Penulis: Muhammad Husain Abdullah
Muslimah News, TELAAH KITAB — Sesungguhnya serangan Amerika atas Islam adalah serangan yang spesifik. Bahaya serangan itu melebihi bahaya serangan pertama yang berhasil merobohkan Negara Khilafah karena sasaran serangan tersebut adalah akidah Islam. Jika serangan ini berhasil, berarti kehancuran bagi umat Islam. Semua ini adalah untuk merealisasikan mimpi Amerika yang telah digagas oleh para pemikirnya.
Mimpi itu adalah gagasan bahwa puncak (peradaban) dunia akan terjadi di bawah naungan sistem kapitalisme dunia yang dipimpin Amerika, bukan di bawah naungan Islam.
Sesungguhnya Prancis dengan kepemimpinan Napoleon dan Inggris dengan kepemimpinan Curdal telah memutuskan untuk menggigit Negara Islam sepotong demi sepotong sehingga berhasil merobohkan Khilafah. Sesungguhnya Amerika telah menetapkan untuk menyimpangkan akidah islamiah, pemikiran demi pemikiran untuk merobohkan Islam, juga menghapus umat Islam.
Ingatlah, Amerika benar-benar telah memulai dengan sebagian hukum-hukum yang absolut (yakin), yang pembenarannya tidak berbeda dengan pembenaran terhadap pemikiran-pemikiran akidah. Ini karena diambil dari nash-nash yang pasti sumbernya dan pengertiannya, seperti fardunya jihad, permusuhan Yahudi, dan kesatuan negeri-negeri kaum muslim, serta keharaman zina, riba, dan berhukum kepada tagut. Amerika telah memproklamasikan –dengan memakai nama antek-anteknya, seperti para penguasa, ulama, para pemikir, dan para penulis—bahwa hukum-hukum tersebut sudah tidak layak untuk zaman modern ini dan hukum-hukum itu tidak modern.
Islam telah mensyariatkan hukum-hukum tersebut dalam situasi dan kondisi tertentu, tidak bisa digeneralisasikan untuk setiap situasi dan kondisi. Sesungguhnya telah populer secara syarak, bahwa orang yang mengingkari kelayakan hukum-hukum yang bersifat yakin tersebut adalah kafir dengan nas Al-Qur’an yang mulia.
Allah Swt. berfirman, “Dan siapa saja yang tidak menghukumi dengan apa (hukum) yang telah diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir.” (QS Al-Maidah: 44).
Juga firman-Nya, “Maka apakah kalian beriman dengan sebagian kitab (Al-Qur’an) dan mengkufuri dengan sebagian yang lain? Maka tidaklah ada balasan orang yang mengerjakan perbuatan tersebut dari golongan kalian selain kehinadinaan dalam kehidupan dunia dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang sangat berat.” (QS Al-Baqarah: 85).
Oleh karenanya, serangan Amerika atas kaum muslim diarahkan kepada akidah mereka yang menjadi dasar agama, dasar peradaban, serta dasar negara dan umat mereka. Mereka tidak bisa hidup menjadi umat Islam kalau tidak dengan akidahnya. Adapun metode Amerika dalam serangan itu bersandar pada beberapa hal.
1. Kekuatan fisik yang dikuasainya.
2. Penyesatan politik dan pemikiran melalui berbagai sarana informasi.
3. Memberdayakan para penguasa, para ulama, tabiin, dan para pemikir yang menjadi kaki tangan Amerika dengan membuat berbagai kurikulum pendidikan yang melayani tujuan Amerika. Tujuannya untuk menumbuhkan generasi baru yang mengingkari akidahnya dan mengingkari Islam serta peradabannya.
Adapun yang dipropagandakan oleh Amerika, yaitu sistem Timur Tengah, pengembangan ekonomi, interaksi-interaksi yang bersifat kasih sayang, dan berbagai perjanjian damai antara Israel dan kaum muslim, maka semuanya hanyalah sebagian dari berbagai strategi dan sarana untuk menerapkan pemikiran dasar Amerika, yaitu menghancurkan umat Islam dengan cara menghancurkan akidah mereka.
Salah seorang pemikir Yahudi telah menyingkap tentang peranan Israel dan pemerintah Arab dalam serangan Amerika terhadap Islam. Ia menulis kepada pers Yahudisme pada 24-8-1994 M sebagai berikut, “Kami bangsa Israel harus mengerti bahwa fundamentalisme bukanlah kebodohan akal. Bahkan fundamentalisme itu mencakup sistem hidup sempurna, keindahan, dan penipuan spiritual, di mana pada lapangannya warga negara merasakan kemuliaan dan kemegahan. Kemudian ia berjalan dengan postur tubuh tegak mengemban nilai-nilai yang mendatangkan daya vitalitas hidup dan pembaharuan, serta kekebalan melawan pengaruh kebudayaan asing dan pengaruh-pengaruhnya.”
la juga berkata, “Kami bangsa Israel harus menjalankan negosiasi-negosiasi dan penandatanganan perjanjian damai dengan negara-negara Arab sehingga sebagian penguasa Arab bisa menghancurkan berbagai pergerakan Islam fundamentalis. Mereka tidak akan mampu mengadakan penyerangan kalau kondisi permusuhan terhadap Israel masih tetap eksis.” la menambahkan, “Sesungguhnya pembentuk bahaya atas adanya Israel adalah gerakan-gerakan Islam fundamentalis, bukan negara-negara teritorial yang berdekatan.”
Menteri luar Negeri Yahudi Simon Peres dalam pidatonya di Washington berkata, “Bahaya Islam ekstrim adalah sesuatu yang mengancam wilayah Timur Tengah, sedangkan perdamaian Israel itu bisa menggantikan fundamentalis, dendam, dan perseteruan.”
Jadi, aktivitas perdamaian yang diterapkan oleh Amerika terhadap Arab dan Yahudi, tujuannya bukanlah hanya menghentikan kondisi perseteruan di antara keduanya dan tidak pula meningkatkan pertumbuhan perekonomian keduanya. Akan tetapi tujuan hakikinya hanyalah menghantam Islam dan kaum muslim melalui pemerintah-pemerintah Arab dan Yahudi.
Inilah serangan besar kedua terhadap Islam yang dipimpin oleh Amerika. Amerika selalu berupaya memimpin kelompok besar dari negara-negara di dunia untuk bersekutu dalam serangan tersebut dengan slogan perdamaian dunia, demokrasi, dan hak-hak asasi manusia. Semua dilakukan dengan dalih memerangi terorisme, ekstrimisme, dan fundamentalisme. Apakah Amerika akan sukses dalam serangannya? Apakah serangan itu akan tepat pada sasarannya?
Jawabannya, sesungguhnya akidah Islam yang menjadi fokus serangan Amerika telah diwarisi kaum muslim dari generasi ke generasi dan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kepribadian kaum muslim. la telah mendarah daging dalam jiwa mereka. Para ibu telah meletakkannya bersama air susu kepada anak-anaknya. Begitu pula para Ayah telah mengunyahkannya bersama perhatiannya kepada anak-anaknya.
Hati mereka berdebar dengan akidah itu ketika mendengar suara muazin. Tubuh mereka bergetar karena akidah itu ketika membaca Al-Qur’an. Kemudian, sesungguhnya ratusan manusia memeluk akidah itu setiap tahunnya di berbagai penjuru dunia, meskipun tidak ada negara yang mengembannya dan menyebarluaskannya. Ini karena akidah tersebut sesuai dengan fitrah, memuaskan akal, dan menentramkan jiwa manusia. [MNews/RY-YG]
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.

One thought on “[Mafahim Islamiyyah] Serangan terhadap Islam (Bagian 3/4)”