Zion*s terhadap rakyat Gaza.

“Pertemuan itu sama sekali mengabaikan atau lebih tepatnya menutup mata terhadap ancaman entitas Zion*s Yahudi dan Amerika. Alih-alih berfokus pada diskusi tentang hari setelah perang di Gaza, seolah-olah perang telah berakhir dan agresi telah berhenti,” ungkapnya kepada Kantor Berita idelogis internasional, Kamis (6-3-2025).

Ia mengulas, sikap para penguasa Arab ini bermula dari kenyataan bahwa gagasan untuk mendukung Gaza atau menghadapi agresi Zion*s Yahudi sama sekali tidak masuk akal bagi mereka.

Pertemuan itu, sambungnya, hanyalah upaya merancang alternatif bagi rencana Trump untuk mengusir penduduk Gaza setelah Trump memberi izin kepada para penguasa Arab untuk mengusulkan rencana yang sesuai persyaratan AS dengan mengecualikan Ham*s dari pemerintahan.

“Bahkan, sepenuhnya menyingkirkan Ham*s dari panggung politik untuk memastikan keamanan Zion*s Yahudi dan mencegah terulangnya peristiwa 7 Oktober 2023,” ujarnya.

Hal ini, menurutnya, secara eksplisit ditegaskan dalam pertemuan puncak tersebut dengan adanya rencana Mesir untuk menetapkan pembentukan komite yang mengelola urusan Gaza selama masa transisi enam bulan.

“Komite ini akan bersifat independen dan terdiri dari tokoh-tokoh non-partisan (teknokratis) yang bekerja di bawah naungan pemerintah Palestina dengan tujuan akhir menyerahkan Gaza kepada Otoritas Palestina,” bebernya.

Di luar pengkhianatan dan konspirasi yang dilakukan, jelasnya, para penguasa Arab ini malah menegaskan kembali—seperti biasa—komitmen mereka yang tidak tergoyahkan terhadap proyek konsesi dan penyerahan yang dikenal sebagai “proses perdamaian” dan solusi dua negara.

“Dengan melakukan hal itu, mereka menjadi saksi bagi diri mereka sendiri di hari-hari yang penuh berkah di bulan suci ini, membuktikan bahwa Allah telah menutup hati dan telinga mereka sehingga mereka tidak dapat memahami dan memenuhi firman-Nya dalam QS Al-Baqarah: 7, ‘Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.’,” ungkapnya.

Alat

Para penguasa ini, ucapnya, telah membuktikan bahwa mereka tidak lebih dari sekadar alat untuk melaksanakan rencana Amerika, Barat, dan kaum Zion*s Yahudi.

“Mereka bahkan tidak mempertimbangkan untuk membahas masalah-masalah yang tidak diizinkan untuk mereka tangani,” kritiknya.

Oleh karena itu, dalam pandangannya, tidak mengherankan ketika kebocoran informasi mengungkapkan bahwa para mediator telah melakukan campur tangan dan meminta para penguasa Arab menahan diri dari tindakan militer apa pun terhadap Gaza sebelum pertemuan puncak sehingga membantu para penguasa ini menyelamatkan sedikit martabat mereka.

Padahal, ia menekankan, Gaza tidak memerlukan rencana yang membuatnya tetap berada di bawah pendudukan dan kendali Zion*s Yahudi.

“Yang benar-benar dibutuhkannya adalah tindakan serius dari umat Islam dan tentaranya untuk mendukung dan membebaskannya dari cengkeraman Zion*s Yahudi dan Amerika. Tanpa tindakan tersebut, kita akan terus menghitung jumlah martir dan yang terluka, juga menyaksikan penodaan dan kesombongan Zion*s Yahudi. Sementara itu, para penguasa muslim terus berkhianat kepada umat Islam dan mengabdi kepada Amerika,” tandasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *