[Kabar] UIY: Isra Mikraj, Peristiwa yang Sangat Dahsyat

[Kabar] UIY: Isra Mikraj, Peristiwa yang Sangat Dahsyat

Muslimah News, NASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyatakan, Isra dan Mikraj adalah peristiwa yang sangat dahsyat. “Jangan lagi untuk ukuran orang-orang pada masa itu, bagi kita masa sekarang, ini peristiwa yang luar biasa,” jelasnya dalam Fokus to The Point: “Rasionalitas Isra Mikraj” di kanal UIY Official, Kamis (30-1-2025).

Ia mengutarakan, jarak antara Masjidilharam dan Masjidilaqsa sekitar 1.500 km. “Jika ditempuh dengan kendaraan yang ada pada waktu, unta atau kuda, perlu waktu berminggu-minggu. Belum lagi naik ke Sidratulmuntaha, itu di mana allahu alam, kita tidak tahu,” urainya.

Namun, lanjutnya, ujung semesta yang bisa diamati jaraknya sekitar 27 miliar tahun cahaya dan itu pun hanya sebagian yang bisa diamati dengan teknologi paling canggih saat ini.“

Andai Sidratulmuntaha itu ada di ujung semesta, berapa kecepatan Nabi saw. dalam perjalanan Isra dan Mikraj? Nabi saw. menempuh pulang balik dari Masjidilharam di Mekkah ke Masjidilaqsa di Palestina, kemudian naik ke Sidratulmuntaha dan kembali lagi ke Mekkah dalam waktu kurang dari satu malam,” tuturnya.

Ia menjelaskan, Siti Aisyah mengatakan tidak merasa kehilangan Nabi saw. saat itu. “Seorang astronom muslim mencoba menghitung perjalanan Isra Mikraj dan didapat kecepatan Nabi saw. kurang lebih 1,8 juta kali kecepatan cahaya, padahal kecepatan cahaya sendiri sudah 300.000 km/detik,” ungkapnya.

Jadi, sambungnya, didapatlah kecepatan Nabi saw. sekitar 5,4 triliun km/detik sehingga sebagian kalangan menganggapnya tidak masuk akal.

“Hal itu yang diharapkan oleh orang-orang Quraisy ketika datang kepada Abu Bakar ra.. Mereka berharap Abu Bakar tidak percaya. Tapi dengan ringan, Abu Bakar berkata, ‘Aku percaya kepadanya, bahkan andai Muhammad saw. bercerita lebih daripada itu.’,” ujarnya.

Abu Bakar, terang UIY, mendasarkan peristiwa itu kepada sumber berita dan benar bahwa keimanan kepada persoalan akidah bukan kepada perkaranya, melainkan kepada sumbernya.

“Nabi saw. itu sudah proven, tidak pernah berdusta dan ini membuat keimanan Abu Bakar begitu kokohnya sampai dipuji Nabi saw… Ketika sekarang Nabi saw. tidak ada, maka kita mendasarkannya kepada dalil akidah,” paparnya.

Selain itu, ungkapnya, ini menunjukkan Maha Kuasanya Allah Taala. “Jangan lagi memperjalankan makhluk-Nya, bahkan Allah-lah yang menciptakan universe yang di dalamnya ada lebih dari 300 miliar galaksi. Ini besar sekali,” ucapnya.

Kekuasaan Allah

Oleh sebab itu, ia menekankan penting sekali keimanan kepada kekuasaan Allah Taala sehingga mesti memisahkan antara kekuatan manusia dengan kekuatan Allah Taala.

“Ketika kita bilang mustahil, tidak mungkin, dan sebagainya, itu kan bicara kekuatan kita. Tapi jangan lupa bahwa kita ini bukanlah makhluk yang punya kemampuan segala-galanya. Di belakang kita ada Allah Taala sehingga seorang muslim tidak boleh berhenti pada kekuatan dirinya,” ujarnya.

Jadi, ia menandaskan, untuk meraih cita-cita memperjuangkan agama ini, lupakan ketakmungkinan-ketakmungkinan dalam perspektif manusia. “Ini karena tidak mungkin menurut kita, sesungguhnya sangat mudah bagi Allah Taala,” tutupnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *