Penulis: Muhammad Husain Abdullah
Muslimah News, TELAAH KITAB — Kepribadian Islam berbeda-beda dalam kekuatannya. Ketika seorang muslim menjadikan akidah Islam sebagai dasar bagi pemikiran dan kecenderungannya, kepribadiannya akan menjadi kepribadian Islam. Kepribadian ini dapat sangat cenderung (loba, rakus) terhadap pelaksanaan yang sunah selain yang fardu, menjauhi yang makruh serta haram, mengerjakan perkara-perkara mubah yang mendekatkan kepаda yang fardu dan sunah, serta berpaling dari mengerjakan perkara mubah yang bisa merekatkannya dengan yang haram dan makruh.
Apabila seseorang muslim mampu melaksanakan yang demikian, berarti kepribadiannya adalah kepribadian Islam yang khas dan luhur. Pemiliknya mampu menyelaraskan pemikiran dan kecenderungannya. Selanjutnya ia beraktivitas sesuai dengan pemahaman Islam.
Namun seorang muslim yang mencukupkan diri dengan melaksanakan perkara yang fardu, mubah, dan sebagian perkara sunah, serta tidak melaksanakan perkara yang haram dan sebagian yang makruh, berarti kepribadiannya adalah kepribadian Islam yang lebih lemah daripada kepribadian luhur terdahulu yang telah kami sebutkan.
Apabila seorang muslim mencukupkan mengerjakan perkara yang fardu, mubah, serta berpaling dari mengerjakan yang haram, tetapi ia melakukan yang makruh dan meninggalkan yang sunah, berarti kepribadiannya adalah kepribadian Islam yang lemah.
Di antara tiga kriteria di atas, berkembang kriteria lainnya yang tidak sedikit dari kepribadian-kepribadian Islam dipandang dari sudut kuat dan lemahnya. Seorang muslim terkadang mengerjakan yang haram atau meninggalkan yang fardu. Meskipun demikian, ia tetap berkepribadian Islam selama menjadikan akidah Islam sebagai dasar pemikiran dan kecenderungannya, yakni untuk pola pikir dan pola jiwanya.
Meskipun terdapat cacat-cacat pada tingkah lakunya, cacat tersebut tidak mengeluarkan seorang muslim dari kepribadian Islamnya. Terkadang ia lupa atau keliru dalam mengikat pemahaman dengan akidah Islamnya. Terkadang ia bodoh tentang kontradiksi antara kecenderungannya dengan akidah Islam. Kemudian, ia menghukumi realitas dengan hukum yang tidak islami dan cenderung melaksanakan aktivitas yang tidak ditetapkan syarak.
Sungguh, telah terdapat pada sebagian sahabat ra. cacat dalam sebagian tingkah laku. Dalam perang Hunain, banyak sekali sahabat yang lari meninggalkan Rasulullah saw. yang sedang menghadapi musuh bersama sekelompok kecil sahabat. Setelah kemenangan mereka pada tahun penaklukkan kota Makkah, sahabat Anshor bercerita bahwasanya Rasulullah saw. menemukan keluarganya dalam keadaan berprasangka bahwa Rasulullah saw. tidak mungkin bisa kembali kepada mereka di Madinah.
Pada perang Bani Mushthaliq, para sahabat saling memanggil sebagian mereka dengan sebagian yang lain untuk berperang. Sebabnya, mereka teringat kembali pemahaman-pemahaman mengakar yang masih ada pada diri mereka dari pemahaman jahiliahnya.
Ketika Hathib bin Abi Balta’ah mendengar bahwa Rasulullah saw. akan memerangi orang Quraisy di Makkah, ia mengirim surat kepada Quraisy tentang berita tersebut. Setelah wahyu mengungkap perilakunya, mereka datang membawa Hathib kepada Rasulullah saw.. Kemudian beliau bersabda kepada Hathib, “Hai Hathib, apakah gerangan yang membawamu berperilaku seperti ini?” Hathib menjawab, “Wahai Rasulullah, ingat, demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak pernah mengubah imanku dan tidak pula menggantinya. Akan tetapi sesungguhnya aku hanyalah laki-laki yang di Quraisy aku tidak memiliki orang tua dan tidak pula keluarga. Aku memiliki anak dan istri di antara orang-orang Quraisy maka aku menyuap mereka. Aku telah mengerjakan semuanya supaya mereka membalasnya dengan menjaga keluargaku.”
Umar bin Khaththab berkata, “Wahai Rasulullah, biarkan aku, niscaya akan kupenggal lehernya karena laki-laki ini benar-benar telah munafik.” Rasulullah saw. lalu bersabda, “Wahai Umar, bagaimana kamu mengerti? Sesungguhnya Allah telah melihat orang-orang yang ikut perang Badar, lalu berfirman, “Lakukanlah apa yang kalian kehendaki karena Aku benar-benar telah mengampuni kalian.”
Kemudian Allah Swt. menurunkan ayat tentang Hathib, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepada kalian. Mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kalian karena kalian beriman kepada Allah, Tuhan kalian. Jika kalian benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari rida-Ku, (janganlah kalian berbuat demikian). Kalian memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Siapa saja di antara kalian yang melakukannya, maka sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.”
“Jika mereka menangkap kalian, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagi kalian dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepada kalian dengan menyakiti kalian. Mereka ingin supaya kalian (kembali) kafir.“
“Karib kerabat dan anak-anak kalian tidak bermanfaat bagi kalian pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kalian dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.“
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari kekafiran kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja, kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.’ (Ibrahim berkata), ‘Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.'” (QS Mumtahanah: 1—4).
Hathib bin Balta’ah tetap muslim dan kepribadiannya juga kepribadian Islam. Hanya saja, ia benar-benar telah melaksanakan tajassus (spionase) terhadap kaum muslim dan ia berhak mendapat sanksinya. Ia pun sungguh tidak pernah mengingkari akidah islamiah. Ia tidak pula melepaskannya sebagai standar dasar dalam pemikiran dan kecenderungannya.
Semuanya ditunjukkan oleh jawabannya kepada Rasulullah saw., “Sesungguhnya aku benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak pernah mengubah iman itu dan tidak pula menggantinya.”
Namun, ia telah menampakkan tasharruf-nya yang berlawanan (menafikan) terhadap syarak untuk memelihara keluarganya di Mekkah. Dengan demikian pada tasharruf ini, ia tidak mengikatkan kecenderungannya dengan pemahaman Islam. Hanya saja, ia telah dihanyutkan oleh naluri seksual (gharizatun nau) untuk memelihara atau menjaga istri dan anak-anaknya.
Demikianlah, telah dihasilkan cacat dalam tingkah lakunya sebagai konsekuensi dari lepasnya kecenderungannya dari lingkaran akidah Islamiah. Ini karena ia tertarik oleh naluri seksual (gharizah nau).
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.

One thought on “[Mafahim Islamiyyah] Kepribadian (Bagian 5/9)”