Muslimah News, LENSA DAERAH — Masyarakat pesisir Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara memiliki tradisi dalam menyambut Ramadan setiap tahunnya dengan mengadakan Pesta Tapai.
Pesta Tapai kini dijadikan sebagai tradisi dan kultur budaya masyarakat oleh Pemerintah Kabupaten Batu Bara yang dibawahi oleh Bidang Budaya dan Pariwisata.
Pada 2025 perayaan tradisi tahunan Pesta Tapai resmi dibuka di Dusun Pesta Tapai, Desa Dahari Selebar, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara, pada Sabtu (8-2-2025) malam. Warisan budaya yang turun temurun ini diselenggarakan di sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan, Dusun Pesta Tapai selama 13 hari.
Biasanya warga desa sudah mulai berjualan sejak pertengahan bulan Syakban dalam penanggalan kalender Hijriah atau dua pekan sebelum hari pertama puasa
Pesta Tapai menjadi sebutan dan tradisi unik masyarakat Desa Dahari Selebar untuk menjual aneka makanan tradisional Melayu khas Batu Bara. Warga desa beramai-ramai membuat tapai, lemang, serta beragam kue tradisional lainnya untuk dijual. Pembelinya tidak hanya datang dari masyarakat sekitar. Pesta tapai yang melegenda ini mengundang kunjungan masyarakat dari berbagai daerah hingga menaikkan pendapatan perekonomian warga.
Mengutip Balai Bahasa Sumatra Utara dalam “Antologi Cerita Rakyat Batu Bara”, Pesta Tapai dimulai sejak masa kekuasaan Datuk Mudo Jalil Lelo Sumaso Tuo, raja yang berkuasa di daerah pesisir Batu Bara. Ia yang memerintahkan untuk membangun tempat memotong sapi dan kerbau untuk menyambut datangnya Ramadan.
Banyak orang datang dari berbagai daerah untuk memotong atau membeli daging. Mereka berasal dari dari Batu Bara, Labuhan Ruku, Tanjung Tiram, Titi Putih, dan Titi merah. Ramai sekali orang datang ke daerah ini.
Ratusan ekor kerbau dan sapi dipotong di sini menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Karena ramainya orang yang datang, Raja Datuk Mudo Jalil Lelo Sumaso Tuo juga memerintahkan untuk membangun kedai-kedai kecil untuk keperluan pedagang dan pembeli daging.
Kedai-kedai tersebut menjual panganan seperti lemang, tapai, karas-karas, cendol, dan makanan tradisional lainnya. Siapa yang ingin membeli lemang dan tapai atau yang lainnya, tinggal ambil di baskom lalu bayar kepada penjualnya.
Selain sebagai tempat berjualan lemang tapai, kedai-kedai itu juga digunakan oleh pendatang dari daerah lain untuk tempat istirahat melepas lelah sebelum kembali ke daerah asal mereka. Sejak saat itu sampai sekarang, sudah jadi tradisi di daerah ini, setiap menjelang datangnya Ramadan ramailah orang memotong kerbau dan lembu serta berjualan lemang tapai sebagai sarana mempererat persaudaraan.
Oleh karenanya, tradisi ini seyogyanya dapat meningkatkan semangat persatuan, khususnya sesama umat Islam dalam ikatan akidah dan ketakwaan. [MNews/Kontributor daerah: ZG/Sumut]
