Muslimah News, FOKUS — Seluruh umat dunia yang memiliki hati nurani pasti mengutuk perilaku biadab Zion*s Yahudi yang telah membombardir warga Palestina. Kendatipun gencatan senjata antara Ham*s dan Zion*s Yahudi telah dideklarasikan, tetapi hingga hari ini penyerangan terhadap warga Palestina masih saja dilakukan. Hampir setiap hari pasti ada saja warga sipil Palestina yang terbunuh atau terluka akibat serangan militer Zion*s Yahudi.
Terbaru, 10 warga Palestina tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan udara entitas Yahudi itu di Kota Tammoun di Tepi Barat, pada Rabu malam (29-1-2025). Seperti biasa, Zion*s laknatullah’alaih itu berdalih dengan mengatakan bahwa serangan tersebut ditargetkan untuk sebuah sel “operator teror bersenjata” di Tepi Barat.
Oleh karena itu, wahai kaum muslim, perjuangan membebaskan Palestina belum berakhir karena sejatinya gencatan senjata hanyalah tipu daya. Jangan sampai berhenti menyuarakan pembebasan Palestina sebab itulah wujud nyata ukhuah atas dasar akidah Islam.
Perasaan yang Sama
Berkumpulnya sekitar 30 ribu umat di depan Kedubes AS pada Ahad (26-1-2025) adalah bukti pembelaan mereka terhadap kaum muslim Palestina. Perasaan mereka sama, yakni darahnya mendidih saat melihat sesama saudaranya dibantai oleh Zion*s. Palestina adalah bagian dari tubuh kaum muslim. Alhasil, saat dihinakan dengan serangan yang bertubi-tubi, kaum muslim lainnya seharusnya akan merasakan sakit yang sama.
Bukan hanya di Indonesia, di belahan lain pun aksi bela Palestina terus bergulir. Perasaan kaum muslim seluruh dunia sama terhadap apa yang terjadi pada Palestina. Mereka bersukacita saat Ham*s mampu meluluhlantakkan Zion*s Yahudi dengan operasi militer “Badai Al-Aqsha” pada 7 Oktober 2023 lalu. Mereka pun turut bersedih hati tatkala melihat warga sipil, terutama anak-anak dan para ibu, yang harus hidup berjuang di tengah gempuran rudal yang bisa datang kapan saja.
Lantas, mengapa persoalan Palestina tidak kunjung usai? Bagaimana bisa umat Islam yang jumlahnya 2 miliar ini tidak mampu melawan Zion*s Yahudi yang hanya 7 juta? Padahal, perasaan kaum muslim seluruhnya tentu sama, yakni sama-sama ingin Palestina terbebas dari penjajahan.
Letak Palestina yang bersebelahan darat dengan negeri-negeri muslim, Suriah, Lebanon, Yordania, dan Mesir, nyatanya tidak menghentikan genosida, padahal dahulu negeri-negeri tersebut bersatu dan dikenal dengan sebutan Negeri Syam, yakni negeri yang diberkahi.
Nabi saw. bersabda, “Ya Allah, berkatilah kami pada Negeri Syam. Di sanalah akan terjadi bencana dan fitnah, dan di sana akan muncul tanduk setan.” (HR Bukhari No. 979).
Ukhuah atas Dasar Akidah
Sungguh, kesamaan perasaan kaum muslim atas apa yang terjadi pada Palestina adalah bukti nyata akidah masih bersemayam dalam diri-diri umat Islam. Hanya saja, akidah umat hari ini telah kehilangan vitalitasnya sebagai pemersatu umat sehingga ukhuah islamiah yang sering kita verbalkan tidak mewujud di dalam kehidupan.
Buktinya adalah apa yang terjadi di Palestina hari ini. Kaum muslim tidak berkutik untuk menolong saudaranya sendiri. Seolah-olah kaum muslim tidak sanggup menghentikan kakinya yang terpotong lantaran tangannya terbelenggu. Kaum muslim hanya sanggup menangis dan menahan sakit saat menyaksikan kakinya terus dipotong-potong tanpa bisa berbuat apa-apa.
Sedangkan dalam hadis dikatakan, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR Muslim).
Oleh sebab itu, untuk mengembalikan vitalitas akidah sebagai pemersatu umat, kaum muslim harus melaksanakan perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya dalam menegakkan institusi pemersatu umat, yakni Khilafah. Khilafahlah yang akan menjadikan ikatan akidah sebagai pemersatu umat yang riil, bukan sekadar ucapan verbal.
Salah satu pengikut Mazhab Syafii yang terkemuka, Imam Zakaria an-Nawawi, mengatakan, “Para ulama telah bersepakat bahwa wajib atas kaum muslim mengangkat seorang khalifah. Kewajibannya adalah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan akal. Adapun apa yang dikatakan dari al-asham (al-mu’tazili) bahwa Khilafah ‘tidak wajib’, dan dari yang selainnya bahwa Khilafah wajib berdasarkan akal dan bukan karena syariat, semua pernyataan tersebut adalah batil.” (An-Nawawi, Syarah Shahîh Muslim, 6/291).
Khilafah Adalah Solusi bagi Palestina
Untuk mewujudkan ukhuah yang hakiki, kaum muslim harus memahami benar akar persoalan ini agar tidak termakan dengan solusi bulus yang ditawarkan Barat atau PBB seperti “solusi dua negara”. Kaum muslim akan satu suara memandang solusi Palestina hanyalah dengan jihad dan Khilafah.
