Muslimah News, NASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyatakan, diksi “Indonesia Gelap” yang digaungkan dalam aksi massa mahasiswa cukup tepat menggambarkan kondisi negeri ini yang ruwet dan seolah tidak ada jalan keluar.
“Berbagai keruwetan tersebut antara lain, kebijakan efisiensi anggaran, korupsi, penanganan kasus pagar laut yang hanya mengarah ke tingkat kepala desa, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dipertanyakan kelayakan prioritasnya, dan berbagai persoalan,” bebernya dalam Fokus: “Indonesia Gelap”, Ahad (23-2-2025), di UIY Channel.
Apalagi, imbuhnya, penguasa dan pejabat negara menunjukkan sikap yang tidak bijak saat mendapat kritik dari masyarakat dengan pernyataan-pernyataan yang justru menambah kekesalan rakyat sehingga muncul respons masyarakat dengan diksi “Indonesia Gelap” tersebut. “Untuk itu, diperlukan kepemimpinan yang paham prioritas dan dapat bersikap bijaksana,” ujarnya.
Akar Atau Cabang?
Meskipun demikian, UIY mengingatkan, yang penting dipikirkan oleh mahasiswa, apakah persoalan-persoalan yang ada merupakan akar atau cabang dari sesuatu yang lebih besar? “Ini karena kita ingin negara ini makin baik dan persoalan yang ada bisa diselesaikan dari akarnya,” jelasnya.
Menurutnya, yang ada sekarang sebenarnya adalah percikan-percikan dari akar persoalan yang lebih besar. “Misalnya, ketidakadilan hukum karena hukum hanya menjadi alat kepentingan politik. Ini kan tersebab hegemoni penguasa terhadap dunia hukum. Penguasa tidak lagi menjadi penjaga negara dan penjaga konstitusi,” ucapnya.
Sebabnya, ia melanjutkan, penguasa tersebut terlalu banyak memberikan konsesi kepada berbagai pihak untuk kemenangan konstelasi politik yang bersangkutan, baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, maupun nasional. “Akibatnya penguasa tidak bisa bersikap tegas. Tampaklah demokrasi transaksional yang menjadi akar dari persoalannya ini sangat berbahaya,” terangnya.
Ia menyatakan, demokrasi itu sendiri sudah problem, apalagi demokrasi transaksional. “Yang berkuasa bukan lagi rakyat, tetapi pemilik modal,” cetusnya.
Untuk itu, ia menilai, suara mahasiswa saat ini seharusnya menggugat ke arah akar atau ideologis, yaitu demokrasi transaksional, termasuk terhadap demokrasi itu sendiri karena yang ada saat ini bukanlah kedaulatan rakyat. “Bahkan, [turut] mempersoalkan kedaulatan rakyat itu sendiri yang memang invalid sejak awal,” ungkapnya.
Memang, ia menekankan, sudah semestinya manusia tunduk kepada sesuatu yang superlatif atau yang lebih tinggi darinya. “Nah, di situlah peran Islam sangat besar ini hari dan dunia membutuhkannya,” tandasnya. [MNews/RA]