Kaum muslim harus memahami bahwa akar persoalan Palestina adalah okupansi Zion*s Yahudi atas Palestina sehingga solusinya adalah mengusir mereka dari tanah Palestina. Ketakberdayaan kaum muslim saat ini karena kaum muslim tercerai-berai dengan sekat kebangsaan.
Atas nama nasionalisme, Presiden Mesir Abdul Fattah As-Sisi membatasi Pintu Rafah yang menjadi pintu keluar masuk satu-satunya dari dan ke luar Gaza. Hanya karena problem ekonomi, Mesir menolak pengungsi Palestina. Bahkan, dengan tegas ia mengatakan jika membuka Pintu Rafah dengan bebas, berarti Mesir sedang mencederai perjanjian damainya dengan entitas Yahudi yang sudah terbangun sejak 1979. Bukankah itu artinya Mesir dengan tegas berdiri di pihak entitas Yahudi? Astagfirullah!
Nasionalisme juga telah menyandera para pemimpin negeri muslim dan menjadikannya antek yang siap mengikuti perintah tuannya, AS. Mereka hanya terus membeo tanpa melakukan aksi nyata. Indonesia pun hanya berkoar-koar akan menurunkan tentaranya, tetapi hingga hari ini masih belum jua terlaksana lantaran menunggu komando PBB.
Wahai penguasa muslim, sungguh PBB tidak akan mungkin memberikan komando pada dunia untuk menyelamatkan Palestina sebab dari sejarahnya saja justru mendeklarasikan berdirinya negara Yahudi pada 1948. Artinya, PBB adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas pembantaian warga Palestina. Sementara itu, di balik PBB ada negara-negara adidaya Barat yang siap melakukan apa pun, termasuk genosida demi langgengnya hegemoni mereka.
Sungguh, hanya institusi Khilafah yang sanggup mengomandoi seluruh negeri-negeri muslim untuk mau bersatu berjihad melawan Zion*s di bawah bendera Islam. Inilah sebabnya Khilafah dikatakan akan mampu mengembalikan vitalitas akidah sebagai pemersatu sebab bisa mewujudkan ukhuah Islam dalam kehidupan.
Kekuatan Khilafah
Apabila kita menakar dari segi kekuatan, sesungguhnya potensi umat muslim sangat besar. Andai negeri-negeri muslim bersatu, niscaya entitas Yahudi mampu dikalahkan beserta dengan negara penyokongnya, yaitu AS.
Setidaknya ada tiga potensi yang sangat Barat takuti jika kaum muslim bersatu.
Pertama, potensi demografi dan militernya. Peradaban Barat yang tidak sesuai fitrah manusia menjadikan banyak negara Barat mengalami depopulasi akibat masifnya L8G7 dan fenomena “resesi s*ks”, misalnya. Sebaliknya, pertumbuhan populasi di negeri-negeri muslim naik pesat walau genosida terjadi di berbagai etnis muslim.
Menurut data World Population Review 2023, jumlah penganut Islam adalah yang terbesar kedua setelah umat Kristen, yaitu dua miliar lebih. Melihat data makin banyaknya muslim dan makin menurunnya populasi nonmuslim, banyak peneliti memprediksi pada 2050 jumlah muslim lebih banyak dari umat Kristen.
Andai saja satu persennya menjadi tentara, niscaya potensi militer kaum muslim akan sangat besar. Bayangkan, akan terdapat 20 juta tentara muslim yang siap melindungi seluruh bagian wilayah muslim. Persoalan Palestina pun bisa selesai sebab penduduk entitas Yahudi tidak sampai 10 juta orang per 2023.
Kedua, potensi geopolitiknya. Negeri-negeri muslim menempati Selat Giblatar, Terusan Suez, Selat Dardanella, dan Bosphorus. Semua itu menghubungkan jalur Laut Hitam ke Mediterania, Selat Hormuz di Teluk, dan Selat Malaka di Asia Tenggara. Jika negeri-negeri muslim bersatu, niscaya akan tercipta kekuatan besar yang mampu menyetir perdagangan dunia. Inilah yang Barat takuti.
Ketiga, potensi SDA, misalnya minyak bumi yang telah Allah Swt. anugerahkan kepada negeri-negeri muslim. Terbukti, embargo minyak Arab pada 1973 mampu meluluhlantakkan perekonomian AS. Sayangnya, hari ini, Arab Saudi dan negeri-negeri muslim lainnya malah menolak mengembargo minyak pada entitas Yahudi itu dengan alasan penyelesaian konflik dengan Palestina adalah melalui diskusi damai, bukan embargo. Sungguh pengkhianatan yang nyata.
Khatimah
“Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di mana pun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu.” (QS Al-Baqarah: 191).
Sesungguhnya, ayat di atas telah jelas memerintahkan kepada seluruh umat, termasuk penguasa, untuk mengusir entitas Yahudi dari tanah kaum muslim Palestina. Islam menjadikan pembelaan adalah satu kewajiban yang harus dipenuhi sesama muslim dan negeri muslim, apalagi ketika musuh bertindak di luar batas kemanusiaannya.
Inilah wujud ukhuah Islamiah yang hakiki. Kaum muslim dengan kekuatannya mampu menyelamatkan muslim Palestina dengan mengirimkan bantuan militer, yakni tentara lengkap dengan persenjataannya. Bantuan ini hanya bisa dilakukan oleh institusi Khilafah. Insyaallah, dengan jihad dan Khilafah, bumi Palestina akan terbebas dari penjajahan entitas Yahudi dan dunia akan dinaungi kehidupan yang mulia. [MNews/KR-GZ]
